Batik Cirebon, Jejak Akulturasi Budaya dalam Seni

895
Batik Cirebon bermotif megamendung.
Motif mega mendung merupakan motif yang paling terkenal dan khas dari batik Cirebon. (Foto: KOMPAS.COM/JONATHAN ADRIAN)

1001indonesia.netBatik-batik Nusantara memiliki kekhasannya masing-masing, begitu pun dengan batik Cirebon. Motif batik khas Cirebon yang paling terkenal adalah motif mega mendung. Motif bergambar awan ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya Tionghoa yang kemudian dikembangkan oleh para seniman Cirebon sesuai dengan budaya setempat yang bercorak Islam.

Motif mega mendung bahkan menjadi ikon dan ciri khas dari batik Cirebon. Kekhasan batik mega mendung tidak hanya pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas seperti biru dan merah, tapi juga pada makna filosofis yang dikandungnya. Motif mega mendung juga sangat erat kaitannya dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.

Sejarah Batik

Batik termasuk dalam karya seni rupa bermedia kain dengan teknik pewarnaan rintang menggunakan malam (lilin) panas sebagai perintang warna. Di dunia, teknik ini dikenal sebagai wax dyeing.

Dalam sejarah batik dunia, teknik batik diperkirakan sudah ada sejak abad ke-4 SM. Belum diketahui kapan tepatnya teknik batik ini ditemukan.

Teknik rintang warna ditemukan di daerah Eropa dan Afrika. Di Asia, teknik ini ditemukan di beberapa negara, seperti Indonesia, India, Jepang, Thailand, Tiongkok, dan Turki.

Perkembangan batik di Indonesia sangat pesat dengan banyak variasi. Masing-masing daerah di Indonesia mengembangkan seni batik dengan kekhasannya masing-masing.

Karena tingginya nilai seni dan falsafah dalam batik Indonesia maka UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Indonesia patut berbangga hati atas penetapan tersebut.

Batik Cirebon

Salah satu batik Nusantara yang terkenal dan memiliki ciri khas yang kuat adalah batik Cirebon. Sejarah batik Cirebon terkait erat dengan adanmya proses akulturasi budaya dan penyebaran agama Islam oleh Sunan Gunung Jati di daerah Cirebon pada abad ke-16.

Salah satu upaya Sunan untuk menyebarkan agama Islam adalah melalui batik. Para santri Sunan yang awalnya melakukan kegiatan membatik sebagai sumber pendapatan mereka. Letak Cirebon yang berada di daerah pesisir membuat terjadinya pertukaran budaya sangat mudah.

Masuknya batik bermula ketika Pelabuhan Muara Jati (sekarang Pelabuhan Cirebon) menjadi tempat persinggahan para pedagang asing yang berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Masuknya pedagang-pedagang asing tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi berbagai budaya dan menghasilkan bentuk budaya baru. Batik Cirebon salah satunya.

Batik Cirebon memiliki 3 ragam hias, yaitu batik keratonan, batik pesisiran, dan batik pedalaman. Jika dilihat dari wilayah tumbuh-kembangnya, batik Cirebon termasuk jenis batik pesisiran yang terbuka terhadap pengaruh asing. Kerbukaan terhadap pengaruh dari luar membuat batik pesisir Cirebon memiliki motif yang beragam dan warna yang atraktif, dengan ragam hias bersifat naturalis.

Namun demikian, sebagian batik Cirebon masuk dalam kelompok batik keratonan dan batik pedalaman. Cirebon memiliki 2 keraton, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Kedua keraton tersebut memunculkan motif klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat Desa Trusmi.

Batik keratonan, sesuai namanya, dikembangkan di wilayah keraton. Berbeda dengan batik pesisiran yang motifnya berciri naturalis, ragam hias batik keratonan bersifat simbolis. Motif batik keratonan dikembangkan berdasarkan pada nilai-nilai spiritualitas dan pemurnian diri yang menekankan sifat keselarasan manusia dengan alam semesta.

