Kentrung Bate, Kekayaan Seni Pertunjukan Asal Tuban

198
kentrung bate
Foto: yusmawardi.wordpress.com

1001indonesia.net – Kentrung bate merupakan seni pertunjukan yang berasal dari desa Bate, Bangilan, Tuban. Kesenian bertutur yang sarat akan makna ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang ulama bernama Kiai Basiman pada 1930-an.

Awalnya, kentrung bate digunakan sebagai sebagai sarana dakwah Islam sekaligus untuk menyindir penjajah Belanda yang selalu bertindak sewenang-wenang.

Seiring waktu, kentrung bate berkembang menjadi hiburan rakyat. Hingga saat ini kesenian kentrung masih bertahan sebagai sarana hiburan warga Tuban dengan ciri khasnya. Meskipun keberadaannya semakin sulit untuk ditemukan.

Nama kentrung berasal dari gabungan kata ngre’ken yang berarti menghitung dan ngantung yang berarti berangan-angan. Secara harfiah, kata kentrung berarti mengatur atau menghitung jalannya peristiwa dengan berangan-angan.

Pertunjukan kentrung bate memiliki keunikan tersendiri, yakni dalangnya harus wanita. Pemainnya berjumlah dua sampai empat orang. Semua pemain berperan menjadi panjak (pemain musik), tetapi ada satu orang yang berperan ganda, yaitu sebagai panjak sekaligus dalang (pencerita).

Dalam pementasannya, pemain yang berperan sebagai dalang menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Humor segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala.

Dulu, pada era 1970-an, kesenian ini sangat populer di Tuban. Pertunjukan kentrung selalu ramai di pojok-pojok perempatan jalan, terutama dekat pasar dan saat malam pasaran (legi, paing, pon, wage, dan kliwon).

Sayang sekali, saat ini kentrung semakin sulit ditemukan. Salah satunya karena sedikitnya minat generasi muda untuk mempelajarinya. Kebanyakan para pelaku kesenian ini sudah lanjut usia.

Salah satu upaya penting yang dapat dilakukan untuk melestarikan kesenian ini adalah melalui pendokumentasian. Dokumentasi kentrung sangat penting mengingat semakin kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan kesenian ini.

Baca juga: Ludruk, Seni Pertunjukan Tradisional Khas Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 + 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.