Ludruk, Seni Pertunjukan Tradisional Khas Jawa Timur

1457
Pertunjukan Kesenian Ludruk Khas Jawa Timur
Penampilan Cak Kartolo dalam pementasan ludruk musikal Kartolo Mbabelo di Graha Bhakti, Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1-2/7/2011). (Foto: raibongsoku.blogspot.co.id)

1001indonesia.net – Ludruk merupakan seni pertunjukan tradisional khas Jawa Timur. Kisahnya yang mengangkat kehidupan keseharian dan pertunjukannya yang bersifat komedi membuat ludruk pernah menjadi kesenian yang sangat digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Seni pertunjukan tradisional ini memadukan seni gerak/tari, vokal (kidungan), komedi, dan drama.

Secara etimologis, ludruk berasal dari kata molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi yang hendak dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung dan dialog. Sedangkan gedrak-gedruk berarti menghentak-hentakkan kaki saat menari di pentas. Pendapat lain mengatakan bahwa ludruk berasal dari kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Gela-gelo berarti menggeleng-gelengkan kepala saat menari.

Tari remo menjadi pembukaan dalam pertunjukan ludruk. (Foto: hedgy.com)
Tari remo menjadi pembukaan dalam pertunjukan ludruk. (Foto: hedgy.com)

Pertunjukan ludruk dimulai oleh tari remo. Sebenarnya, tari remo merupakan tarian untuk menyambut tamu agung, dimainkan oleh satu atau beberapa orang. Tari remo yang menjadi pembukaan pertunjukan ludruk selalu dibawakan oleh satu orang penari.

Tidak ada pakem yang pasti dalam pertunjukan ini menyangkut jumlah pemain, jumlah babak, dan sebagainya. Begitu pula dengan cerita yang dibawakan. Biasanya, dalam pertunjukan ludruk sangat dipentingkan kemampuan para pemain untuk berimprovisasi dan mengembangkan jalan cerita yang sudah dibuat.

Ludruk berasal dari kesenian lerok di Jombang, yaitu tandak lanang macak wedok lerak-lerok yang berarti “penari laki-laki berdandan menor mirip perempuan”. Kesenian lerok dipertunjukkan keliling dari satu kampung ke kampung lainnya.

Nama lerok diganti menjadi besutan pada sekitar tahun 1920. Isitilah besutan berasal dari kata besut, dalam Bahasa Jawa berarti bebet sing duwe maksud atau pakaian yang memiliki arti. Besutan merupakan pertunjukan lawak mini yang dibawakan oleh 3 sampai 4 orang.

Pada masa itu, pertunjukan besutan tidak sekadar hiburan, tetapi juga simbol pergerakan kebangsaan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Kostum pemain besutan yang berupa baju merah dengan selendang putih yang dililitkan di bagian perut atau topi beludru merah dengan kemben putih merupakan simbol bendera merah putih.

Pada masa pendudukan Jepang, Cak Durasim memperkenalkan pertunjukan lawak yang mirip dengan besutan ke Surabaya, tepatnya di daerah Genteng Kali. Kesenian itu disebut dengan nama ludruk.

Cak Durasim dikenal sebagai tokoh yang berani mengeluarkan pantun yang menghebohkan, “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro(Bekupon rumahnya burung dara, dijajah Jepang semakin sengsara). Karena pantun ini, ia dilaporkan oleh seorang mata-mata Jepang. Cak Durasim kemudian ditangkap dan dipenjara di Genteng Kali hingga menemui ajalnya.

Sepeninggal Cak Durasim, para seniman ludruk terus bermunculan. Kesenian ini kemudian berkembang dan digemari masyarakat Jawa Timur. Muncul banyak kelompok ludruk. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1990-an. Munculnya stasiun televisi swasta yang banyak menawarkan hiburan modern membuat kesenian rakyat ini perlahan surut.

Saat ini, bahkan di tempat asalnya sendiri, kesenian tradisional ini nyaris hilang. Kelompok kesenian ludruk yang bertahan tinggal sedikit. Selera masyarakat yang lebih menyukai kesenian modern membuat pertunjukan ludruk sepi penonton. Ini membuat para pelaku seni ludruk mengalami kendala keuangan sehingga mereka memilih pekerjaan lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 4 =