Gondang Batak, Mahakarya Seni Musik di Sumatera Utara

412
Gondang Batak
Foto: tobadetour.com

1001indonesia.net – Gondang Batak menduduki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Gondang hadir dalam beragam kegiatan, mulai dari upacara adat, ritual keagamaan, hingga untuk hiburan.

Gondang bahkan menjadi “sarana utama” orang Batak Toba dalam berhubungan dengan Tuhan, khususnya untuk para penganut Malim atau Parmalim. Bagi masyarakat Parmalim—agama asli suku Batak—gondang merupakan representasi simbolik dari ungkapan penyampaian doa yang ditujukan bagi Sang Pencipta.

Baca juga: Parmalim, Penganut Agama Leluhur Suku Batak di Huta Tinggi

Pada umumnya, masyarakat memahami gondang sebagai ensambel musik tradisi atau “gendangnya” orang Batak Toba. Namun sebenarnya, gondang memiliki beragam makna, tergantung dari konteks penggunaan.

Gondang dapat bermakna instrumen musik, ansambel musik, judul sebuah komposisi musik, judul kolektif dari beberapa komposisi musik (repertoar), tempo pada komposisi, suatu rangkaian upacara, dan bisa juga berarti sebuah doa. Gondang juga digunakan untuk  menunjukkan satu segmen tertentu dari kelompok kekerabatan yang sedang manortor (menari tor-tor) dalam suatu upacara.

Sebagai sebuah ansambel musik tradisi, gondang terdiri atas sarune (alat musik tiup), taganing (seperangkat kendang), hasapi (alat musik petik berdawai ganda), garantung (alat musik pukul yang terdiri dari bilah-bilah kayu digantung), ogung (gong), hesek (perkusi dari pelat besi atau botol), dan sulim (suling).

Komposisi instrumen tadi bisa berubah sesuai peruntukan. Dalam khazanah penganut Ugamo Malim (Parmalim), gondang terbagi dalam dua ensambel, yakni Gondang Hasapi dan Gondang Sabangungan.

Ensambel Gondang Hasapi digunakan pada saat upacara Hatutubu Tuhan Simarimbulubosi Sipaha sada. Adapun Gondang Sabangungan digunakan pada perayaan Pameleon Bohon Sipaha lima.

Keduanya berbeda dalam penggunaan jenis instrumen. Gondang Hasapi yang biasa dimainkan di dalam ruangan terdiri atas hasapi, sarune etek, garantung, dan hesek. Sementara Gondang Sabangunan yang biasa dimainkan di luar ruangan terdiri dari sarune bolon, taganing, ogung, dan hesek.

Unik

Komposisi musik gondang tergolong unik. Meski sama-sama terbagi dalam tangga nada sebagaimana musik umumnya, tapi disusun tidak sama persis alurnya.

Selain itu, gondang juga berbeda dengan tangga nada musik Barat yang memiliki tujuh tingkat. Musik tradisional ini hanya memiliki lima tingkatan nada diatonis mayor, yaitu do, re, mi, fa, sol. Ini seperti terdengar dari alat musik taganing dan garantung. Keunikan nada ini sulit ditemukan di tempat lain di dunia.

Bahkan, dibandingkan dengan musik pentatonik yang hampir sejenis, seperti gamelan Jawa dan Bali, gondang tetap berbeda. Ketukan melodi gamelan Jawa dan Bali cenderung pakem, sedangkan gondang bervariasi, tergantung dari improvisasi dan estetis pemain sarune dan taganing, yang kadang bermain seperti sedang trance.

Baca: Gamelan Nusantara: Jawa, Sunda, dan Bali

Salah satu alat musik yang memiliki keunikan tersendiri dalam gondang adalah taganing—disebut juga tagading atau tataganing yang berarti lima. Taganing tidak hanya berfungsi untuk mengatur ritme musik, tetapi juga melodi yang mendominasi lagu.

Taganing, salah satu instrumen dalam gondang Batak.
Taganing dalam rak khusus, salah satu instrumen dalam gondang Batak. (Foto: Wikipedia)

Sumber Kearifan

Tak hanya penting dalam kegiatan adat masyarakat adat, gondang menjadi sumber kearifan dalam kehidupan sehari-hari. Ensambel tradisional ini mengajarkan kebersamaan, empati, dan simpati. Tiga hal dasar tersebut yang membuat penabuh ogung, penabuh taganing, dan peniup sarune bisa menghasilkan harmoni yang menggerakkan orang lain untuk menari tor-tor.

Antar-pargonsi (pemain gondang) pun tumbuh solidaritas kukuh. Ketika seorang pargonsi sakit, misalnya, pargonsi lainnya bahu-membahu meringankan bebannya dengan menyumbang sejumlah uang dan menjenguk.

Mereka juga saling membantu ketika ada yang kekurangan penabuh taganing atau pemain sarune. Uang tak menjadi masalah bagi mereka. Yang penting jangan sampai upacara adat gagal dilakukan karena kurang pargonsi.

