Gedong Bagoes Oka, Tokoh Perdamaian dan Kerukunan Antaragama

875
Ashram Gandhi Candidasa yang didirikan oleh Gedong Bagoes Oka.
Pemandangan dari sisi danau Ashram Gandhi Candidasa yang didirikan oleh Gedong Bagoes Oka. (Foto: ashramgandhi.wordpress.com)

1001indonesia.net – Ni Wayan Gedong atau yang lebih dikenal dengan Ibu Gedong Bagoes Oka dikenang sebagai tokoh cendekiawan dan spiritual Hindu yang memperjuangkan nilai kemanusiaan melalui gerakan antikekerasan. Beliau adalah seorang aktivis lintas agama yang percaya bahwa perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak menghormati kemanusiaan.

Ibu gedong bagoes Oka lahir di Karangasem, Bali, pada 3 Oktober 1921, sebagai putri dari pasangan I Komang Layang dan Ni Komang Pupuh. Ayahnya yang bekerja sebagai Sekretaris Karangasemraad (pengadilan adat zaman pendudukan Hindia Belanda) adalah penganut agama Hindu Bali yang berpikiran terbuka. Ia memberikan kebebasan pada Gedong untuk menempuh cita-citanya.

Gedong, seorang perempuan, diizinkan jauh dari keluarga untuk menempuh pendidikan. Sebuah sikap yang tidak umum saat itu. Di kemudian hari, Gedong Bagoes Oka menjadi salah satu wanita Bali pertama yang menempuh pendidikan tinggi.

Gedong Bagoes Oka kecil memulai pendidikannya pada usia 6 tahun di sekolah dasar Hollandsch Inlandsch School/HIS (sekolah dasar kolonial Belanda untuk pribumi). Ia kemudian dikirim ke Jawa untuk bersekolah di Algemene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta.

Selama tinggal di Yogyakarta, Ibu Gedong tinggal bersama keluarga Prof. J.H. Bavinck, seorang pendeta, teolog, dan misionaris Belanda yang saat itu menjadi dosen di Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana”.

Menyerap Nilai-nilai Kekristenan

Lingkungan baru yang dimasukinya mengenalkannya pada nilai-nilai etis dan kerohanian Kristen. Nilai-nilai ini memperkaya dan turut mengembangkan dimensi spritualitasnya. Gedong Bagoes Oka kemudian semakin dalam mempelajari nilai-nilai kekristenan ketika melanjutkan studinya ke sekolah keguruan di Christelijke Paedagogische Algemene School di Batavia.

Prangko Indonesia bergambar Ibu Gedong Bagoes Oka. (Foto: wikipedia)
Prangko Indonesia bergambar Ibu Gedong Bagoes Oka. (Foto: wikipedia)

Namun, meski banyak bersentuhan dengan pemahaman kekristenan, Ibu Gedong tetaplah seorang Hindu yang memegang teguh tradisinya. Di sisi lain, nilai-nilai keristenan yang diterimanya membuat dirinya banyak memikirkan kembali nilai-nilai spiritual, adat, dan sistem sosial yang diwariskan oleh masyarakat feodal di Bali.

Gedong Bagoes Oka memiliki kesamaan dengan Gandhi, yaitu sama-sama berasal dari tradisi Hindu yang akrab dengan nilai-nilai kekristenan. Kesamaan inilah yang mungkin membuat ia dekat dengan pemikiran Gandhi. Ia pun mengikuti pemikiran Gandhi dengan memegang teguh jalan Ahimsa (antikekerasan) dan Satyagraha (kekuatan kebenaran) semasa hidupnya.

Sebagai orang Hindu, Ibu Gedong melatih kedisiplinan rohani secara ketat. Setiap pagi, sekitar pukul 04.30, ia melakukan puja dan doa. Ia yakin, kegiatan ini membawa dampak yang baik bagi dirinya dan juga lingkungan sekitarnya. Bersamaan dengan itu, ia pun secara aktif membela orang-orang yang tertindas baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.

Ibu Gedong kemudian melanjutkan pendidikannya di Bogor sambil sesekali mengajar. Pada 1941, Ibu Gedong kembali ke Bali untuk mengajar di sebuah sekolah lanjutan atas di Singaraja. Di sana, ia kemudian menjadi kepala sekolah.

Menyebarkan Ajaran Gandhi

Semasa perjuangan kemerdekaan, Gedong Bagoes Oka memainkan peran spiritual yang cukup penting. Bersama I Gusti Bagoes Oka, suaminya, yang sangat mendukungnya, dia memantapkan garis perjuangannya dalam Hindu melalui ajaran Mahatma Gandhi.

Setelah lulus Sarjana Muda di Universitas Udayana, Denpasar, pada 1964, Ibu Gedong mengajar bahasa Inggris di almamaternya (1965-1972). Selama periode itu, Ibu Gedong mulai memfokuskan diri pada kegiatan spiritual. Pada 1970, beliau mendirikan Yayasan Bali Santi Sena (The Balinese Peace Front) pada 1970.

