Karaeng Patingalloang, Cendekiawan dari Kerajaan Gowa

750

1001indonesia.net – Karaeng Patingalloang adalah seorang perdana menteri dan penasihat Sultan Muhammad Said (1639–1653) yang menjadi raja Gowa. Ia secara gigih mengumpulkan, mengelola, dan menuangkan ilmu pengetahuan dari segala bangsa. Sering disebut sebagai “manusia ensiklopedis” karena keluasan wawasannya.

Kepandaian istimewa lainnya yang ia miliki adalah mampu berwicara dalam berbagai bahasa, yaitu bahasa Latin, Spanyol, Portugis (selain tentu bahasa Bugis dan Arab). Karaeng Patingalloang penuh semangat berhubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Bola dunia terbesar di zamannya, bergaris-tengah 1,3 meter, buatan kartografer termasyhur, Joan Blaeu, menjadi pesanannya untuk terus menjadi wahana belajar. Bola ini tiba 7 tahun dari waktu dipesan. Joan Blaeu menggambar Karaeng Patinggaloang di titik ufuk timur dalam Atlas Novus yang dibuatnya. Para cendekiawan dan sastrawan besar Eropa, seperti Joost van den Vondel, menghadiahkan puisi pujian untuknya.

Dalam kebijaksanaannya, Karaeng Patingalloang merumuskan hal ihwal keruntuhan negara yang menurutnya disebabkan oleh:

  1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Manggauka (Apabila Kepala Negara/Pemerintahan tidak mau dinasehati);
  2. Punna taenamo tumangngasseng ri lalang Pa’rasangangnga (Apabila tidak ada lagi Cendekiawan/Intelektual di dalam negeri);
  3. Punna meajai gau lompo ri lalang Pa’rasanganga (Apabila sudah terlampau banyak kasus besar dalam negeri);
  4. Punna angngallengasengmi soso’ Pabbicarayya (Apabila banyak hakim dan pejabat negara/pemerintahan suka makan sogok);
  5. Punna taenamo nakamaseyangngi atanna Manggauka (Apabila Kepala Negara tidak lagi menyayangi rakyatnya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × five =