Saat gondang dimainkan, warga yang mendengarkan akan larut dalam alunan dan tanpa sadar akan menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama atau bahkan menari tor-tor bersama. Para pargonsi memegang keyakinan, semakin bagus permainan, semakin banyak orang yang larut dalam alunan gondang.

Bagi orang Batak, terutama Parmalim, permainan gondang menyimbolkan perilaku. Semakin mulia perilaku seseorang, dia menjadi teladan dan panutan, tanpa paksaan.

Prinsip ini juga mereka terapkan dalam kehidupan beragama. Umat Parmalim tidak memaksa kelompok lain masuk ke dalam agamanya. Yang paling utama adalah selalu berbuat baik sebagai perwujudan nyata dari keimanan mereka. Jika kemudian perbuatan baik dan kemuliaan perilaku itu menarik orang lain untuk masuk, mereka dengan senang hati menerimanya.

Mereka mempunyai prinsip ”boto, haporseai, ulahon”, yang maknanya kenali, yakini, dan laksanakan. Seseorang yang sudah mengenali dan meyakini, tidak perlu dipaksa pasti siap melaksanakan. Dengan kata lain, semua harus dilakukan dengan dasar pemahaman dan kesukarelaan.

Para pargonsi memercayai bahwa mustahil mereka dapat memainkan gondang dengan baik tanpa restu leluhur atau Debata Mulajadi Na Bolon (Tuhan). Oleh karena itu, mereka selalu merapal doa sebelum acara dimulai. Dalam kehidupan sehari-hari pun, pantang bertingkah tanpa restu Debata.

Pargonsi dijuluki batara guru yang berarti sumber pengetahuan. Disebut demikian karena dia berfungsi sebagai perantara doa manusia kepada Debata tatkala gondang dimainkan dalam ritual sakral. Sebab itu, para pargonsi dituntut lebih arif dan bijak dalam berperilaku.

Hal itu sebangun dengan keyakinan para pargonsi bahwa notasi gondang sulit ditulis secara presisi. Mereka mempelajarinya dengan menghafal ketukan lalu mentransformasikan setiap ketukan ke dalam ungkapan kebajikan ”beta tu huta, beta tu huta, tu huta hangoluan”. Ini diucapkan mirip dengan ketukan taganing. Ungkapan tadi kira-kira bermakna, ”Ayo ke kampung, ayo ke kampung, ke kampung kehidupan.”

Ungkapan itu bermakna setiap orang harus berperilaku baik kepada sesama. Kampung kehidupan berarti menjamin setiap tamu dan warga untuk nyaman tinggal. Setiap bertemu orang, entah kenal atau tidak, harus diterima dengan tangan terbuka, diajak mampir, dan kemudian dijamu dengan baik.

Parmalim memegang keyakinan bahwa panutan dan junjungan mereka, Raja Sisingamangaraja, bereinkarnasi menjadi Raja Nasiak Bagi. Mereka yakin Raja Nasiak Bagi masih ada dan dapat menyaru menjadi siapa saja. Bisa saja dia orang yang baru kita kenal.

Berdasar keyakinan itu, mereka berusaha bersikap baik pada siapa saja, karena setiap orang bisa saja Raja Nasiak Bagi. Berbuat baik pada sesama bukan saja menenangkan hati, tetapi juga memuliakan Raja Nasiak Bagi.

Masa kini

Di sisi lain, seperti kesenian tradisional lainnya, gondang Batak tak lepas dari proses modernisasi. Monang Naipospos mengungkapkan keprihatinannya dengan semakin banyak dipertunjukkannya gondang versi modern dibanding gondang Batak yang asli.

Para pargonsi muda tidak lagi mementingkan penguasaan ragam gondang batak, karena pada umumnya masyarakat Batak lebih menginginkan irama modern seperti nyanyian bahkan dangdut. Seniman tua gondang batak saat ini di Toba pun sudah jarang memunculkan ragam gondang Batak itu karena ketidakmampuan masyarakat mengenalinya.

Menurut Monang Naipospos, fenomena ini menunjukkan bagaimana modernisasi telah menggempur kebesaran gondang Batak. Masyarakat lebih mementingkan sisi hiburan dari dari tradisi ini, sementara kearifan yang dikandungnya semakin tak dikenali lagi.

Meski demikian, modernisasi gondang Batak tidaklah perlu ditolak sama sekali. Pengembangan kesenian tradisional sangat diperlukan sehingga ia dapat terus diterima oleh generasi muda. Namun, pengembangan tersebut harus diiringi pula dengan penggalian nilai-nilai yang dikandungnya sehingga ia tidak kehilangan “ruh”-nya dan hanya menjadi sarana hiburan semata.

Baca juga: Talempong, Alat Musik Tradisional Khas Minangkabau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + 5 =