Doa Lopi, Tradisi Pesisir Masyarakat Sangiang

277
Pulau Sangiang
Sumber ilustrasi: dauzbiotekhno.blogspot.co.id

1001indonesia.net – Masyarakat Sangiang di Kepulauan Sunda Kecil memiliki tradisi untuk mendoakan kapal baru yang akan melaut pertama kali. Tradisi ini disebut doa Lopi. Dalam bahasa Mbojo, suku yang mendiami wilayah Dompu dan Bima, lopi berarti kapal. Tradisi mendoakan kapal ini telah ada sejak nenek moyang mereka mendiami Sangiang dan diwariskan secara turun-temurun.

Doa Lopi ditujukan untuk meminta keselamatan atas kapal dan penumpangnya sebelum digunakan untuk menempuh perjalanan jauh mengarungi laut. Selain untuk memohon keselamatan, doa itu juga dilakukan agar pemilik kapal dimudahkan rezekinya. Masyarakat Sangiang percaya, jika kapal tidak didoakan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di laut.

Selain untuk kapal baru, doa Lopi juga dilakukan manakala ada perubahan pada kapal lama mereka. Perubahan itu bisa berupa cat baru, mesin baru, atau ketika pemiliknya mengganti layar.

Doa Lopi dilakukan dengan membaca ayat-ayat Al Quran dan berzikir beberapa menit, kemudian membaca doa. Begitu selesai, pemilik kapal beserta anggota keluarganya membagikan makanan untuk disantap bersama-sama. Setelah acara doa dan makan bersama berakhir, pemilik kapal menaikkan jangkar. Selanjutnya, kapal berkeliling mengitari kawasan perairan Sangiang selama sekitar 10 menit.

Biasanya, untuk kapal yang pertama kali baru diluncurkan, pemiliknya memotong ayam atau kambing untuk dimasak. Lalu semua warga dikumpulkan. Kemudian ada pembacaan Barzanji (doa-doa, puji-pujian, dan riwayat Nabi Muhammad SAW) yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Setelah itu, warga makan bersama-sama.

Tradisi doa Lopi tidak hanya bentuk kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara berusaha dan berdoa, tapi juga kearifan mengenai kebersamaan. Hal itu terlihat dari adanya saling tolong-menolong, terutama ketika ada warga yang tidak mampu menyelenggarakan doa Lopi karena kekurangan biaya untuk membeli ayam atau kambing. Para warga lainnya akan bahu-membahu memberikan bantuan agar warga yang tidak mampu tersebut bisa meluncurkan kapalnya ke laut.

Masyarakat Pelaut

Secara administratif, Desa Sangiang terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tepatnya sekitar 39 kilometer arah barat Pelabuhan Sape (pelabuhan penyeberangan ke Pulau Komodo).

Wilayahnya terdiri atas kawasan pesisir di daratan Sumbawa (Sangiang daratan) dan Gunung Sangiangapi (Pulau Sangiang) yang terletak di laut. Perkampungan warga berada di daratan, sementara Gunung Sangiangapi yang termasuk gunung aktif, digunakan warga sebagai tempat bercocok tanam kacang, wijen, jewawut, cabai, serta beternak sapi dan kerbau.

Namun, dari sekitar 4.000 penduduk Sangiang, 80 persen di antaranya menggantungkan hidup sebagai pelaut. Tak mengherankan jika kapal-kapal warga memenuhi sepanjang kawasan pesisir Sangiang daratan.

Kapal-kapal di Sangiang merupakan kapal pinisi berjenis lamba atau lambo berukuran besar dan kecil. Lamba atau lambo merupakan jenis kapal pinisi yang lebih modern karena dilengkapi mesin. Adapun pinisi yang asli disebut palari dan ukurannya lebih kecil dari lamba.

Kapal-kapal itu digunakan untuk menangkap ikan atau mengangkut hasil pertanian di Gunung Sangiangapi. Selain itu, masyarakat Sangiang juga menggunakannya untuk mengangkut barang dagangan antarwilayah di Pulau Sumbawa hingga antarprovinsi.

Rata-rata kapal Sangiang baik yang besar maupun yang kecil mampu bergerak dengan cepat dan menjadi andalan transportasi bagi masyarakat setempat untuk berhubungan dengan masyarakat di daerah dan pulau-pulau lain di Indonesia.

*) Tulisan disadur dari Ismail Zakaria, “Sangiang dan Tradisi Masyarakat Pesisirnya,” Kompas, Minggu, 9 April 2017.

LEAVE A REPLY

1 × five =