Endog-endogan, Tradisi Mauludan Masyarakat Banyuwangi

73
Tradisi Endog-endogan Banyuwangi
Masyarakat Banyuwangi menggelar tradisi endog-endogan untuk memperingati Maulid Nabi. (Foto: KOMPAS.COM/Ira Rachmawati)

1001indonesia.net – Masyarakat di sejumlah daerah memiliki caranya sendiri dalam memperingati Maulid Nabi, tak terkecuali di Banyuwangi, Jawa Timur. Di tempat itu, arak-arakan bunga telur menjadi salah satu yang khas dalam rangkaian acara Mauludan. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama endog-endogan.

Dalam Bahasa Jawa, endog berarti telur. Umumnya telur yang digunakan dalam perayaan ini ialah telur ayam.

Mula-mula telur direbus hingga matang. Selanjutnya, telur itu dihias dengan kertas warna-warni. Telur yang telah dihias lantas ditusuk dengan bilah bambu.

Bilah-bilah bambu yang sudah ditusuk telur tersebut kemudian ditancapkan ke batang pohon pisang. Batang pohon pisang tersebut kemudian menjelma menjadi pohon telur yang rimbun dan meriah dengan hiasan warna-warni.

Pohon telur tersebut lalu diarak keliling kampung di sekitar masjid. Anak-anak mengaraknya sembari melantunkan shalawat.

Tradisi endog-endogan sudah lama tumbuh dan berkembang di Banyuwangi. Ada dugaan, masyarakat Banyuwangi yang memulai tradisi ini yang kemudian menyebar daerah-daerah lain.

Tidak diketahui kapan persisnya tradisi ini bermula di Banyuwangi. Akan tetapi, laporan yang ditulis oleh Raden Sudira sekitar tahun 1932 menyebut keberadaan tradisi ini. Catatan tersebut ditulis atas permintaan Th Pegeaud, seorang peneliti kesusastraan Jawa sekaligus pejabat di Java Institute.

Berdasarkan catatan itu dapat dipastikan bahwa endog-endogan sudah ada di Banyuwangi sebelum tahun 1932.

Tak sekadar untuk memeriahkan perayaan, ada pesan simbolik yang disampaikan melalui pohon telur. Tradisi itu merupakan perwujudan kebahagiaan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah yang membawa keberkahan bagi alam semesta.

Pada saat kelahiran Nabi, alam begitu bersuka cita. Sampai-sampai pohon bambu yang tak berbunga dan berbuah pun menjadi berbunga dan berbuah.

Tak hanya itu, telur juga memiliki makna yang mendalam. Kulit telur menjadi lambang keislaman atau identitas seorang Muslim. Sementara putih telur melambangkan keimanan yang suci dan bersih kepada Allah SWT.

Adapun kuning telur melambangkan keihsanan. Seorang Muslim yang beriman akan memasrahkan diri dan ikhlas sepenuhnya pada semua ketentuan Allah.

Pohon telur dengan hiasan warna-warni itu diarak keliling kampung di sekitar lingkungan masjid. Rute yang dipilih biasanya memutar ke arah kiri, berlawanan dengan arah jarum jam.

Tradisi endog-endogan semakin lengkap dengan hidangan sego berkat. Hidangan itu disajikan di atas ancak, yaitu wadah dari pelepah daun pisang dengan alas anyaman bambu.

Tradisi endog-endogan untuk memperingati Maulid Nabi digelar dengan sangat meriah di Banyuwangi. Pada saat berlangsungnya perayaan, anak-anak berkeliling kampung hingga jalan raya sambil melantunkan swalawat. Hampir setiap masjid di Banyuwangi menggelar tradisi tersebut.

Baca juga: Upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − fifteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.