Parmalim, Penganut Agama Leluhur Suku Batak di Huta Tinggi

2808
Parmalim
Para penganut Ugamo Malim atau Parmalim sedang melangsungkan upacara Sipaha Lima (Foto: kampunghalaman.org)

1001indonesia.net – Parmalim atau parugamo Malim adalah sebutan bagi para penganut Ugamo Malim, agama asli Suku Batak. Ada empat kelompok utama Parmalim, salah satunya yang berpusat di Huta Tinggi, tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Pusat itu ditandai dengan berdirinya Bale Pasogit yang disakralkan dan tidak ada di daerah lain.

Istilah “Ugamo Malim” sendiri berasal dari kata ugamo dan malim. Ugamo merujuk pada segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spiritual (ngolu partondion). Ada juga yang menyamakan ugamo dengan agama. Sementara malim berarti suci.

Masyarakat Batak mengerti ugamo dalam kaitannya dengan tiga konteks, yaitu ugari (pengatur hubungan sosial kemasyarakatan), ugasan (pengaturan kepemilikan), dan ugamo (mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta).

Idealnya, ugari, ugasan, dan ugamo dijalankan sebagai satu kesatuan. Namun, karena desakan kaum penginjil pada masa penjajahan Belanda dan juga karena perkembangan zaman, Parmalim kini lebih berfokus pada nilai-nilai spiritual, sementara dua yang lain dijalankan terpisah atau menyesuaikan diri dengan dinamika masyarakat.

Dengan demikian, Ugamo Malim berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spiritual yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kesucian.

Sebutan Parmalim dinabalkan setelah Raja Sisingamangara XII mangkat pada 1907. Sampai waktu itu, belum ada agama bernama Malim. Masyarakat Batak saat itu mengimani Debata Mulajadi na Bolon, dan Sisingamaraja XII merupakan salah satu orang suci. Tapi belum ada yang menamai keyakinan itu.

Salah satu orang yang masih setia kepada Sisingamangaraja XII bernama Lanja Naipospos. Kelak ia berganti nama jadi Raja Mulia Naipospos. Sebelum mangkat, Sisingamangaraja XII berpesan kepada Lanja untuk terus menyebarkan kepercayaan orang Batak pada Debata Mulajadi na Bolon.

Bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII adalah utusan Debata (Malim Debata). Kedudukannya serupa nabi. Ia juga dikenal punya mukjizat; ia bisa muncul di pelbagai tempat yang diinginkannya serta dapat mengubah wujudnya jadi siapa saja.

Parmalim juga yakin bahwa panutan dan junjungan mereka, Raja Sisingamangaraja XII, bereinkarnasi menjadi Raja Nasiak Bagi. Mereka yakin Raja Nasiak Bagi masih ada dan dapat menyaru menjadi siapa saja.

Raja Nasiak Bagi dikenal sebagai Malim Debata. Ialah yang kali pertama mencetuskan agar Malim dilembagakan sebagai agama. “Malim ma hamu (malimlah kalian)” diingat sebagai kalimat bersejarah Nasiak Bagi kepada murid-muridnya—tonggak awal lahirnya agama Malim.

Ia kemudian menganjurkan didirikannya suatu tempat peribadatan yang disebut Bale Pasogit Partonggoan di kampung Raja Mulia Naipospos, yaitu di Huta Tinggi, Laguboti. Sampai saat ini, Parmalim dipimpin oleh seorang Ihutan yang diangkat berdasarkan garis keturunan marga Naipospos.

Parmalim
Umat Ugamo Malim atau Parmalim usai melaksanakan ibadah Marari Sabtu di Bale Parsantian Huta Tinggi. (KOMPAS.COM/MEI LEANDHA)

Seperti yang dilansir Kampunghalaman.org, Parmalim percaya bahwa manusia pertama di dunia diturunkan di Pusuk Buhit, sebuah bukit di Pulau Samosir, Danau Toba. Sampai sekarang, tanah Batak termasuk wilayah Toba dan Samosir merupakan tanah suci bagi Parmalim.

Adam dan Hawa versi suku Batak ini adalah Si Raja Ihat Manisia dan Si Boru Ihat Manisian, yang kemudian membangun perkampungan pertama di Sianjurmula-mula. Sepasang manusia pertama inilah yang lalu jadi nenek moyang suku Batak.

Penghayat Ugamo Malim percaya ada tiga tingkatan dunia yang diciptakan oleh Debata Mulajadi na Bolon, yaitu Banua Ginjang (Dunia Atas) yang dihuni Debata Mulajadi dan roh-roh nenek moyang, Banua Tonga (Dunia Tengah) yang kita huni sekarang, dan Banua Toru (Dunia Bawah).

Dalam Hamalimon atau ajaran agama Malim, diatur hubungan para penganutnya dengan Tuhan dan sesama manusia, bahkan alam. Ajaran keimanan terhadap Tuhan atau Debata Mulajadi Nabolon bernama Tondi Na Marsihohot yang diturunkan oleh Sisingamangaraja dan Raja Nasiak Bagi.

Parmalim juga punya beberapa beberapa ritual upacara, seperti Sipaha Lima yang diadakan di Bale Pasogit.  Upacara ini diadakan sebagai ucapan syukur terhadap hasil panen selama setahun, dan dipimpin oleh sang Ihutan. Selain itu, ada juga ibadah mingguan Mararisabtu, upacara kematian Pasahat Tondi, ibadah rutin Mardebata dan lain-lain.

Sedangkan untuk hubungan sesama manusia, dalam Hamalimon dikenal Parbinotoan Naimbaru yang artinya bahwa Parmalim terbuka menerima perkembangan ilmu dan teknologi. Serta Ngolu Naimbaru yang berarti bahwa Parmalim harus selalu mengikuti perkembangan zaman dan peradaban tanpa melanggar ajaran Malim.

Ini membuat Ugamo Malim sangat cair dan terbuka, sehingga menjadi salah satu agama asli daerah yang tetap hidup dan bertahan hingga sekarang.

Hingga saat ini, kepercayaan asli suku Batak ini sudah dipeluk turun temurun selama 800 tahun oleh 35 generasi. Penghayat Ugamo Malim berjumlah sekitar 1.200 keluarga. Mereka tak hanya ada di Sumatera Utara saja, tetapi juga tersebar seiring persebaran suku Batak di berbagai kota di Indonesia, seperti Medan, Riau, Jambi, bahkan Tangerang dan Jakarta.

Baca juga: Gondang Batak, Mahakarya Seni Musik di Sumatera Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 5 =