Batik Banyuwangi, Kesakralan Batik Warisan Leluhur

775
batik nusantara

1001indonesia.net – Seni tenun dan batik tersebar ke seantero Nusantara. Masing-masing daerah memiliki keunikannya sendiri. Bagi masyarakat Nusantara tradisional, kain tidak sekadar berfungsi sebagai pakaian, tapi sarat akan makna simbolis dan terkait dengan hal-hal yang bersifat sakral. Hal ini tampak jelas pada batik Banyuwangi.

Warga asli Banyuwangi, orang Using, menghormati batik sebagai warisan leluhur dan merawatnya dengan sepenuh hati. Orang using menghargai batik secara mendalam, terutama ketika hari Lebaran. Saat itu, batik Banyuwangi menjadi sesuatu yang sangat spesial, sebagai representasi kehadiran leluhur.

Orang using mewarisi batik secara turun-temurun. Oleh orang using, kain bercorak yang sudah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity ini disimpan dan dirawat dengan sangat baik sehingga dapat berusia ratusan tahun.

Tempat penyimpanan yang digunakan berupa blek atau kotak kaleng—bisa juga stoples kaca atau tempat lainnya—kedap udara yang membuat batik terhindar dari jasad renik yang dapat merusak kain.

Batik warisan leluhur biasanya hanya dikeluarkan pada momentum istimewa saja, seperti perayaan Lebaran, acara pernikahan, dan saat ritual yang berkaitan dengan tradisi.

Fungsi Sakral Batik Banyuwangi

Saat hari raya Idul Fitri atau Lebaran dipercaya leluhur akan “pulang”. Untuk menyambut para leluhur yang “pulang” itu disiapkanlah batik kuno warisan leluhur yang disandingkan dengan bantal dan sesaji selama 7 hari masa Lebaran.

Makanan sebagai sesaji yang disiapkan berupa sirih, kendi, minuman, buah, serta aneka kue warisan leluhur ketika masih hidup. Setiap hari selama tujuh hari, makanan sebagai sesaji atau sandingan diganti dengan yang baru.

Pada malam menjelang Lebaran, para kerabat dan tetangga akan berkumpul dan berdoa bersama di ruang tengah ditemani batik Banyuwangi, bantal, dan sesaji sebagai representasi kehadiran leluhur. Acara ini ditutup oleh makan bersama berbagai hidangan khas Lebaran, seperti ketupat, opor, dan pepes jeroan yang disiapkan oleh tuan rumah. Menurut laporan Kompas, sampai saat ini tradisi ini masih dilakukan oleh orang tua. Sementara generasi mudanya sudah jarang melakukannya.

Tidak hanya pada tradisi menyambut leluhur di hari raya Lebaran, kain batik warisan leluhur juga dikenakan pada acara ritual barong ider bumi. Saat ritual ini, perempuan desa menggunakan batik Banyuwangi ini sebagai udeng atau ikat kepala. Juga pada acara pernikahan, kain batik kuno dipakai sebagai sewek.

Dalam ritual tarian seblang dan gandrung, fungsi sakral batik Banyuwangi ini kian kentara. Terutama pada tarian seblang yang hanya digelar pada saat-saat sakral. Tarian yang hingga kini mempertahankan roh mistisnya ini ditarikan oleh perempuan paradoks, yaitu gadis yang belum haid atau perempuan yang sudah masuk masa menopuase. Para penari dan penabuh gamelan menggunakan kain batik kuno sebagai ikat kepala.

Batik Bangywangi dengan motif gajah oling. (Foto: banyuwangibagus.com)
Batik Bangywangi dengan motif gajah oling. (Foto: banyuwangibagus.com)

Ada 21 motif batik yang digandrungi masyarakat Banyuwangi, seperti gajah oling, paras gempal, kangkung setingkes, dan blarak semplah. Motif flora dan fauna menjadi ciri khas batik Banyuwangi.

Di antara motif-motif yang ada, gajah oling merupakan motif yang paling kuno dan khas Banyuwangi. Bagi orang Using, motif yang serupa sulur berbentuk S terbalik atau tanda tanya ini sarat akan nilai-nilai luhur. Motif inilah yang paling disakralkan, dan saat ini menjadi salah satu identitas daerah Banyuwangi.

Penghormatan masyarakat using terhadap batik kuno warisan leluhur berkaitan dengan tradisi penghormatan terhadap leluhur yang dimiliki oleh hampir setiap daerah di Nusantara. Pada hari-hari tertentu, leluhur dipercaya hadir. Saat itu, batik yang sudah berusia ratusan tahun itu menjadi media penyambung anak-cucu dengan roh para leluhur.

Sumber utama: Kompas, Edisi Minggu, 17 Juli 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 1 =