Arak Damping, Dendang Melayu Khas Pulau Banyak, Aceh Singkil

676
Arak Damping
Para pemain arak damping atau dendang Melayu sedang beraksi memainkan musiknya. (Foto: KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

1001indonesia.net – Kabupaten Aceh Singkil yang terletak di bagian barat pulau Sumatra adalah daerah yang memiliki panorama alam yang sangat memesona. Daerah yang sebagian wilayahnya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ini juga memiliki kekayaan seni dan budaya. Salah satunya permainan musik arak damping.

Permainan musik arak damping adalah dendang musik Melayu khas Pulau Banyak, kepulauan yang terletak di bagian barat Aceh Singkil. Arak damping dimainkan sudah sejak dulu kala. Biasanya untuk mengiringi acara-acara adat, seperti khinatan, pernikahan, dan juga sebagai pengiring tarian khas pulau Banyak.

Sebenarnya, permainan arak damping tak sekadar memainkan musik belaka. Di dalamnya terdapat dendang syair berisi petuah yang disampaikan kepada mempelai hingga para pemimpin, tergantung acaranya.

Arak damping sendiri bermakna rombongan pedamping. Rombongan itu mendampingi atau menjadi penghibur dalam berbagai acara adat dengan memainkan dendang musik Melayu khas Pulau Banyak.

Para pemain musik ini berjumlah sekitar 5-15 orang. Biasanya, seorang memainkan biola dan sisanya memainkan rebana. Salah satu dari pemusik ini nantinya akan mendendangkan syair. Pelantun syair bisa satu orang, bisa juga diperankan secara bergantian. Syair yang dilantunkan berisi petuah. Isinya menyesuaikan acara atau kegiatan yang berlangsung.

Kesenian arak damping sudah berkembang sejak lama di gugus Kepulauan Banyak. Konon, kebudayaan ini dibawa pendatang, terutama asal Minangkabau, Sumatra Barat, yang memang menjadi suku terbesar di Pulau Banyak dan Aceh Singkil. Hal ini turut dipengaruhi sejarah daerah yang pernah menjadi pintu gerbang utama perdagangan dan masuknya Islam di barat Aceh.

Dulu, semenjak kecil, orang-orang di Pulau Banyak sudah dilatih bermain rebana, dan mendendangkan syair. Dengan demikian, permainan musik tradisional ini terus berkelanjutan dari generasi ke generasi. Namun, sejak bencana tsunami 2004, arak damping mulai tersisih. Kini, warga lebih suka memakai jasa organ tunggal untuk menghibur tamu dalam hajatan.

Generasi muda Pulau Banyak sudah tidak tertarik lagi berlatih arak damping karena dinilai kurang menarik dan tidak menghasilkan. Akibatnya, regenerasi arak damping tersendat. Pemain yang ada kini usianya rata-rata 45-65 tahun. Bukan tidak mungkin, kesenian ini punah seiring waktu. Tentu, bukab suatu yang kita inginkan.

Kepulauan Banyak sendiri merupakan gugus 99 pulau yang menyimpan keindahan alam luar biasa dengan terumbu karang dan penyu hijaunya. Saat ini, kawasan yang memiliki potensi pariwisata ini sedang mendapatkan perhatian pemerintah untuk dipromosikan menjadi objek wisata andalan, salah satunya melalui Festival Pulau Banyak yang digelar pada 24-25 Juli 2016. Kekayaan budaya tentu menjadi salah satu komponen utama jika kita ingin mengenalkan kawasan ini pada dunia.

Sumber: Kompas, 19 September 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 2 =