Bujuk Melas, Nenek Moyang Para Kyai Madura dan Tapal Kuda

oleh Siti Muniroh

88
Makam Bujuk Melas atau Syarifah Fatimah Binti Abdullah al Anggawi yang merupakan nenek moyang dari para kiai di Madura dan Tapal Kuda ramai dikunjungi para peziarah. (Foto: jembergo.id)

1001indonesia.net – Terdapat suatu makam tua di tengah hutan yang dikelilingi pohon pinus. Ini satu-satunya makam yang ada di wilayah milik PT Perhutani Sempolan, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Penemuannya masih terbilang amat baru sebab terjadi di tahun 2017 ini.

Semula, masyarakat di sekitar kawasan hutan tidak ada yang tahu siapa yang telah terbaring abadi di dalam makam tersebut. Namun ketika beberapa orang meneliti berdasarkan data-data sejarah yang ada, terkuaklah berita bahwa makam tersebut adalah makam seorang perempuan yang merupakan nenek moyang para kiai Jawa Timur.

Nama yang terbaring adalah Syarifah Fatimah Binti Abdullah al Anggawi atau yang dikenal juga dengan nama Bujuk Melas. Ia merupakan istri dari Sayyid Abd Akhir Sumenep Madura.

Ibu Para Pengasuh Pondok Pesantren

Dalam catatan para kiai, perempuan ini melahirkan dua putra, yakni Kiai Abdul Qorib dan Kiai Harun. Dari Kiai Abd Qorib, lahirlah seorang cucu yang bernama Kiai Ismail. Sang cucu lantas melahirkan beberapa kiai besar, antara lain Kiai Zainudin dan Ny Nursari, Ny Murdhiyah, Ny Rabi’ah, Ny Halimah dan Kiai Syihabuddin. Dari nama-nama ini, terdapat banyak pendiri pondok pesantren besar di Madura dan Tapal Kuda yang lahir kemudian.

Ny Nursari misalnya, melahirkan para pengasuh Pondok Pesantren (selanjutnya disingkat PonPes) Kembangkuning, PonPes Azzubair Sumberanyar (Pamekasan), PonPes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo (Situbondo), PonPes Nurul Jadid (Paiton), PonPes Annuqoyah Guluk-guluk (Sumenep), PonPes Nuris (Jember), PonPes Sletreng (Situbondo), PonPes Al Amin (Prenduan), PonPes Nurul Quran (Rowotamtu) dan lainnya.

Lalu dari Ny Halimah, telah lahir para kiai yang mengasuh PonPes Panyeppen, PonPes Bettet, PonPes Banyuputih Lumajang, PonPes Bulugedding, dan lainnya. Di daerah Jember, lahir pendiri PonPes Al Wafa Tempuran, PonPes Bulu Gading Bangsalsari Jember, PonPes Madinatul Ulum Cangkring, PonPes Al Inaroh Kemuning, dan lainnya.

Oleh karena sang nenek moyang ini telah melahirkan para kiai di daerah Jember ini, maka banyak sekali orang yang hendak menziarahi makam sepuh tersebut, meski sebenarnya jalan menuju ke lokasinya tidaklah mudah karena sering kali harus melewati jalur makadam berbatu dan berdebu dikelilingi oleh hutan pinus milik Perhutani. Mereka bahkan tak hanya datang dari Jember, tetapi juga dari Banyuwangi, Lumajang, hingga Madura.

Proses Penemuan Makam

Para keturunan Fatimah Binti Abdullah al Anggawi pada mulanya menginisiasi pencarian makam nenek moyang mereka. Keturunan-keturunan ini sebelumnya juga telah mengetahui nama lain dari perempuan sesepuh mereka ini, yakni Bujuk Melas. Bujuk artinya buyut. Melas artinya sedih. Disebut Bujuk Melas karena nasibnya yang sedih. Nama ini adalah sematan dari warga secara turun-temurun.

Awal September 2016, para keturunan Bujuk Melas dari Bani Itsbat Banyuanyar Madura mulai mencari makam yang dimaksud. Tim yang terdiri dari 18 orang ini dipimpin oleh KH Abdullah Choliq (pengasuh PonPes Nurul Huda Wirowongso).

