Friedrich Silaban, Arsitek Masjid Istiqlal

818
Friedrich Silaban (Foto: cdn.idntimes.com)
Friedrich Silaban (Foto: cdn.idntimes.com)

1001indonesia.net– Masjid Istiqlal yang dikerjakan mulai Agustus 1961 diresmikan Presiden Soeharto pada 1978 merupakan salah satu ikon Ibu Kota Jakarta.  Arsitektur masjid megah dan terbesar se-Asia Tenggara ini merupakan karya arsitek Indonesia Friedrich Silaban.

Menariknya, Friedrich Silaban adalah penganut Kristen Protestan. Bahkan dirinya adalah anak seorang pendeta. Dengan demikian, tempat ibadah umat Islam yang posisinya berdampingan dengan Gereja Katedral ini dapat menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.

Keterlibatan Friedrich Silaban dalam proses pembangunan masjid yang berlangsung selama 17 tahun ini berawal dari keikutsertaannya dalam sayembara membuat maket Masjid Istiqlal. Sayembara tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Masjid Istiqlal pada 1955 dan diikuti oleh 22 peserta. Presiden Sukarno sebagai ketua dewan juri sayembara tersebut mengumumkan bahwa rancangan Friedrich Silaban berjudul “Ketuhanan” menjadi pemenang.

Pria kelahiran Bonandolok, Sumatra Utara ini merupakan arsitek Indonesia yang cemerlang. Ia membuat banyak bangunan yang memukau. Di antara karyanya banyak yang menjadi bangunan penting dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia.

Di Jakarta, beberapa karyanya yang hingga kini masih bisa kita nikmati adalah Gedung Bank Indonesia di Jalan MH Tahmrin (1958), Gedung Pola di Jalan Proklamasi (1962), gedung Markas Besar TNI Angkatan Udara di Pancoran (1962), dan Gedung BNI 1946 di kawasan Kota (1960).

Gereja Katedral dengan latar kubah Masjid Istiqlal yang masih belum selesai dibangun. (Foto: Pat Hedranto/KOMPAS)
Gereja Katedral dengan latar kubah Masjid Istiqlal yang masih belum selesai dibangun. (Foto: Pat Hedranto/KOMPAS)

Friedrich Silaban lahir pada 16 Desember 1912 dan meninggal di Jakarta, 14 Mei 1984, dalam usia 71 tahun. Setelah lulus ujian HIS (Holland Inlandsche School) di Narumonda tahun 1927, Silaban belajar di Koninginlijke Wilhelmina School-Sekolah Teknik (KWS) Betawi. Saat baru duduk di kelas I, sang ayah, Jonas Silaban meninggal.

Berkat kepandaiannya, dia mendapat beasiswa dengan syarat harus tinggal dengan keluarga Belanda, keluarga Funck, di Petojo. Di kelas III, Silaban mulai menggambar dan membuat denah. Imbalan pertamanya 25 gulden. Pada 1931, ia lulus KWS dan membantu arsitek Antonisse. Pada 1937, dia bekerja di Pontianak. Ia kemudian menjadi kepala PU di Bogor.

Kariernya terus meningkat hingga ia menjabat sebagai Direktur Pekerjaan Umum dari tahun 1947 sampai 1965. Jabatan itu membawa dirinya berkeliling dunia. Dari perjalanannya, ia banyak belajar arsitektur di berbagai negara. Setidaknya 30 kota di dunia telah ia kunjungi. Ia bahkan pernah mengikuti pendidikan arsitektur secara formal di Belanda. Tepatnya pada 1949 hingga 1950, Silaban mengikuti kuliah tahun terakhir di Academie voor Bouwkunst atau akademi seni dan bangunan.

Dia menikahi Letty Kievits dan dikarunia 10 anak (8 laki-laki dan 2 perempuan). Keluarga Silaban tinggal di Bogor dan rumah pribadi yang juga hasil rancangannya itu pun menjadi salah satu kajian bagi sebagian mahasiswa arsitektur.

Dia juga menjadi arsitektur beberapa bangunan di Bogor, di antaranya Rumah Dinas Wali Kota Bogor (1935/1952), Kantor Dinas Perikanan Bogor (1951), Rumah A Lie Hong (1968), dan bangunan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor (1953).

Pada 1953, atas perintah Presiden Sukarno, Silaban yang bekerja sebagai Kepala Djawatan Pekerdjaan Umum (PU) Bogor menjadi arsitek pembangunan kembali makam pelukis Raden Saleh Sjarif Bustaman yang meninggal tahun 1880. Makam Raden Saleh terletak di Bondongan, Bogor.

Karya Silaban lainnya adalah Gelora Bung Karno. Awalnya, kompleks olahraga di daerah Senayan itu akan dibangun di kawasan Duku Atas. Persisnya di di lahan kiri-kanan jalan Sudirman. Untuk menghubungkan kedua sisi itu, akan dibangun terowongan. Gambar, denah, dan teknisi dari Rusia sudah siap di Jakarta untuk mengerjakannya.

Sebelum proyek itu dimulai, Bung Karno meminta pendapat Silaban pada sidang penentuan. Silaban tidak setuju dengan lokasinya karena akan mengganggu jalan utama yang menghubungkan kawasan Kebayoran dan daerah Kota. Pendapatnya didengarkan oleh Presiden Sukarno. Akhirnya, kompleks olahraga itu tidak jadi dibangun di Duku Atas, melainkan di perkampungan Senayan. Saat itu tahun 1959, tiga tahun menjelang Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV.

Friedrich Silaban menjadi arsitek yang kerap berdiskusi dengan Bung Karno, sampai disebut sebagai arsitek “kesayangan” Soekarno. Bagi Silaban, kehebatan dan keterampilan para arsitek Indonesia untuk menciptakan gambar yang elok tidak ada masalah. Menurut dia, syarat pertama arsitek yang baik adalah jujur dan berintegritas (Kompas, 23/10/1016).

Sumber:

  • http://nasional.kompas.com/read/2016/02/22/09450081/Kisah.Friedrich.Silaban.Anak.Pendeta.yang.Rancang.Masjid.Istiqlal?page=all
  • Kompas, Minggu 23 Oktober 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × two =