Kapal Pinisi, Kapal Layar yang Menjadi Ciri Organik Nusantara

3340
Kapal Pinisi, Kapal Layar Khas Bugis-Makassar
Kapal Pinisi (Sumber: id.wikipedia.org)

1001indonesia.net – Masyarakat Bugis-Makassar menghasilkan gagasan dan wujud peradaban laut-darat yang terdapat dalam Kapal Pinisi. Namun, Kapal Pinisi menjadi ciri organik Nusantara yang mengembangkan jenis kapal yang lebih sederhana untuk tujuan pengangkutan dan perdagangan hasil-hasil Nusantara, dengan daya jelajah jauh—dan bukan untuk tujuan penaklukan. Selain kuat, daya jelajah, daya angkut, daya adaptasi adalah reputasi pelayaran Pinisi.

Kapal Pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, serta dua di belakang. Pada saat yang sama, kapal ini juga melakukan penyerapan dari praktik-praktik terbaik dari perkapalan, terutama jenis kapal “pinas” atau pinnace yang diperkenalkan pedagang-penjelajah Belanda di sekitar tahun 1600-an.

Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Nusantara sejak beberapa abad lalu. Diperkirakan Kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 1500-an. Menurut naskah La Galigo pada abad ke-14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok.

Namun, berdasarkan penelitian, Pinisi merupakan metamorfosis dari perkembangan teknologi kapal layar yang digunakan oleh para pembuat kapal di Nusantara.

Menurut Horst Liebner, model asli dari perahu tradisional Indonesia adalah tanjaq. Sebagaimana terpahat di dinding candi Borobudur yang dibuat sekitar abad ke-9. Salah satu model kapal tanjaq yang terkenal dari Sulawesi Selatan adalah Padekawang.

Padekawang merupakan kapal dagang besar dan digunakan juga sebagai kapal perang oleh kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Digunakan oleh para pedagang dan prajurit Mandar, Makassar, dan Bugis dalam mengarungi lautan Barat Papua, Selatan Filipina hingga Semenanjung Melayu.

Pada akhir abad ke-18, para pelaut Sulawesi mulai memadukan model perahu tanjaq dengan apa yang mereka lihat dari model perahu bangsa Eropa-Amerika. Butuh waktu 50-an tahun usaha yang tak kenal bosan hingga diperoleh bentuk Pinisi, perahu khas Sulawesi.

Kapal Pinisi (Sumber: arifrahman-hakim.blog.ugm.ac.id)
Kapal Pinisi (Sumber: arifrahman-hakim.blog.ugm.ac.id)

Berdasarkan catatan sejarah, Pinisi—diperkenalkan sebagai peeneeseek—pertama dibuat pada 1840-an oleh beberapa orang Prancis dan Jerman yang terdampar di Trengganu Malaysia. Mereka lalu menetap dan menikah dengan warga lokal.

Atas permintaan Sultan Baginda Omar dibuatkan kapal menyerupai kapal layar Barat modern. Kapal layar ini menjadi gambaran asal bagi kapal layar baru yang disebut Pinas, mungkin berasal dari kata pinasse, merujuk istilah Prancis dan Jerman waktu itu untuk kapal layar berukuran sedang.

Di paruh kedua abad ke-19, apa yang mereka adopsi terbukti amat berguna bagi perdagangan antarpulau. Di masa-masa perkembangan ini, para pelaut dan pembuat kapal Indonesia, mengubah model tampilan dari model Barat. Model Pinisi ala Sulawesi Selatan pertama dibuat untuk seorang kapten dari suku Bira oleh orang-orang dari suku Ara sekitar tahun 1900-an.

Kapal Pinisi memiliki keunikan dalam pembuatannya. Umumnya, seperti kapal-kapal di negara Barat, rangka kapal dibuat lebih dahulu baru dindingnya. Sedangkan pembuatan kapal Pinisi dimulai dengan dinding dahulu lalu beralih ke rangkanya.

Salah satu pusat pembuatan kapal layar Pinisi di pantai selatan Sulawesi Selatan, berpusat di sekitar Bulukumba di Tana Beru. Pembuatan ini memakai alat-alat tradisional.

Konstruksi kapal Pinisi adalah gabungan pengetahuan dan pengalaman tradisional kuno disertai ritual atau upacara adat yang ketat yang harus diikuti untuk memastikan keamanan di laut. Para pengrajin perahu ini harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu dapat rezeki.

Setelah dapat hari baik, kemudian kepala tukang yang disebut “punggawa” memimpin pencarian. Tidak ada rancangan atau catatan tertulis dalam kertas untuk membuat Kapal Pinisi. Seorang punggawa telah menyimpan semua detail rancangan Pinisi hanya di kepala mereka.

Meskipun para pengrajin kapal ini sering disebut sebagai orang Bugis, namun mereka dibagi menjadi empat subsuku. Keempatnya adalah Konjo di bagian selatan Sulawesi Selatan (Ara, Bira, dan Tana Beru); Mandar di Sulawesi Barat sampai bagian utara Makasar; Bugis di wilayah sekitar Wajo bagian timur Teluk Bone; dan Makassar di wilayah sekitar Kota Makasar.

Ekspedisi Pinisi yang paling terkenal adalah kala berlayar dari Indonesia ke Vancouver, Kanada. Kapal yang dinamai Pinisi Nusantara dikomandani oleh Kapten Gita Arjakusuma berlayar dalam rangka Vancouver Expo 1986.

Menurut sang kapten, ada tiga alasan melayarkan Pinisi mengiris lautan. Pertama, pelayaran itu dikehendaki oleh almarhum ayah. Kedua, kami tidak rela jika Pinisi Nusantara dilayarkan oleh nakhoda orang asing. Dan terakhir, keinginan untuk membuktikan bahwa perahu tradisional Bugis bisa menempuh pelayaran samudera sebagai bukti sejarah.

Sebagai pembuktian sejarah adalah misi gila melayarkan perahu menyeberangi samudera pasifik.

“Kami memang ‘orang-orang gila’, yang berusaha membawa nama bangsa dan negara. Jarak Bitung-Honolulu mencapai 6.050 nautical mile, bukan pelayaran yang mudah dan sederhana. Di tengah Samudera Pasifik itu, kami bagai sabut kelapa yang setiap saat dipermainkan gelombang, mungkin ditenggelamkan badai atau amukan alam yang tak suka dengan ambisi ‘orang gila’,” ujar Kapten Gita.

Setelah berlayar 2 bulan lebih 2 minggu atau sekitar 68 hari, akhirnya misi terlaksana. Perahu tradisional, dibuat tangan-tangan terampil pengrajin Tana Beru, berhasil selamat mengiris badai. Lebih dari 25.000 pengunjung menyambangi anjungan Pinisi Nusantara di Vancouver Expo 1986. Pinisi Nusantara kini berada di San Diego California.

Sampai kini, Pinisi masih menjadi ikon perahu tradisional Indonesia. Pesona Kapal Pinisi yang mengapung anggun di atas lautan menjadikan fungsinya kini tidak sekadar sebagai kapal barang. Ia menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun kapal ekspedisi dan banyak dipesan oleh orang-orang dari negara lain.

1 Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × three =