Jejak Homo Floresiensis di Gua Liang Bua

170
Gua Liang Bua, tempat ditemukannya Homo Floresiensis.
Gua Liang Bua, lokasi ditemukannya Homo floresiensis pada 2003. (Foto: cosmosmagazine.com)

1001indonesia.net – Pada 2003, ditemukan manusia pigmi Flores di Gua Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur. Manusia purba itu kemudian diberi nama ilmiah Homo floresiensis. Penemuan manusia purba yang dijuluki “The Hobbit” karena tubuhnya lebih kecil dari rata-rata manusia itu menjadi babak baru dalam upaya memahami sejarah purba Nusantara.

Sebenarnya penelitian di kawasan Gua Liang Bua sudah dimulai oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1978–1989. Penelitian yang dilakukan oleh Kepala Puslit Arkenas Prof. Dr. R.P Soejono ini sempat terhenti karena kesulitan dana.

Penelitian kemudian dilakukan kembali atas kerja sama dengan Universitas New England, Australia (2001–2004), Universitas Wollongong, Australia (2007–2009), dan Smithsonian Institution, Washington DC, USA mulai tahun 2010.

Pada 2003, para peneliti menemukan kerangka perempuan berumur 25 tahun dengan tinggi 106 cm yang kemudian dijuluki sebagai “The Hobbit” yang menghebohkan itu.

Semula, kerangka yang ditemukan pada kedalaman 593 cm dari permukaan tanah tersebut diperkirakan mengalami kepunahan sekitar 12.000 tahun lalu. Penelitian 2007–2014 menyimpulkan bahwa manusia pigmi Flores hidup pada masa 100.000 hingga 6.000 tahun lalu, dan punah pada sekitar 50.000 tahun lalu.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE tahun 2013 mengungkapkan bahwa manusia purba tersebut merupakan spesies baru. Manusia pigmi Flores yang secara ilmiah disebut Homo Floresiensis LB1 berbeda dengan manusia modern.

Homo floresiensis memiliki anatomi tubuh yang sangat unik. Ukuran tubuh dan kepalanya yang kerdil seukuran anak TK, meskipun riset terbaru menyatakan bahwa ukuran otaknya tak sekecil yang diduga.

Jejak pada manusia pigmi modern

Temuan kerangka Homo floresiensis telah menarik perhatian para ahli di dunia. Uniknya, di sekitar penemuan manusia purba tersebut, terdapat dusun bernama Rampasasa yang penduduknya bertubuh kerdil. Meskipun pendek, manusia pigmi Rampasasa memiliki proporsi tubuh yang normal. Jadi, mereka pendek bukan disebabkan karena suatu sindrom tertentu.

Kedua hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: Apakah Homo floresiensis memiliki hubungan genetik dengan manusia pigmi Rampasasa?

Keterkaitan populasi Rampasasa dengan Homo Floresiensis.
Satu keluarga di Rampasasa Flores difoto di depan rumah adat (rumah gendang) di Dusun Rampasasa, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Manggarai, NTT pada 26 Februari 2015. Tubuh pigmi yang mereka miliki menimbulkan pertanyaan apakah mereka memiliki keterkaitan dengan Homo floresiensis. (Foto: TEMPO/Dhemas Reviyanto)

Seperti yang dilansir Kompas (7/8/2018), untuk menjawab masalah di atas, dilakukan studi ulang oleh sejumlah peneliti dari 11 institusi berbeda dari enam negara. Ada dua peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset ini, yaitu Gludhug A Purnomo dan Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Mereka melakukan perunutan DNA dan menganalisis genom 32 orang pimi dari Dusun Rampasasa, Desa Wai Mulu, Kecamatan Wai Rii, Kabupaten Manggarai. Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan di majalah Science 3 Agustus 2018 dengan judul “Evolutionary History and Adaptation of a Human Pygmy Population of Flores Island, Indonesia”.

Menurut penelitian tersebut, terdapat jejak pembauran Homo neanderthal dan manusia Denisovans pada genom manusia kerdil Rampasasa. Namun, selain jejak dua manusia purba itu, tidak ditemukan lagi jejak manusia purba lain pada populasi Rampasasa. Dengan kata lain, tidak ada jejak Homo floresiensis pada genom manusia pigmi Rampasasa.

Ini berarti, populasi Rampasasa tidak berbeda dengan populasi lain di Indonesia maupun dunia. Secara genetika, populasi Rampasasa memiliki kedekatan dengan kelompok Asia Timur dan Asia Tenggara dibanding dengan Melanesia dan Nugini.

Selain tidak ditemukannya jejak Homo floresiensis pada manusia pigmi modern, penelitian ini juga mengungkapkan penyebab orang-orang di Rampasasa bertubuh kerdil. Menurut penelitian ini, yang menjadikan mereka berperawakan pendek adalah proses seleksi dan adaptasi manusia modern di sekitar Gua Liang Bua. Jadi bukan karena faktor genetik.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Universitas New England mengungkapkan, tinggi badan Homo floresiensis LB1 lebih rendah daripada manusia kerdil modern. Penelitian yang telah dimuat di majalah Nature tahun 2004 itu memperkirakan, tinggi manusia pigmi Flores hanya 106 sentimeter. Sedangkan tinggi rata-rata manusia pigmi yang sekarang hidup di Rampasasa sekitar 148 cm.

Para peneliti kemudian menganalisis genom populasi Rampasasa dikaitkan dengan gen yang terkait dengan tinggi badan yang diidentifikasi pada orang Eropa. Hasilnya, ditemukan frekuensi varian genetik yang tinggi yang berasosiasi dengan penurunan tinggi badan.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah bahwa evolusi orang pigmi Flores merupakan hasil proses seleksi alam yang berpengaruh pada variasi genetik yang ada sebelumnya. Jadi bukan karena adanya keterkaitan dengan gen Homo floresiensis.

Proses mengecilnya ukuran tubuh pada mamalia besar yang terisolasi di pulau-pulau merupakan suatu fenomena yang umum. Mamalia perlu beradaptasi dengan lingkungan. Saat pasokan makanan terbatas, tubuh mereka mengecil secara perlahan agar asupan makanan yang dibutuhkannya dapat disesuaikan.

Karena penelusuran genetika Homo floresiensis pada manusia modern tidak menemukan hasil, maka sampai saat ini asal-usul manusia Flores masih menjadi misteri. Sebab itu, upaya penelusuran harus dilakukan pada kerangka yang ditemukan di Liang Bua. Secara teknologi hal itu bisa dilakukan.

Namun pada daerah tropis seperti di Indonesia, proses pengurutan DNA lebih sulit dilakukan karena pengaruh iklim dan kelembaban. Perubahan suhu satu derajat saja akan memiliki dampak yang signifikan. Sebab itu, meskipun kerangka manusia purba telah ditemukan, tidak mudah bagi peneliti untuk memperoleh DNA dari kerangka tersebut.

Baca juga: Situs Liyangan, Jejak Purbakala di Lereng Gunung Sindoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × two =