Ibu Gedong kemudian menerjemahkan biografi Mahatma Gandhi ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 1975. Setahun kemudian, dia mendirikan Ashram Gandhi di Desa Candidasa, di pantai timur Bali, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelola ashram itu.

Ashram yang dikelola Ibu Gedong menyediakan pendidikan untuk anak yatim dan anak dari keluarga tak mampu. Selain masyarakat lokal, ashram juga menjadi tempat bagi orang asing dari segala umur dan latar belakang agama guna memperdalam keyakinan religiusnya dalam suasana meditatif.

Kegiatan sehari-hari di ashram di antaranya doa bersama, yoga, meditasi, dan bentuk yang lebih sederhana dari ritual api suci dalam kitab suci Weda, Agnihotra. Murid-murid di ashram juga mendapat kesempatan untuk mempelajari literatur suci di perpustakaan ashram itu.

Tak hanya itu, juga terdapat kegiatan pertukangan, menganyam, mengobati, menjahit, pertanian, dan kebudayaan di ashram ini. Dengan semangat svadeshi, Ibu Gedong juga terlibat dalam berbagai proyek kerja yang bertujuan untuk membangkitkan pertanian bersama masyarakat setempat.

Tokoh Pembaruan

Dari hasil perenungannya, Ibu Gedong sampai pada kesimpulan bahwa agama Hindu di Bali sangat terpengaruh oleh budaya Bali yang penuh dengan kompleksitas sistem ritual dan ketatnya sistem kasta. Beliau ingin memperbaiki hal ini. Oleh sebab itu, Ibu Gedong melakukan pembaruan dengan mengajarkan Hindu yang reformatif, demokratis, dan toleran.

Hindu, menurut Ibu Gedong, adalah agama yang abadi dan universal (sananta dharma), terutama karena berdasarkan pada kitab Weda dan Vedanta. Juga, karena nilai-nilai kehinduan sebenarnya juga terdapat dalam kitab Injil atau Al-Qur’an.

Ibu Gedong dengan tak kenal lelah meyakinkan masyarakat untuk mengamalkan Hindu yang lebih menekankan nilai religius dan spiritual, dan jangan terlalu terbelit oleh persoalan ritual yang njelimet. Meski demikian, beliau tidak pernah mengecam tradisi Hindu Bali, seperti yang dilakukan banyak pemikir muda Hindu lainnya.

Selain mengelola Ashram Gandhi Candidasa, Ibu Gedong masih meluangkan waktunya untuk sesekali mengajar Bahasa Inggris di Universitas Udayana. Ia juga memberi kuliah mengenai spiritual Hindu dalam berbagai forum, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Secara reguler, ia datang ke India atas undangan Gandhi Peace Foundation.

Pada 1994, dia menerima penghargaan ‘International Bajaj Award’ dari the Bajaj Foundation di Bombay atas usahanya yang tak kenal lelah menyebarkan ajaran Mahatma Gandhi. Pada 1996, Ibu Gedong mendirikan Ashram Bali Gandhi Vidyapith di Denpasar, sebuah ashram yang khusus mendidik mahasiswa di universitas lokal tentang pemikiran Gandhi.

Belakangan, Ibu Gedong juga mendirikan ashram serupa di Yogyakarta. Tidak hanya orang Hindu yang datang ke ashram tersebut, tapi juga umat Muslim dan Kristen.

Pejuang Kemanusiaan dan Emansipasi Wanita

Ibu Gedong dikenal selalu memperjuangkan harmoni dan kerukunan antar-umat beragama. Dia berhasil membangun hubungan konstruktif berdasarkan pikiran terbuka dengan berbagai tokoh dari berbagai agama, di antaranya Gus Dur, Romo Mangunwijaya, Dr. Th. Sumartana, dan Dr. Eka Darmaputera.

Bersama mereka, ia memperjuangkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Baginya, perbedaan agama seharusnya menjadi sumber konflik karena inti dari setiap agama yang sebenarnya adalah berbuat baik. Maka, jika orang benar-benar meyakini dan menjalankan agamanya dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi pejuang kemanusiaan yang sebenarnya.

Sebagai salah satu perempuan Bali pertama yang berkesempatan memperoleh pendidikan tinggi, Ibu Gedong juga berperan aktif dalam gerakan emansipasi kaum perempuan di Bali. Untuk itu, beliau mendirikan Yayasan Kosala Wanita dan Yayasan Kesejahteraan Perempuan yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan fasilitas kesehatan untuk perempuan.

Ibu Gedong Bagoes Oka pergi untuk selama-lamanya pada 14 November 2002. Beliau dikenang sebagai tokoh pembaruan Hindu dan aktivis lintas agama yang aktif memperjuangkan perdamaian dan kerukunan antar-umat agama.

Sumber:

  • http://tempo.co.id/hg/jakarta/2002/11/14/brk,20021114-37,id.html
  • Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan, Jakarta: Mizan 2014.

LEAVE A REPLY

five × five =