Didik Nini Thowok, Maestro Tari yang Tak Kenal Lelah Belajar

1065
Didik Nini Thowok
Didik Nini Thowok dengan tari mengharumkan nama bangsa. (Sumber: Flickr/@merica Centre)

1001indonesia.net – Anda pernah melihat “Tari Dua Wajah” yang ditarikan Didik Nini Thowok? Tari ini menampilkan menari dengan tampak muka (sebagaimana tari normal) dan dengan punggung. Wajah depan dan belakang sama-sama ditutupi topeng, membuat orang tidak dapat membedakan mana depan dan belakang. Tari ini bukan sulap atau trik, melainkan sebuah “keempuan” yang luar biasa. Menari secara luwes dengan dimensi tubuh yang berbeda.

Atau Anda pernah melihat Legong yang ditarikan Didik Nini Thowok? Legong yang menjadi tempat lahir dan tumbuh tari klasik Bali ditarikan dengan amat anggun olehnya. Keagungan gerak serta koreografi hadir bersinar.

Atau, kalau Anda yang berkesempatan melihatnya di Jogja, pernah melihat tarian dari sanggar Didik Nini Thowok yang ditarikan di Titik Nol Jogja—kawasan sekitar perempatan Istana Negara, Benteng Vredeburg, Kantor Pos Besar, dan gedung BNI 1946. Tari dengan lambaian selendang marun dan ungu berkelebat dengan elok, mempercantik Jogja di sore hari.

Didik Nini Thowok (Sumber: m.tvguide.co.id)
Didik Nini Thowok (Sumber: m.tvguide.co.id)

Kesemuanya ini lahir dari seorang yang bernama Didi Hadiprayitno, atau Didik Nini Thowok. Dihargai amat tinggi di dunia sosok, Didik tetaplah bersahaja.

Didik lahir di Temanggung, Jawa Tengah dari pasangan Kwee Yoe Tiang (Hadiprayitno) dan Suminah. Didik belajar tari dari bawah, namun mengalami perkembangan kemampuan tari yang pesat.

Tak cukup puas dengan hasil yang telah dicapai, dia mencari guru jenis-jenis tarian Nusantara lain. Hingga tak heran dia sempat belajar tari Bali dari seorang penari yang kebetulan juga berprofesi sebagai tukang cukur.

Seorang guru lain yang juga berjasa membentuk Didik menjadi penari andal adalah A.M. Sudiharjo, seorang ahli dalam tarian Jawa Klasik dan juga gemar menciptakan beragam tarian baru.

Di kampus Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), dia mulai dikenal dengan kemampuan tari yang luar biasa, termasuk menarikan peran perempuan (opposite gender), dalam hal ini sebagai Mbok Rondo Dadhapan.

Ia murah hati, berbagi, sambil belajar terus-menerus. Tercatat, ia pernah belajar menari Bali dari maestro tari Bali I Gusti Gde Raka, belajar tari Topeng Cirebon dari Ibu Suji yang adalah pakar tari topeng. Didik juga belajar tari dari negara lain, antara lain tari klasik Jepang dan flamengo Spanyol.

Meski demikian, Didik Nini Thowok tidak hanya peduli pada seni tari semata. Ia juga peduli pada bagaimana seni pada umumnya dapat membentuk karakter bangsa. Dalam wawancaranya dengan Radar Jogja, ia mengungkapkan bahwa seni  bukan hanya soal keindahan. Melalui seni, manusia membentuk karakternya.

“Belajar kesenian itu olah rasa, inti yang didapat selain menghasilkan keindahan karya seni. Tidak ada istilah terlambat untuk dilakukan. Asalkan kita memiliki keinginan maka ini sudah cukup untuk memulai,” katanya.

Sebagai olah rasa, seni membentuk manusia untuk memiliki kepribadian yang halus. Keanekaragaman seni yang dimiliki Nusantara sebenarnya menunjukkan watak asli masyarakatnya yang halus. Oleh karena itu, pendidikan seni menjadi soal penting jika kita ingin membentuk bangsa yang memiliki watak luhur dan berbudaya. Menyadari hal ini maka di tengah kesibukannya, Didik masih menyempatkan untuk mengajar tari pada anak-anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 11 =