Keberagaman di Indonesia, Keindahan dalam 1001 Perbedaan

1059

1001indonesia.net – Kebinekaan merupakan hakikat bangsa Indonesia. Negara Indonesia yang kita cintai ini terdiri atas beragam suku, bangsa, bahasa, dan agama. Adanya perbedaan harus dianggap sebagai berkah atau kekuatan. Sebab, dengan banyak perbedaan, negara ini mempunyai kekayaan pola pandang dan ide-ide pemikiran yang sangat berguna bagi kemajuan bangsa.

Sayangnya, akhir-akhir ini perbedaan itu telah dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk memecah belah masyarakat Indonesia. Pihak-pihak itu paham bahwa dalam masyarakat yang berbeda-beda, persatuan sangat rentan. Apalagi kondisi sosial ekonomi Indonesia belum terlalu baik dengan kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang masih menganga lebar. Mereka memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencapai tujuan politik dan kekuasaan.

Tentu, situasi ini dapat membahayakan keutuhan dan keberlanjutan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah dan juga siapa saja yang menyadari hal ini harus peduli terhadap keadaan yang kurang baik ini. Setiap orang harus kembali diingatkan bahwa keberagaman dan perbedaan adalah hal yang harus kita terima di negeri ini. Bahwa sejatinya masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan, dan kemampuan untuk menerima dan mengolah keberagamanlah yang membuat negeri ini ada dan bertahan sampai saat ini.

Banyak kisah di negeri ini tentang bagaimana masyarakat mampu menjaga hubungan yang harmonis dalam masyarakat yang bersifat heterogen. Di Lombok yang mayoritas penduduknya merupakan suku Sasak yang beragama Muslim, terdapat Pura Lingsar. Pura ini bukan hanya menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, tetapi juga tempat umat Muslim Sasak berdoa dan mengadakan berbagai upacara adat.

Pura Lingsar yang menjadi simbol kerukunan ini pun dirawat bersama-sama baik oleh umat Hindu maupun umat Muslim. Simbol toleransi itu juga dilambangkan dengan aturan tak tertulis, siapa saja yang datang ke tempat suci ini tak diperkenankan membawa sesaji dari babi dan sapi. Sebab, babi haram bagi umat Islam, dan sapi dianggap suci oleh umat Hindu.

Sejarah Masjid Istiqlal di DKI Jakarta pun merupakan kisah unik tentang bagaimana perbedaan agama tidak menjadi hambatan untuk berkarya. Arsitek masjid megah dan terbesar se-Asia Tenggara ini adalah Friedrich Silaban yang menganut Kristen Protestan. Bahkan ia adalah anak seorang pendeta. Dengan demikian, tempat ibadah umat Islam yang posisinya berdampingan dengan Gereja Katedral ini juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.

Di Jakarta bagian utara, ada Kelenteng Ancol. Kelenteng ini berkaitan dengan sejarah seorang penjelajah Tionghoa Muslim, yaitu Zeng He (Cheng Ho). Tempat ibadah ini pun merupakan simbol kerukunan karena menjadi tempat penziarahan untuk komunitas Buddha, Konfusian, maupun Islam. Pertemuan peradaban bertahun-tahun menghasilkan rasa hormat yang sama tinggi dari ketiga komunitas tersebut terhadap situs ini.

Dan, masih banyak simbol dan kisah-kisah lain tentang toleransi dan kerukunan di negeri ini. Kisah-kisah inilah yang perlu diangkat dan disebarluaskan kepada masyarakat agar semua mengerti bahwa sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran dan tidak pernah anti terhadap perbedaan.

Tindakan ini perlu dilakukan terutama saat negeri ini dirundung isu-isu perpecahan. Banyak sekali orang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi menyebarkan berita-berita bohong bernuansa kebencian dan diskriminasi demi kepentingan pribadi dan golongannya. Mereka harus dilawan dengan menyebarkan semangat toleransi dan kerukunan.

Masyarakat harus disadarkan bahwa perbedaanlah yang pada dasarnya membuat suatu bangsa semakin kuat dan berkembang. Perbedaanlah yang membuat hidup kita lebih berwarna. Kekayaan budaya bangsa Indonesia yang menimbulkan rasa iri dan kagum dari bangsa-bangsa lain adalah buktinya. Perkembangan peradaban di Nusantara tidak terlepas dari posisi geografisnya yang strategis yang membuatnya ramai dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain. Budaya Indonesia merupakan hasil olah-padu beragam budaya yang sebelumnya ada dengan dengan budaya yang datang dari luar.

Kemampuan bangsa Indonesia untuk mengolah apa yang dimilikinya dengan apa yang datang dari luar tanpa kehilangan jati diri adalah yang membuat bangsa ini mampu berjaya. Dan, kita sebagai bangsa akan kehilangan kemampuan ini jika kita tidak melawan berita-berita bernuansa kebencian yang mendorong orang untuk merasa benar sendiri dan berbuat kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap “lain”. Tentu ini akan membawa negeri kita pada sebuah kemunduran yang tidak kita inginkan.

Keragaman Indonesia adalah kekayaan dan keindahan yang harus kita syukuri. Di tanah air kita, berbagai budaya diterima lalu tumbuh dan berkembang dalam cita rasa yang khas Nusantara. Kita menerima dan mengolahnya menjadi lebih indah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − ten =