Pencarian ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Terdapat 3 makam yang bernama Bujuk Melas. Pertama yang berlokasi di kawasan Arak-arak Bondowoso, kedua yang berada di kawasan Baluran Banyuwangi, dan yang terakhir, berada di Jember.

Dua lokasi yang disebutkan di awal, ternyata bukanlah makam Bujuk Melas yang dimaksud. Makam yang diduga merupakan tempat peristirahatan terakhir Bujuk Melas di Bondowoso ternyata merupakan makam dua pasangan suami istri kaya raya yang dirampok dan dikuburkan di daerah tersebut.

Tim pencari lantas melanjutkan kegiatan mereka mengikuti petunjuk KH Barmawi Min Ma’lum, sesepuh keturunan Fatimah di Sumenep yang sekarang menjadi penjaga makam suami dari si Bujuk Melas tersebut, yakni Sayyid Abd Akhir.

Pada April 2017 lalu, tim ini berhasil menemukan Makam Bujuk Melas di tengah hutan Desa Sumberjati. Namun, mereka masih melakukan penggalian data untuk memastikan dan mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat sekitar Desa Garahan, Sumberjati, dan Sidomulyo.

Ditambah satu orang kiai yang juga merupakan keturunan Bujuk Melas (sehingga keseluruhan anggota tim berjumlah 19), mereka melakukan istikharah (memanjatkan do’a kepada Tuhan untuk memohon petunjuk-Nya) pula.

Di saat pelaksanaan, terjadilah suatu peristiwa mistik. Seorang anak kecil yang tengah berada di dekat makam tiba-tiba ketakutan dan mengadu ke bapaknya yang sedang berziarah sambil berkata bahwa dari dalam makam itu ada perempuan berambut panjang yang terbangun.

Dari kejadian ini, ditambah dengan penelusuran catatan-catatan sejarah dan data yang dikumpulkan, tim 19 ini akhirnya menyimpulkan bahwa makam tersebut adalah makam leluhurnya. Usia makam tersebut mereka perkirakan berumur sekitar 210 sampai 270 tahun lamanya.

Siapakah Bujuk Melas?

Bujuk Melas ternyata mempunyai sebutan ketiga, yakni Nyai Bajem. Menurut KH Abdullah Choliq, Nyai ini merupakan keturunan Rasulullah SAW.

”Perempuan yang ahli ibadah, berperawakan etnis Arab yang cantik, gigih menjaga syariat Islam, dan patuh terhadap suaminya,” tambahnya.

Rupanya, kecantikannyalah yang membuat salah seorang pangeran Keraton Sumenep tergila-gila dan berencana untuk merebutnya dari sang suami. Menyadari akan hal ini, Nyai Bajem memohon kepada suaminya untuk keluar dari Sumenep.

Dengan berat hati, sang suami mengizinkan permohonan istrinya pergi jauh meninggalkannya dengan ditemani tujuh santri yang mereka miliki. Sang istri diberi izin tersebut dengan syarat harus bermukim di tengah hutan yang jauh dari perkampungan.

“Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat terhindar dari kejaran prajurit keraton,” papar Kyai Choliq.

Di sanalah kemudian Nyai Bajem menjalani hari-harinya hingga wafat. Saat ini, hutan yang tersebut telah menjadi milik PT Perhutani.

Adapun riwayat silsilah Nyai Bajem alias Bujuk Melas sendiri, tercantum di samping makamnya. Di situ tertulis nama lengkap beliau, yakni Syarifah Fathimah binti Abdullah bin Yusuf Al Anggawi, lalu bersambung hingga ke Sayyidina Hasan bin Fathimah binti Muhammad SAW. Namun, terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa ia adalah putri dari Bujuk Korseh Parebbaan Ganding Sumenep.

Suaminya sendiri bernama Sayyid Abdul Akhir bin Dzu Shidqi bin Abdul Karim bin Syits bin Zainal Abidin, bin Khotib bin Qosim [Sunan Drajat] bin Ahmad Rahmatullah [Sunan Ampel] yang bersambung kepada Sayyidina Hussain bin Fathimah binti Muhammad SAW.
Kedua makam suami-istri ini dikunjungi oleh ribuan peziarah, terutama santri-santri dari para kiai yang merupakan keturunan dari keduanya.

LEAVE A REPLY

three × 4 =