Buya Hamka, Ulama Besar yang Disegani Kawan dan Lawan

104
Buya Hamka dan Keluarga
Buya Hamka dan keluarga. (Foto: Hamka. Kenang-kenangan Hidup/Wikipedia)

1001indonesia.net – Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka (singkatan huruf depan namanya) merupakan ulama, politisi, sekaligus sastrawan.

Buya Hamka pernah menjadi wartawan, penulis, dan pengajar. Ia dikenal sebagai seorang pembelajar autodidak. Pengetahuannya yang luas dalam beragam bidang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik, didapatnya karena ia rajin membaca dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan.

Hamka dikenal juga sebagai penulis yang sangat produktif. Ia telah membukukan sekitar 118 tulisan mencakup bidang agama, filsafat, dan sastra.

Ia pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan aktif dalam perpolitikan Indonesia. Hamka bergiat di partai Masyumi sebelum partai itu dibubarkan oleh Presiden Sukarno pada 1960. Hamka merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama dan aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Hamka dilahirkan di Kampung Muaro Pauh, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya (dulunya Ampek Koto), Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada hari Senin, 17 Februari 1908. Anak tertua dari tujuh bersaudara ini lahir di tengah keluarga yang kuat memegang ajaran agama. Ayahnya bernama Haji Abdul Karim Amrullah, sedangkan ibunya bernama Siti Safiyah

Hamka menempuh pendidikan sekolah dasar Maninjau hanya sampai kelas 2. Ketika usianya 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sumatera Thawalib merupakan sebuah sekolah dan perguruan tinggi  yang bertujuan untuk mengajarkan pengetahuan Islam demi kebaikan dan kemajuan di dunia dan akhirat. Di sini, Hamka ikut menimba ilmu agama dan bahasa Arab.

Awalnya Sumatera Thawalib adalah sebuah perkumpulan murid-murid yang mengaji di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan surau Parabek Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib kemudian bergerak dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah dan perguruan, mengubah pengajian surau menjadi sekolah berkelas.

Hamka senang merantau. Bahkan ayahnya menjulukinya si bujang jauh. Pada usia 16 tahun, Hamka merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, ia mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.

Meski perantauan itu hanya berlangsung setahun, banyak wawasan yang ia peroleh yang akan memengaruhinya sepanjang hidupnya. Sepulang merantau, Hamka ingin membesarkan Muhammadiyah di kampungnya. Namun, ia ditolak karena tidak memiliki diploma dan kemampuan bahasa Arabnya dianggap buruk. Hamka kemudian bertolak ke Mekkah untuk naik haji sembari belajar agama dan bahasa Arab.

Kembali ke tanah air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Ia juga menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat serta menulis beragam buku. Di antaranya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang menjadi karya fenomenal dan melambungkan namanya sebagai sastrawan. Dua buku tersebut telah diangkat ke layar lebar.

Selama revolusi fisik, Hamka bergerilya bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda.

Ia kemudian ke Jakarta dan memilih jalur politik. Dalam Pemilihan Umum 1955, Hamka dicalonkan Masyumi sebagai wakil Muhammadiyah dan terpilih untuk duduk di Kontituante.

Hamka terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Masyumi yang menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Presiden Sukarno. Hamka bahkan pernah dipenjarakan oleh Bung Karno.

Buya Hamka dikenal sebagai ulama kharismatik yang disegani baik kawan maupun lawan. Ini terlihat dari sikap Bung Karno kepadanya. Meski berbeda dalam paham politik, beliaulah yang disebut dalam wasiat Bung Karno sebagai tokoh yang diminta mengimani shalat jenazah Bung Karno bila kelak meninggal.

Permintaan Bung Karno itu dipenuhinya. Ketika mendengar Bung Karno meninggal, Buya Hamka bergegas menuju Wisma Yaso untuk bertakziah.

Hamka mendapat sebutan Buya, yaitu panggilan kehormatan bagi seorang Minangkabau. Istilah buya berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku.

Buya Hamka meninggal pada hari Jumat, 24 Juli 1981, setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir.

Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Kiprah dan pemikirannya, terutama di bidang sastra dan keagamaan, masih dikenang hingga kini. Tak hanya di Indonesia, sebagai seorang ulama, namanya juga dikenal di Malaysia dan Singapura.

Atas jasa dan karyanya, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional padanya pada 8 November 2011. Namanya juga diabadikan sebagai nama perguruan tinggi Islam milik Muhammadiyah.

Semasa hidupnya, Buya Hamka juga telah menerima beberapa penghargaan, seperti Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Rumah kelahiran Buya Hamka saat ini dijadikan museum. Di dalam rumah bersejarah yang berada di dekat Danau Maninjau ini terdapat koleksi berbagai peninggalan Buya Hamka. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka bisa menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin meresapi semangat perjuangan dan pemikiran ulama besar asal Maninjau ini.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin menyerap semangat perjuangan Buya Hamka. (Foto: asiawisata.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × three =