Warna yang digunakan bati keratonan pun tidak sesemarak batik pesisiran. Batik keratonan umumnya berwarna lembut dengan warna dasar dasar sogan, indigo, hitam, putih. Batik keratonan dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Islam. Motifnya didominasi simbol-simbol kecirebonan, seperti batu-batuan (wadas), kereta singa barong, ganggang, naga, taman, sayap-sayap terbentang, pengantenan, bentuk hutan, dan lain-lain.

Sementara batik pedalaman dicirikan dengan warna-warna teduh dan gelap. Warnanya sangat berbeda dengan batik pesisiran dengan warna-warna cerahnya.

Dua motif yang paling terkenal dari batik Cirebon adalah corak singa wadas dan motif mega mendung. Corak singa wadas adalah corak yang dipakai dalam ornamen Keraton Kasepuhan. Motif ini kental dengan warna cokelat, hitam, dan krem.

Sementara, motif mega mendung merupakan motif khas dari Cirebon yang tidak ditemukan di tempat lain. Pengembangan motif ini mendapat pengaruh dari kebudayaan Tiongkok. Akulturasi kebudayaan Tiongkok dengan kebudayaan setempat yang bercorak Islam ini memunculkan motif batik yang sangat indah dengan kedalaman makna. Hiasan awan ini bisa diartikan sebagai harapan masyarakat Cirebon untuk mendapatkan pertolongan.

Makna lain dari motif mega mendung merujuk pada warnanya. Motif mega mendung memiliki tata warna yang berlapis-lapis, yaitu 5, 7, atau 9 warna. Jumlah lapisan warna tersebut merupakan simbol. Lapisan yang berjumlah lima, misalnya, merujuk pada rukun Islam, sedangkan yang berjumlah tujuh berarti jumlah langit yang dilalui Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra Mi’raj.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa motif mega mendung merupakan motif asli Cirebon. Penciptaannya terinspirasi pada pantulan awan di kolam air. Dari situ, lahirlah motif mega mendung dengan warna yang terdiri atas 7 lapis yang menandakan bahwa langit terdiri atas 7 lapis.

Kampung Batik Cirebon

Pusat batik Cirebon yang paling terkenal adalah Desa Trusmi. Di desa ini, terdapat banyak pengusaha batik dengan beragam ukuran, mulai dari pengusaha kecil rumahan hingga pengusaha besar.

Desa Trusmi yang terletak di Kecamatan Plered, kurang lebih delapan kilo meter ke arah barat dari pusat Keraton Kesepuhan Cirebon, merupakan sentra kerajinan batik ternama. Di sepanjang jalan desa ini banyak berdiri showroom batik berselang-seling dengan rumah penduduk.

Desa Trusmi dibagi menjadi 2, yaitu Trusmi Kulon dan Trusmi Wetan. Ada beberapa desa di sekitar Trusmi yang juga menjadi pusat produksi batik, di antaranya adalah Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan.

Menurut cerita masyarakat setempat, batik Trusmi disebarkan oleh pemuka agama Islam, Ki Buyut Trusmi. Awalnya Ki Buyut Trusmi bersama Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di desa tersebut sambil mengajarkan membatik pada penduduk setempat yang akhirnya membuat desa ini dikenal sebagai kampung batik.

Begitu terkenalnya kampung batik Trusmi hingga batik Cirebon identik dengan sebutan batik Trusmi. Pengusaha batik Trusmi umumnya membuat batik untuk jarit, sarung, ikat kepala, dan keperluan sandang lainnya, serta barang rumah tangga seperti taplak, sarung bantal dan sebagainya.

Beragam cinderamata batik yang diproduksi sangat terkenal. Sebab itu, Trusmi ditetapkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata belanja di Kabupaten Cirebon.

*) Diolah dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × four =