Batik Pekalongan, Keragaman Budaya yang Berpadu secara Harmonis

867
Batik Pekalongan
Ilustrasi Batik Pekalongan (Foto: babymoontravelling.wordpress.com)

1001indonesia.net – Batik Pekalongan merupakan batik yang paling populer di Indonesia. Motif dan warnanya yang beragam merupakan hasil olah-padu berbagai macam budaya, baik Nusantara maupun dari bangsa-bangsa lain.

Perkembangan batik Pekalongan juga terbuka terhadap perubahan zaman. Ini menunjukkan kebebasan para perajinnya untuk terus berkreasi dalam mengembangkan berbagai ragam hias, teknik pewarnaan, dan penggunaan bahan. Kebebasan dalam berkreasi tersebut merupakan upaya menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Kota Pekalongan

Kota Pekalongan merupakan pusat kerajinan dan perdagangan batik terbesar di Indonesia. Batik merupakan identitas sekaligus sumber ekonomi penting. Denyut kegiatan yang berhubungan dengan batik seakan tak pernah berhenti di kota ini.

Citra sebagai “kota batik” melekat erat pada Pekalongan. Eratnya batik dengan Kota Pekalongan tergambar pada logo kota—baik yang lama maupun yang baru—yang memuat gambar canting.

Bersama perikanan, batik merupakan mata pencarian utama masyarakat Pekalongan. Batik menjadi ciri kultural masyarakat Pekalongan dan meresap dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun agama. Pemerintah kota bahkan menyelenggarakan festival batik secara berkala sebagai upaya untuk mengukuhkan Kota Pekalongan sebagai “kota batik”.

Logo Kota Pekalongan
Logo Kota Pekalongan baru, resmi digunakan sejak awal tahun 2015.

Sebagai sentra batik terbesar di Indonesia, produksi batik Pekalongan menyebar ke seluruh Nusantara hingga diekspor ke mancanegara. Dalam hal ini, masyarakat Pekalongan dituntut terus menghidupi seni membatik jika mereka ingin posisi ini tetap bertahan.

Dalam tegangan antara upaya untuk mempertahankan jati diri dan tuntutan menjawab tantangan zaman, mereka terus berkreasi. Tidak heran jika Pekalongan masuk di dalam jaringan kota kreatif dunia dalam kategori kerajinan dan kesenian rakyat versi UNESCO.

Pekalongan sendiri merupakan kota multibudaya. Di dalamnya, berbagai etnis hidup damai berdampingan dan saling memengaruhi. Perpaduan harmonis berbagai budaya inilah yang memberi jiwa dan energi pada terus berkembangnya industri batik di sana, dan menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif di Indonesia.

Oleh karenanya, tradisi membatik di Pekalongan berkembang secara dinamis. Setiap orang bebas mengkreasikan karya baru, memadukan dari berbagai unsur yang ada sambil menyerap unsur-unsur baru. Mereka yang bisa membaca perubahan tanpa kehilangan jati diri akan bertahan menghadapi segala tantangan.

Segala masalah akan dijawab dengan kreativitas. Hambatan yang ada tidak menjadi alasan untuk berhenti, tapi sebagai pemacu kreativitas untuk mengembangkan bentuk baru sambil mempertahankan ciri khas yang ada.

Sejarah

Batik Pekalongan telah ada sekitar tahun 1800. Namun, baru setelah terjadinya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830), batik di Pekalongan berkembang secara signifikan.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda memaksa keluarga keraton dan para pengikutnya keluar dari kerajaan. Mereka tersebar ke arah timur dan barat. Di tempat baru, mereka kemudian mengembangkan batik.

