Drama Tari Gambuh, Induk dari Banyak Kesenian Bali

1113
Drama Tari Gambuh
Drama Tari Gambuh (Foto: dianakusumaa.blogspot.id)

1001indonesia.net – Drama tari gambuh menjadi sumber dari banyak kesenian Bali lainnya, di antaranya arja, legong, wayang parwa, calonarang, topeng, atau joged pingitan. Drama tari ini dianggap sebagai bentuk teater upacara paling tua yang masih hidup di Bali, setara dengan teater Noh di Jepang, atau kathakali di India.

Namun, drama tari klasik Bali ini sudah lama ditinggal penontonnya. Bahkan, lebih dari seratus tahun terakhir drama tari ini sudah menjadi kesenian yang asing dan aneh bagi masyarakat Bali sendiri.

Meski masih dipentaskan hingga sekarang, gambuh biasanya hanya dipentaskan di pura pada acara perayaan atau pada hari raya keagamaan atau di istana pada waktu-waktu tertentu saja. Tidak heran, meski dianggap sebagai induk dari semua drama dan tari Bali yang muncul kemudian, gambuh diperkirakan akan hilang dari gelanggang seni pertunjukan Bali.

Gambuh mulai dikenal Bali sejak sekitar awal abad ke-11. Putri Daha dari Kediri, Sri Gunapria Darmapatni yang disunting Prabu Warmadewa di Bali, diduga yang membawa seni klasik ini ke Pulau Bali. Pendapat lain mengatakan bahwa musik, sastra, dan perbendaharaan tari gambuh yang amat khas baru masuk ke Bali pada masa Kerajaan Majapahit.

Zaman keemasan drama tari gambuh terjadi antara tahun 1850 sampai 1900. Raja-raja di Bali saat itu membangun balai pegambuhan. Selepas masa itu, pamor gambuh semakin surut. Perannya diganti oleh arja, kemudian disusul oleh gong gebyar yang menjadi primadona pertunjukan Bali hingga masa kini.

Ada beberapa sebab yang membuat gambuh redup. Ada yang mengatakan seni ini bersifat eksklusif, jauh dari selera rakyat. Yang pasti tidak banyak koreografer yang tertarik menggarap gambuh. Alasannya, penokohan gambuh sangat kompleks. Masing-masing karakter memiliki logat tari, agem, abah, tandang, dan tangkep sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, gambuh dianggap sebagai drama tari yang serius dan kompleks. Drama tari ini tak mungkin ditampilkan dengan kualitas pregina (penari) dan penabuh yang asal-asalan. Gambuh tak bisa dikerjakan secara instan karena membutuhkan ketekunan dan ketelitian. Selain itu, tari ini susah dimengerti dan tak ada guyonannya yang membuat penonton susah untuk menikmati pertunjukannya.

Masuk akal jika para koreografer lebih memilih jenis pertunjukan tari lain yang tidak seserius dan sekompleks gambuh. Selain lebih mudah untuk dipertunjukan, penonton lebih menyukainya.

Namun, gambuh bukan sekadar pertunjukan tari semata. Tari ini diiringi musik yang sangat menawan. Gamelan dan puisi-puisi klasik berbahasa kawi yang mengiringi tari ini mampu menuntun kita menuju keadaan yang menenangkan, membuat kita merenung dan berkontemplasi.

Kesederhanaan dalam gamelan gambuh membuat karawitan ini menjadi salah satu ansambel yang terbaik yang dimiliki Bali.

Sumber:

  • Edi Sedyawati, Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Gde Aryantha Soethama, Jangan Mati di Bali: Tingkah Polah Negeri Turis, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × five =