Dariah, Maestro Kesenian Lengger Lanang Banyumas

755
lengger lanang
Maestro lengger lanang Dariah bersama Didik Nini Thowok. (Foto: Aris Andrianto/Tempo)

1001indonesia.net – Lengger Lanang merupakan salah satu kesenian khas Banyumas. Tarian yang dimainkan oleh laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan ini sudah berusia ratusan tahun. Kini keberadaannya semakin tersisih akibat bergesernya nilai yang ada di masyarakat.

Maestro kesenian Lengger Lanang yang terakhir bernama Dariah. Penari bernama asli Sadam ini dikenal teguh dan total melakoni kesenian tradisional ini hingga akhir hidupnya.

Tidak sembarang orang bisa menjadi penari Lengger Lanang. Prosesnya pun tidak mudah. Seperti semua calon penari lengger lainnya, Dariah harus mengikuti ritual khusus dan berpuasa. Semua syarat itu dijalankan agar saat menari, ia mampu menjiwai dan bisa diterima khalayak.

Totalitas Dariah dalam kesenian ini terpancar dari cara ia membawakan diri. Tak hanya saat tampil di atas panggung, tapi juga dalam kehidupan kesehariannya, Dariah menjalani hidup sebagai seorang perempuan.

Dariah lahir di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Ia terlahir dari pasangan Samini dan Kartameja yang hidup sebagai petani kecil.

Dariah tidak tahu tahun berapa tepatnya ia dilahirkan. Ia ingat kakeknya pernah bercerita dirinya lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda. Dari cerita itu, bisa diperkirakan Dariah lahir pada akhir tahun 1928 atau awal tahun 1929.

Meskipun berjenis kelamin laki-laki, Sadam kecil senang melenggak-lenggok seperti seorang lengger. Ia juga suka menembang lagu-lagu Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja.

Suatu ketika, Sadam merasa seperti kerasukan indang lengger. Ia dituntun untuk pergi ke sebuah tempat. Di situ Sadam melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada arca wanita cantik dari batu.

Tanpa diketahuinya tempat yang dikunjunginya adalah sebuah pekuburan kuno bernama Panembahan Ronggeng, yaitu tempat bersemadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger. Meski ia tidak bermaksud bersemadi atau bertapa, Sadam berdiam di tempat itu berhari-hari. Rasa tenang dan damai yang dirasakannya membuatnya betah tinggal di tempat itu.

Sepulang dari Panembahan Ronggeng yang terletak di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Dariah mulai berlatih menari Lengger Lanang. Semenjak itulah ia menjadi seorang lengger.

Dariah sendiri sebenarnya memiliki darah seniman di dalam dirinya.  Di lingkungan keluarga Dariah, ada dua orang yang pada masa mudanya menjadi ronggeng, yaitu neneknya yang bernama Mainah serta bibinya yang bernama Misem.

Namun, kehidupan Dariah sebagai penari lengger tidak berjalan dengan mulus. Pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965, rezim Orde Baru mencurigai banyak kelompok seniman tradisional sebagai pihak yang ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat lengger dilarang, Dariah yang tinggal di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, ini menjadi perias pengantin atau dukun manten. Pekerjaan itu dilakoninya hingga usia senja.

Meski ia tak bisa menari lengger semasa Orde Baru, tapi keteguhannya dalam menjalani perannya sebagai penari lengger tidak luntur. Ia tetap menjalani kehidupan sebagai perempuan, meski sebenarnya ia berjenis kelamin laki-laki. Inilah bentuk totalitasnya dalam menghayati dan merawat lengger lanang.

Kesetiaan Dariah atas panggilan hidupnya memang tak ada duanya. Maka sangat layak jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Pada Rabu (14/11/2012), Didik Nini Thowok mendokumentasikan perjalanan kesenimannya dalam bentuk video.

Maestro Lengger Lanang itu meninggal pada Senin dini hari (12/2/2018) pada usia 90 tahun. Dariah meninggalkan seorang anak angkat dan tiga cucu.

Lengger Lanang

Lengger Lanang yang lahir dari tradisi pemujaan terhadap Dewi Kesuburan sudah dipraktikkan sejak ratusan tahun lalu. Tarian erat dengan Tari Ronggeng yang juga berasal dari tradisi yang sama.

Bedanya, Tari Ronggeng dibawakan oleh penari perempuan. Sementara Tari Lengger Lanang, seperti namanya, dibawakan oleh kaum laki-laki yang berpakaian dan berdandan layaknya perempuan.

Sampai sekarang, beberapa figur dan kelompok kesenian masih terus berupaya merawat kesenian tradisional ini. Meski demikian, keberadaan Lengger Lanang semakin tersisih akibat pergeseran nilai yang ada di masyarakat. Kini, tarian lengger umumnya dibawakan oleh kaum perempuan.

Untuk mengenang dan menghormati Dariah, Pemerintah Desa Kaliori, Banyumas, bersama komunitas seni desa tersebut menggelar Festival Kendalisada. Festival yang berlangsung pada 14-16 September 2018 itu menampilkan 10 kelompok penari lengger. Rianto dan Otniel Tasman, dua koreografer kontemporer yang memiliki latar belakang lengger, ikut berpartisipasi.

Baca juga: Rianto, Si Penari Lengger Banyumasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.