Ke arah timur, batik keraton Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Ke arah Barat, batik keraton memengaruhi perkembangan batik di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Hal inilah yang membuat batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Pada 1850, Pekalongan sudah berkembang menjadi pusat batik terkemuka di Pulau Jawa. Di kota Pekalongan, batik tumbuh menjadi sebuah industri yang semakin lama semakin berorientasi komersial, bukan lagi sekadar seni. Perkembangan batik Pekalongan juga dipengaruhi oleh ide-ide dan warna-warna dari luar negeri termasuk dari Eropa dan lebih bebas tidak terikat secara kuat pada pakem keraton.

Letak geografis yang berada di pesisir serta watak dan naluri bisnis yang kuat pada masyarakatnya menjadikan Pekalongan sebagai tempat yang sangat baik bagi para pengusaha batik. Termasuk di dalamnya pengusaha Belanda, Tionghoa, dan Arab.

Persilangan berbagai budaya yang terjadi di Pekalongan juga memengaruhi perkembangan batik. Keadaan ini menjadi lahan subur bagi kreativitas para perajin. Hasilnya, motif, corak, dan warna batik Pekalongan menjadi sangat beragam.

Kekhasan

Batik Pekalongan merupakan batik pesisir yang kaya akan warna dan berciri naturalistik. Gaya batik Pekalongan dipengaruhi oleh selera para pendatang, terutama orang Tionghoa dan Belanda.

Batik Pekalongan memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lain, yaitu sifatnya yang lebih bebas dan warnanya yang cerah dengan variasi yang kaya. Motifnya banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Belanda. Kebudayaan India, Arab, dan Jepang kemudian juga memengaruhi perkembangan warna dan motif batik Pekalongan.

Sebenarnya, motif dasar batik Pekalongan mirip dengan batik Yogya dan Solo. Masuknya pengaruh asing memperkaya motif dan warna. Dalam satu lembar kain batik Pekalongan, dapat dijumpai 7 warna sekaligus dengan kombinasi motif yang dinamis. Berbeda dengan batik keraton yang umumnya hanya terdiri atas 2 warna.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas juga karena bertopang pada banyak pengusaha kecil. Sejak dahulu, batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah penduduk. Ini mengakibatkan batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakatnya.

Sampai saat ini, Pekalongan menjadi surganya batik. Di sana juga dijual beragam kejajinan aksoseris batik untuk dipadupadankan dengan baju batik yang dipakai. Juga terdapat beragam perlengkapan rumah tangga dengan motif batik, seperti sprei, sarung bantal, korden, dan lain-lain.

Beberapa jenis dan motif batik Pekalongan di antaranya:

  • Batik motif jlamprang adalah motif khas batik Pekalongan dan paling populer dibanding motif lainnya. Motif ini menggunakan ragam hias patola dan mendapat pengaruh dari India dan Arab. Nama motif ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Pekalongan.
  • Batik encim merupakan jenis batik Pekalongan yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa.
  • Batik motif Belanda dihasilkan oleh keturunan Belanda dengan memasukkan budaya mereka misal dalam motif menggunakan motif bunga-bunga yang terdapat di Eropa, misalnya bunga Tulip.
  • Batik Jawa Hokokai merupakan pengaruh dari budaya Jepang. Batik ini dikembangkan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945).
  • Batik motif rifaiyah, yaitu motif yang mendapat pengaruh dari budaya Islam. Dalam budaya Islam, benda bernyawa tidak diperbolehkan digambar sama persis dengan aslinya. Batik rifaiyah ini biasanya diproduksi oleh keturunan Arab di Pekalongan.

Jenis batik Pekalongan yang lain, yaitu batik Jawa Baru, batik motif merak ngigel, batik terang bulan, batik tiga negeri, batik sogan Pekalongan, batik Tribusana, batik Petani, batik coletan, batik kemodelan, dan batik osdekan.

Sumber:

  • Chusnul Hayati, “Pekalongan sebagai Kota Batik 1950-2007,” diunduh dari http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa/article/view/790/843
  • Kompas, Jumat, 28 Oktober 2016.

LEAVE A REPLY

16 − 6 =