Mappalette Bola, Gotong Royong Memindahkan Rumah Masyarakat Bugis Barukku

230
Mappalette Bola
Masyarakat Suku Bugis bergotong royong mengangkat rumah ke lokasi baru dalam tradisi yang disebut Mappalette Bola. (Foto: journal.momotrip)

1001indonesia.net – Masyarakat Suku Bugis di Barukku, Kecamatan Pitu Riase Sidrap, memiliki tradisi unik saat berpindah rumah. Tradisi yang disebut Mappalette Bola ini melibatkan puluhan bahkan ratusan warga kampung untuk membantu memindahkan rumah ke lokasi yang baru.

Biasanya saat orang akan pindah rumah mereka akan disibukkan dengan mengemasi barang untuk memindahkannya ke rumah yang baru dari rumah lama. Namun, pada masyarakat Bugis Barukku, pindah rumah berarti memindahkan bangunan rumah yang sebenarnya.

Kebanyakan rumah orang suku Bugis sebagian besar adalah rumah kayu berbentuk panggung. Sebelum rumah dipindah ke lokasi baru, perabot rumah tangga, seperti lemari, barang pecah belah, dikeluarkan dari rumah guna menghindari kerusakan saat proses pemindahan rumah.

Sebelum proses pemindahan dimulai, doa dipanjatkan bersama agar berjalan lancar dan sesuai harapan. Prosesi Mappalette Bola ini hanya dilakukan kaum laki-laki, sedangkan para ibu-ibu bertugas menyiapkan makanan. Pemilik rumah akan menjamu para warga yang bergotong royong dengan hidangan khas Bugis beserta minuman teh dan kopi.

Orang Suku Bugis biasanya melakukan pindahan rumah karena tanah rumah sebelumnya telah terjual. Setelah setahun menempati lokasi rumah baru mereka akan melakukan upacara Maccera Bola untuk menolak bala dengan cara menyapukan darah ayam pada tiang-tiang rumah.

Ada dua teknik pemindahan rumah, jika lokasi yang baru tidak jauh dari tempat semula, rumah hanya akan didorong setelah bagian bawah rumah dipasangi roda/ban.

Namun jika lokasi yang baru ternyata jauh, para warga akan bergotong royong mengangkat rumah bersama. Sebelumnya bagian rumah akan dipasangi bambu sebagai pegangan warga untuk mengangkatnya.

Proses pengangkatan dan pemindahan rumah umumnya dipimpin oleh seorang ketua adat untuk memberi aba-aba dan mengarahkan warga.

Proses pemindahan rumah ini tentu bukan hal yang mudah. Rumah yang dipindah sangat berat. Itu sebabnya, butuh banyak orang untuk menggotongnya. Dibutuhkan beberapa kali istirahat untuk melepas pegal. Jika ada warga yang tidak kuat, segera diganti oleh yang lainnya.

Para warga membantu proses pemindahan rumah dengan sukarela. Usai gotong royong, pemilik rumah kembali menjamu warga dengan teh dan kopi, aneka kue tradisional, dan makan siang bersama. Kadang dilanjutkan dengan acara Barzanji pada malam hari, untuk mendoakan rumah terhindar dari malapetaka.

Tradisi unik pindahan rumah ala Suku Bugis merupakan warisan leluhur yang sudah dijalankan sejak dulu.  Mappalette Bola menggambarkan bagaimana budaya gotong royong begitu kuat dalam masyarakat Indonesia.

Semoga semangat dari tradisi seperti ini tetap lestari sebagai sarana untuk membantu sesama dan juga untuk mempererat ikatan kekeluargaan antarwarga.

Baca juga: Praktik Gotong Royong dalam Kehidupan Bermasyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.