Kesederhanaan Kampung Takpala di Pulau Alor NTT

oleh Rennata Heriatna

627
Kampung Takpala
Kehidupan sederhana di Kampung Takpala (Foto: bentangalamsemesta.wordpress.com)

1001indonesia.net – Kampung Takpala merupakan salah satu kampung tradisional di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Kesederhanaan serta adat warisan leluhur yang masih melekat kuat menjadikan kampung tradisional ini kerap dikunjungi wisatawan. Selain kehidupan adat tradisionalnya, kampung ini juga terkenal karena kerajinan tangannya.

Takpala sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu tak yang berarti pembatas, dan pala yang berarti kayu. Jadi, takpala dalam berarti kayu pembatas. Takpala juga kerap diartikan sebagai kayu pemukul.

Seperti umumnya kampung tradisional lain di Nusantara, Kampung Takpala berada di atas bukit. Meski begitu, kampung ini juga tidak jauh dari pesisir pantai yang berada di Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor.

Kampung Takpala dihuni oleh suku Abui atau Tuk Abui, suku terbesar di Alor. Karena perkampungan suku Abui terletak di atas bukit, mereka mendapat julukan Anak Gunung atau Gunung Besar. Penghuni Kampung Takpala tidak banyak. Hal ini dikarenakan banyak keturunan suku Abui yang tidak tinggal di kampung Takpala. Mereka tersebar di banyak tempat.

Kehidupan tradisional Anak Gunung yang masih mempertahankan kebudayaan asli ini menarik banyak wisatawan. Banyak orang penasaran dengan cara hidup mereka yang masih sangat tradisional, dan bagaimana mereka masih bisa bertahan dengan cara hidup seperti itu sampai sekarang, sementara daerah lainnya sudah berubah cara hidupnya karena datangnya pengaruh modern.

Penduduk Kampung Takpala sangat terkenal karena keahlian mereka dalam membuat rumah berlantai empat. Dari segi bentuk bangunan, mungkin rumah adat di Kampung Takpala yang berbentuk limas ini juga dimiliki oleh suku adat lain yang ada di Indonesia. Tapi jika dilihat dari segi fungsi, mungkin hanya suku Abui di Kampung Takpala yang membangun rumahnya dengan ragam fungsi.

Lantai pertama rumah difungsikan sebagai tempat rapat atau pertemuan-pertemuan lain. Lantai kedua digunakan sebagai dapur dan juga sebagai tempat beristirahat. Lantai tiga digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan makanan. Dan, lantai paling atas, lantai empat, digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang keperluan acara adat.

Mata pencaharian utama warga kampung adalah berkebun. Ketika siang hari, keadaan kampung sangat sepi karena hampir seluruh warga berada di kebun atau di hutan untuk mencari bahan makanan.

Makanan pokok warga Kampung Takpala adalah ubi kayu, ubi jalar, dan jagung yang mereka dapatkan baik dari kebun maupun hutan. Sementara beras mereka konsumsi sebagai makanan sampingan. Dalam mengonsumsi beras pun, mereka biasa mencampurkan ubi atau jagung.

Kampung Takpala mulai dikenal dunia saat seorang wisatawan asal Belanda datang dan mengabadikan setiap momen yang dia temui dalam bentuk foto untuk keperluan almanak dan kalender pada tahun 1973.

Siapa sangka foto-foto kehidupan masyarakat suku Abui di kampung Takpala mampu menarik minat wisatawan asal Eropa lainnya untuk datang. Mungkin sejak saat itulah masyarakat suku Abui di kampung tersebut mulai menjual hasil kerajinan tangan mereka sebagai cendera mata asli, dan membuat kampung mereka semakin terkenal.

Tidak terlalu sulit untuk dapat berkunjung ke kampung tradisional Takpala karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari ibu kota kabupaten Alor, Kalabahi. Jaraknya hanya 30 kilometer dahn hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit dengan kendaraan.

Ketika memasuki kampung, pengunjung akan disambut dengan tari Lego oleh warga kampung yang bermakna bahwa siapa saja yang masuk atau datang ke kampung Takpala menjadi saudara mereka semuanya.

Kampung Takpala di Alor, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu dari kampung tradisional yang masih setia mempertahankan kebudayaan asli. Dalam kesederhanaannya, mereka mampu menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Hidup menyatu dengan alam dan kesetiaan kepada ajaran nenek moyang seakan sudah menjadi gambaran tersendiri untuk kampung Takpala bagi banyak orang.

Suku Abui di kampung Takpala mengajarkan pada generasi muda bahwa Indonesia memiliki banyak kearifan lokal dengan nilai-nilai luhurnya. Menjadi tugas kita sekarang untuk menggalinya, meneguhkan kembali, dan mengembangkannya. Tugas ini hanya bisa kita lakukan jika kita mengakar pada kebudayaan kita sendiri. Tanpa itu, kita akan menjadi asing dengan negeri kita sendiri dan tidak tahu apa artinya menjadi “orang Indonesia”.

Sumber:

  • https://www.mobgenic.com/2012/10/10/kampung-tradisional-takpala-contoh-kesetiaan-terhadap-alam-dan-tradisi/
  • http://www.merdeka.com/gaya/menyentuh-langsung-tradisi-kampung-tradisional-kampung-takpala.html
  • kompas.com
  • https://m.tempo.co/read/news/2013/08/28/242508028/uniknya-kampung-tradisional-takpala-alor

LEAVE A REPLY

4 × one =