Sekaten, Upacara Adat Kesultanan Yogyakarta

967
Gending Sekaten
Para pengrawit memainkan gending sekaten. (Foto: tembi.net)

1001indonesia.net – Upacara Sekaten adalah upacara memainkan gending sekaten yang dilaksanakan di pelataran Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta selama seminggu. Upacara ini berakhir pada tanggal 11 Rabiulawal atau tepat sehari sebelum Garebeg Maulud, hari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tahapan penyelenggaraan upacara ini:

  1. Membunyikan gamelan pusaka keraton Yogyakarta, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga, pertama kali sebagai tanda bahwa upacara Sekaten dimulai.
  2. Pemindahan gamelan pusaka dari Keraton ke Masjid Gedhe Kauman. Kyai Guntur Madu diletakkan di pagongan sebelah utara dan Kyai Nagawilaga di pagongan selatan. Setiap hari, kedua gamelan ini akan ditabuh dalam tiga sesi, yakni pukul 08.00-12.00, 14.00-16.00, dan 20.00-24.00.
  3. Sri Sultan dan para pengiringnya hadir di Masjid Gedhe untuk mendengarkan pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad SAW;
  4. Terakhir, gamelan Sekaten dikembalikan ke keraton sebagai tanda selesainya upacara.

Kata sekaten sering dihubungkan dengan sekati, yaitu ukuran berat yang pernah dipergunakan oleh orang Jawa. Sekaten juga dihubungkan dengan syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam pertama.

Gamelan yang digunakan dalam acara sekaten sangat besar dan berat, tiga kali lipat ukuran dan berat gamelan Jawa pada umumnya.

Gamelan merupakan warisan kebudayaan Hindu Jawa. Pada masa peralihan Hindu ke Islam di pertengahan abad ke-15, para wali, dalam upaya menyebarkan agama Islam, dengan pandai menggunakan karya cipta budaya Hindu tersebut untuk menarik masyarakat.

Namun demikian, beberapa orang merasa terpaksa dan muncul rasa tidak suka di hatinya atau sesek ati. Sejak saat itu, gamelan ini disebut sekati atau sekaten.

Gamelan Sekaten

Untuk menarik masyarakat, gamelan sekaten dirancang sebesar dan semegah mungkin, juga sangat keras. Untuk menahan bahan yang sedemikian keras, sebagian pemukul terbuat dari bahan yang kuat seperti tanduk kerbau.

Gamelan sekaten terdiri atas

  1. Satu bonang (10-14 pencon) dimainkan oleh tiga pengrawit (pemusik).
  2. Satu atau dua pasang demung (sejenis saron bernada rendah).
  3. Empat saron penerus (saron kecil bernada tinggi), dimainkan oleh dua pengrawit.
  4. Satu bedug untuk tanda perubahan tempo.
  5. Satu set kempyang (beberapa pasang pencon).
  6. Sepasang gong ageng (gong besar) dimainkan oleh seorang pengrawit.

Gendhing Sekaten

Dalam acara sekaten, dimainkan gending khusus. Yang dimaksud adalah gending sekaten, jumlah totalnya ada 18 gending. Dari 18 gending, ada 4 yang wajib dimainkan, yaitu Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Andhong-andhong pathet lima, dan Lunggadhung Pel pathet lima.

Menurut Tembi News, gending sekaten diciptakan oleh Walli Sanga sebagai media dakwah, meski tanpa vokal dan lirik. Judul-judul gending mencerminkan hal itu. Misalnya, Rambu merupakan simbol pengingat atau penjaga, Rangkung artinya merangkul, Andhong-andhong mengisyaratkan agar segera dilakukan, dan Lunggadhung Pel simbol dari mengikat. Begitu pula gending-gending lain, seperti Salatun (shalat), Ngajatun (mengajak), dan Kinasih (kasih).

Gamelan sekaten menggunakan gending ladrang (susunan nada peralihan) dari satu gubahan ke gubahan lain. Setiap gubahan gending dimulai dengan racikan, sebuah susunan nada berirama abstrak (balungan), dengan bonang serta beberapa titik penekanan dengan saron. Racikan diikuti rangkaian gending, tempo dipercepat hingga mencapai puncak yang keras dan sesek ‘cepat’ dan diakhiri oleh suwuk, sebuah akhiran dengan tempo melembut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 3 =