I Gusti Ngurah Rai, Pahlawan Nasional yang Gugur dalam Perang Puputan

72
Foto: biografiku.com

1001indonesia.net – Nama kapal perang baru yang dikukuhkan Panglima TNI Hadi Tjahyanto di Bali pada Rabu (10/1/2017) diambil dari nama pahlawan I Gusti Ngurah Rai. Upacara pengukuhan tersebut berlangsung secara militer dan kemudian dilanjutkan dengan upacara menurut adat Hindu-Bali.

Dalam sambutannya, Tjahyanto mengungkapkan nama I Gusti Ngurah Rai dipilih untuk membangkitkan nasionalisme prajurit Indonesia. I Gusti Ngurah Rai merupakan pahlawan nasional yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pahlawan nasional itu gugur dalam perang menghadapi tentara Belanda pada 20 November 1946. Pertempuran itu dikenal dengan perang puputan atau perang habis-habisan. Saat ini, juga sering disebut sebagai perang puputan Margarana karena peristiwa tersebut terjadi di Desa Marga, sebuah desa ibu kota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali.

I Gusti Ngurah Rai lahir di Carang Sari, Badung, pada 30 Januari 1917. Ayahnya, I Gusti Ngurah Palung, merupakan manca atau camat Petang. Sejak kecil ia sudah tertarik dengan dunia militer.

Ngurah Rai bergabung dengan HIS Denpasar. Ia lalu melanjutkan ke MULO di Malang. Tamat MULO, ia kemudian bergabung dengan sekolah kader militer, Prayodha Bali, Gianyar.

Pada 1940, Ngurah Rai dilantik sebagai Letnan II. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) di Magelang dan Pendidikan Artileri di Malang.

Saat Jepang menduduki Indonesia, Ngurah Rai sempat menjadi intel Sekutu di daerah Bali dan Lombok. Setelah kabar Indonesia merdeka pada 1945 sampai di Bali, BKR yang dikomandani Ngurah Rai berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil.

Sebagai komandan TKR Sunda Kecil, Ngurah Rai merasa perlu untuk melakukan konsolidasi dengan pimpinan TKR pusat yang saat itu bermarkas di Yogyakarta. Di Yogyakarta, Ngurah Rai dilantik menjadi komandan resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.

Perang Puputan

Kembali dari Yogyakarta, Ngurah Rai mendapati bahwa Belanda telah menduduki Bali dengan memengaruhi raja-raja Bali. Ngurah Rai berserta pasukannya, Ciung Wanara, kemudian terlibat pertempuran dengan tentara Belanda.

Pertempuran tersebut sebenarnya dilatarbelakangi oleh kekecewaan Ngurah Rai atas hasil dari perjanjian Linggarjati antara Belanda dan pemerintah Indonesia. Dalam perjanjian tersebut, pemerintah Belanda mengakui kekuasaan Indonesia yang meliputi pulau Jawa, Madura dan Sumatra. Sedangkan Bali diakui menjadi bagian dari negara Indonesia timur bikinan Belanda.

Ngurah Rai gugur dalam sebuah pertempuran di Tabanan, Bali, pada 20 November 1946. Ngurah Rai dimakamkan di Candi Marga Tabanan Bali.

Atas jasa-jasanya, Pemerintah RI memberikan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 63/TK/1975 pada 9 Agustus 1975. Ia juga dianugerahi Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brgijen TNI (Anumerta).

Namanya diabadikan menjadi nama bandara udara Bali, Bandara Ngurah Rai. Gambarnya juga bisa kita lihat pada mata uang Rp50.000 cetakan 2006.

KRI I Gusti Ngurah Rai

KRI I Gusti Ngurah Rai-332 yang dikukuhkan Panglima TNI pada 10 Januari 2017 ini sejatinya merupakan kapal perusak Kawal Rudal 10514. Kapal ini merupakan produksi Damen Schelde Naval Ship Building asal Belanda bekerja sama dengan PT PAL melalui alih teknologi.

Kapal perang itu merupakan satu dari 4 kapal jenis serupa yang memperkuat TNI AL, dan tergabung dalam satuan kapal eskorta. KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merupakan kapal kedua dari 4 kapal yang dipesan TNI AL berdasarkan renstra kedua 2014-2019.

KRI I Gusti Ngurah Rai mampu bertahan, baik dalam serangan antarpermukaan, permukaan-udara, maupun permukaan-bawah laut. Keunggulan lain yang dimiliki adalah mode siluman atau stealth. Mode tersebut berfungsi agar kapal tidak mudah terdeteksi musuh.

Senjata utama yang dimiliki KRI I Gusti Ngurah Rai meriam Oto Melara 76/62 mm super-rapid gun serta rudal SSM Exocet MM40 Block 3 yang memiliki jangkauan hingga 200 km. Persenjataan lainnya adalah rudal SAM anti-serangan udara Mica yang dirancang untuk dapat beroperasi dalam waktu singkat.

Kapal perang berukuran panjang 105,11  meter dan lebar 14,02 meter dengan bobot 3.216 ton ini juga memiliki sistem persenjataan sekunder, yakni torpedo AKS A-244S yang digunakan untuk mengincar sasaran di perairan laut dangkal.

Juga ada meriam close in weapon system yang disematkan dengan Millennium Gun 35 mm.  Senjata tersebut berfungsi untuk menangkis serangan udara dan ancaman dari permukaan dalam jarak dekat.

KRI I Gusti Ngurah Rai-332 memiliki kapasitas 120 kru. Mampu mengarungi laut dengan kecepatan hingga 28 knot.

LEAVE A REPLY

4 + eight =