Hadrah, Kesenian Rebana Terbangan

oleh Siti Muniroh

397
Hadrah, Kesenian Rebana Terbangan
Foto: timesindonesia.co.id

1001indonesia.net – Hadrah berasal dari bahasa Arab, yakni hadlaro-yahdluru-hadlran (hadlratan), yang memiliki arti hadir atau kehadiran. Pendapat lain mengatakan bahwa istilah ini diambil dari nama sebuah wilayah yang bernama Hadramaut. Ada juga yang mengatakan kalau Hadrah berasal dari negeri Parsi.

Kesenian Hadrah dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian dalam Islam yang diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian (bahkan ada yang mengatakannya sebagai dzikir) terhadap Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang berpendapat bahwa kesenian ini adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan, contohnya ketika orang-orang Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Hadrah dikenal juga sebagai media khotbah, wirid, dan pembacaan Qur’an.

Kesenian ini memang dipakai oleh kaum Anshar untuk menyambut kedatangan Nabi setelah hijrah dari Makkah. Syair yang dilantunkan adalah shalawat “Thala’al Badru” sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas kehadiran Nabi. Namun di kala itu, alat musik yang dipakai masih sederhana. Dalam perkembangannya, kesenian ini memiliki alat musik dominan, yakni tamborin. Juga ada gendang yang dipukul oleh lima orang atau lebih, satu orang penyanyi, dan delapan orang penari atau lebih.

Biasanya, kesenian ini dimainkan oleh para sufi. Ini adalah imbas dari orang yang pertama kali memperkenalkannya, yakni seorang tokoh tasawuf yang bernama Jalaludin Rumi Muhammad Bin Muhammad Al-Balkhi Al-Qunuwi. Ia juga seorang penyair yang karya-karyanya banyak diperbincangkan oleh para sarjana dan pakar, baik Timur maupun Barat. Karya-karyanya adalah Diwan al-Syams Tabrizi, Matsnawi, Ruba’iyyat, Fihi ma Fihi, dan Majalis al-Sab’ah.

Di Indonesia, kesenian hadrah ini menjadi bagian dari masyarakat  terutama di kalangan pesantren. Seni ini diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia sekitar abad ke-13 H oleh seorang ulama besar dari negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi (1259-1333H/1839-1931 M). Awal mula ia datang ke Indonesia adalah untuk dakwah Islam. Dalam dakwahnya ini, ia iringkan pula suatu kesenian Arab berupa pembacaan shalawat yang diiringi rebana. Kesenian ini kemudian dikenal dengan Seni Hadrah. Ia mengembangkannya melalui pendirian sebuah majelis shalawat sebagai sarana mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW.

Para Wali Songo kemudian mengembangkan seni ini dalam dakwahnya. Tiap diadakan perayaan Maulid Nabi, kesenian ini turut pula diperdengarkan di serambi Masjid Demak. Lama-kelamaan, kesenian ini dipakai pula untuk mengiringi acara-acara lainnya, seperti pernikahan, khitanan, haul, majelis taklim, bahkan menjadi sebuah kegiatan ekstrakurikuler baik di sekolah ataupun di pesantren.

Jenis-Jenis Hadrah

Beberapa jenis Hadrah yang populer di Indonesia berdasarkan ketukan pada rebana sebagai berikut:

  1. Hadrah al-Banjari

Jenis pukulan Hadrah ini sangat pelan dalam ketukan. Hal ini terdengar pada ketukan pembukaan dalam suatu lagu atau syair yang dilantunkan.

  1. Hadrah Pekalongan/Dema’an

Pada jenis ini, ketukan terdengar lebih cepat jika dibandingkan dengan ketukan Hadrah al-Banjari, akan tetapi ketukan ini tidak secepat Hadrah Habsyi. Inilah jenis yang sering digunakan dalam perlombaan di kalangan grup Hadrah di Indonesia.

  1. Hadrah Habsyi

Pukulan yang terdapat dalam Hadrah Habsyi ini terdengar cepat, dikarenakan adanya ritme di dalam lagu-lagu yang diiringinya berirama cepat. Jenis ini umum digunakan di dalam majelis-majelis Maulid Nabi.

Hadrah di Malaysia

Di negeri ini, kesenian Hadrah mempunyai cerita asal mula yang berbeda. Konon, terdapat beberapa orang yang tersesat di hutan. Mereka lalu menyanyi dan memperdengarkan bunyi-bunyi supaya suaranya bisa didengar orang. Sumber lain di negara ini mengatakan bahwa permainan Hadrah mulai muncul di Perlis dan bermula pada 1910.

Jumlah pemain kesenian ini biasanya terdiri dari 10 hingga 13 orang. Lagu yang didendangkan ialah Selamat Datang (Thala’al Badru), Ampun Tuanku, Ayuhai Lakampare, Khadami, Yas Sare, Fatimah Eto, dan Perpaduan. Isi lagu-lagu Hadrah ini bercampur-campur temanya. Alat musik lain yang mengiringinya adalah gendang, gong, dan biola. Kesenian ini dipertunjukkan pada acara-acara ritual keagamaan. Namun pada perkembangannya, juga dimainkan di acara-acara lainnya.

Kostum yang dikenakan pemain laki-laki adalah pakaian Melayu bagi lelaki. Untuk pemain perempuan mengenakan baju kebaya, baju kurung, bandung pesak, dan berselendang.

Tarian 

Di Malaysia ini pun, gerakan indah Hadrah mulai diperkenalkan sekitar tahun 1910 di Pulau Pinang. Dalam perkembangannya, tarian ini menjadi amat populer di tahun 1950-an dan 1960-an, terutama bagi penduduk di Utara Semenanjung Malaysia, seperti Perlis, Kedah, Perak, dan Pulau Pinang.

Di selatan Semenanjung Malaysia, Hadrah ini lebih dikenali sebagai Kompan’, sementara di Pantai Timur negeri ini, lebih dikenali sebagai Rebana Kencang. Para penari berjumlah 15 sampai 30 orang. Mereka ini muncul lebih dulu sambil menyanyi, menari, dan memukul Kompang. Terdapat dua orang lelaki dewasa tetapi berpakaian perempuan yang kemudian menyanyi dan menari di pertengahan pertunjukan ini.

Di Indonesia sendiri, tarian Hadrah ini telah begitu populer. Gerakan indah ini adalah dinamika gerakan Rebana Terbangan. Di tahun 1990, beberapa kareografer dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo melakukan penggabungan tarian Hadrah yang dinamis. Kolaborasi ini diiringi musik Terbang Jidor.

Hadrah kini banyak dimainkan tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga di Brunei Darussalam. Musik dan tarian ini lantas telah amat tercampur oleh Budaya Melayu.

Instrumennya pun menjadi lebih beragam. Didominasi tamborin, hadrah terkadang dilengkapi dengan ketipung tom-tom, kecapi, dan suling. Lagu-lagunya, bila dalam bahasa Arab, dinyanyikan secara ritmis.

Mendengarkan irama seperti ini beserta syair-syairnya dipercaya bisa lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Bahkan ada beberapa orang meyakini bahwa kesenian ini dapat menyembuhkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke.

Musik dan tarian ini pun sudah berkembang tidak melulu untuk media dakwah, tetapi juga untuk hiburan komersial.

Saat ini di Indonesia, terdapat beberapa komunitas seni Hadrah, di antaranya adalah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), salah satu badan otonom yang berada di bawah naungan NU. ISHARI disahkan pada 1959 M. Pengorganisasian dan nama ISHARI ini diusulkan oleh KH. Wahab Chasbullah.

LEAVE A REPLY

4 × five =