Gugur Gunung dan Sambatan, Tradisi Gotong Royong pada Masyarakat Jawa

47
Sambatan
Sambatan menjadi wujud dari sikap tolong-menolong dan gotong royong pada masyarakat Jawa pedesaan. (Foto: kabarhandayani.com)

1001indonesia.net – Nilai gotong royong melekat kuat dalam masyarakat Indonesia, terutama pada masyarakat di pedesaan. Di Jawa, beberapa tradisi gotong royong masih lestari, di antaranya gugur gunung dan sambatan.

Gugur gunung merupakan kegiatan gotong royong atau kerja bakti untuk kepentingan bersama. Masyarakat bahu-membahu membetulkan jalan, membuat jembatan, dan membangun pos ronda. Dengan dilakukan secara bersama-sama, pekerjaan akan menjadi lebih lancar dan terasa ringan.

Merampungkan pekerjaan bersama-sama juga merekatkan hubungan antarwarga. Setiap individu merasa menjadi bagian berarti dari masyarakat. Pekerjaan secara bersama pun dilakukan secara gembira sehingga tidak merasakannya sebagai beban kewajiban.

Adapun sambatan berarti kegiatan bergotong royong dengan rasa kekeluargaan yang sasarannya perseorangan. Contohnya apabila ada tetangga yang kesusahan pada saat memperbaiki atau membangun rumah, warga sekitarnya akan secara sukarela datang membantu.

Baca juga: Mappalette Bola, Gotong Royong Memindahkan Rumah Masyarakat Bugis Barukku

Sambatan sendiri berasal dari kata sambat yang berarti berkeluh kesah. Tradisi ini menunjukkan tingginya rasa empati dan kuatnya semangat kekeluargaan dan kebersamaan pada masyarakat Jawa pedesaan. Satu pemandangan yang hampir tidak bisa kita jumpai di masyarakat perkotaan.

Ada tiga ciri dalam tradisi sambatan. Pertama, sambatan bukanlah kerja bakti yang ditujukan untuk kepentingan bersama. Sambatan ditujukan untuk membantu seorang individu atau keluarga tertentu yang membutuhkan bantuan. Ini dilakukan karena individu atau keluarga tersebut tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sehingga membuntuhkan uluran tangan dari orang lain.

Adapun ciri yang kedua adalah pekerjaan dilakukan secara sukarela atau tidak ada upah. Kegiatan tersebut memang dimaksudkan untuk menolong orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang membantu akan bekerja secara secara ikhlas tanpa mengharap imbalan uang atas pekerjaannnya. Sebagai rasa terima kasih, orang yang dibantu akan menyediakan makan dan minum semampunya.

Tradisi sambatan ini sangat berguna untuk menciptakan jaring pengaman bagi masyarakat tidak mampu. Orang-orang yang hidupnya pas-pasan hanya mampu memenuhi kebutuhan pokoknya saja. Mereka akan mengalami kesulitan ketika terbebani oleh persoalan lain. Untuk itulah mereka membutuhkan pertolongan orang lain.

Di sinilah tenaga sambatan dibutuhkan karena mereka bekerja dengan sukarela atau tanpa upah sehingga tidak membebani orang yang sedang butuh bantuan. Sambatan hadir sebagai solusi untuk meringankan beban pekerjaan orang yang meminta tolong.

Ciri yang ketiga adalah adanya asas timbal balik. Kegiatan sambatan merupakan salah satu wujud keberlangsungan kerukunan dalam masyarakat pedesaan, kerukunan masyarakat desa dapat dilihat bagaimana warganya saling bantu membantu untuk meringankan beban orang lain.

Tidak ada bayaran bagi pekerja sambatan. Tetapi ada kecenderungan di mana seseorang yang telah dibantu akan mengingat jasa orang-orang yang telah menolongnya dan akan membalas kebaikannya ketika mereka membutuhkan bantuan.

Hubungan timbal balik tersebut menjadi perekat kerukunan di dalam masyarakat pedesaan. Masyarakat tahu bahwa pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain dan saling bergantung antara satu dengan yang lainnya.

Budaya gotong royong masih lestari hingga sekarang. Gugur gunung atau yang umumnya kita sebut sebagai kerja bakti masih secara rutin dilakukan masyarakat. Pada kegiatan ini hampir seluruh masyarakat di area yang bersangkutan akan turun tangan bekerja bersama-sama untuk membangun, membenahi, dan dan merawat sarana publik.

Di sisi lain, harus juga diakui, kegiatan sambatan semakin jarang dilakukan. Salah satu sebab semakin jarangnya sambatan adalah perkembangan material dan proses pembangunan rumah.

Jika dulu, rumah dibangun dengan kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya sehingga masyarakat sekitar relatif bisa membantu. Saat ini, umumnya rumah dibangun dengan batu bata, pasir, dan semen sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam proses pembangunan.

Meski demikian, mengingat manfaatnya yang besar, baik sebagai jaring pengaman sosial maupun perekat hubungan antarwarga, sangat penting untuk melestarikan tradisi gotong royong ini.

Baca juga: Mappalette Bola, Gotong Royong Memindahkan Rumah Masyarakat Bugis Barukku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.