Angkutan Umum di Jakarta dari Masa ke Masa

43422
Angkutan Umum di Jakarta dari Masa ke Masa
Trem listrik sempat menjadi sarana angkutan umum di Kota Jakarta. (Foto: harianinhuaonline.com)

1001indonesia.net – Angkutan umum merupakan salah satu sarana vital bagi mobilitas penduduk Jakarta. Sejak masa Batavia pada era Hindia Belanda hingga menjadi ibu kota Republik Indonesia, Jakarta telah mengenal berbagai moda transportasi umum yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari. Perkembangan transportasi tersebut mencerminkan pertumbuhan kota dan perubahan kebutuhan mobilitas warganya.

Berikut beberapa transportasi umum yang pernah digunakan di Jakarta sejak masa Hindia Belanda.

Delman

Foto: Merdeka.com

Pada masa kolonial Hindia Belanda, delman merupakan salah satu sarana transportasi yang banyak digunakan masyarakat, termasuk di Batavia. Kendaraan ini ditarik oleh kuda dan menjadi alat transportasi penting sebelum berkembangnya kendaraan bermotor. Delman digunakan secara luas hingga pertengahan abad ke-20, kemudian perannya berangsur-angsur tergantikan oleh moda transportasi bermotor.

Menurut penjelasan yang banyak ditemukan dalam literatur populer Indonesia, istilah “delman” berasal dari nama seorang Belanda bernama Charles Théodore Deeleman yang dikaitkan dengan pengenalan kereta kuda tersebut pada masa kolonial. Beberapa sumber juga menyebut Deeleman sebagai seorang insinyur yang bekerja di Batavia.

Saat ini, delman digunakan untuk menambah daya tarik berbagai tempat wisata di Jakarta, seperti di Taman Margasatwa Ragunan dan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan.

Trem

Foto: Wikipedia

Ketika delman masih menjadi sarana transportasi masyarakat Batavia, perusahaan-perusahaan swasta yang memperoleh konsesi dari pemerintah kolonial juga mengembangkan trem sebagai angkutan umum berkapasitas lebih besar. Trem pertama yang beroperasi di Batavia adalah trem kuda yang mulai melayani penumpang pada 1869. Trem ini berjalan di atas rel dan ditarik beberapa ekor kuda.

Pengembangan trem kuda dikaitkan dengan Martinus Petrus Smissaert, seorang pengusaha yang memperoleh konsesi untuk mengoperasikan jaringan trem di Batavia. Namun, penggunaan kuda menimbulkan berbagai kendala, antara lain tingginya kebutuhan perawatan hewan serta masalah kebersihan di sepanjang jalur yang dilalui.

Sejak awal dekade 1880-an, trem kuda secara bertahap digantikan oleh trem uap. Pada akhir abad ke-19, trem listrik mulai beroperasi dan kemudian menjadi moda transportasi yang lebih dominan. Salah satu operator utamanya adalah Bataviasche Electrische Tram-Maatschappij (BETM), yang mengoperasikan sejumlah jalur di berbagai kawasan Batavia.

Setelah Indonesia merdeka, perusahaan-perusahaan transportasi peninggalan kolonial diambil alih pemerintah. Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, kebijakan transportasi perkotaan mulai beralih ke penggunaan bus sehingga layanan trem dihentikan secara bertahap. Rel-rel trem yang tidak lagi digunakan kemudian ditutup atau ditimbun, menandai berakhirnya era trem di Jakarta.

Becak

Foto: Tribunnews.com

Becak mulai dikenal dan digunakan di Indonesia sejak sekitar dekade 1930-an, meskipun asal-usul dan jalur masuknya ke Indonesia masih menjadi perdebatan. Di Jakarta, becak menjadi salah satu moda transportasi rakyat yang banyak digunakan untuk perjalanan jarak pendek. Kendaraan roda tiga yang digerakkan dengan tenaga manusia ini umumnya mangkal di kawasan permukiman, pasar, stasiun, dan pusat kegiatan masyarakat.

Becak berfungsi sebagai angkutan penghubung yang membantu warga mencapai tujuan yang tidak terjangkau kendaraan umum berkapasitas besar. Pada pertengahan 1960-an, jumlah becak di Jakarta diperkirakan mencapai sekitar 160.000 unit.

Namun, seiring meningkatnya volume lalu lintas dan berkembangnya transportasi bermotor, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melakukan penertiban terhadap becak.

Pada akhir 1980-an, operasional becak dilarang di sebagian besar wilayah ibu kota dengan alasan antara lain untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas, keselamatan, dan ketertiban kota. Sejak saat itu, becak tidak lagi menjadi bagian dari sistem transportasi umum resmi di Jakarta, meskipun dalam beberapa periode masih ditemukan becak yang beroperasi secara terbatas atau tidak resmi.

Oplet

Foto: Falcon Fictures

Oplet merupakan kendaraan angkutan penumpang berukuran kecil yang mulai dikenal luas di Indonesia pada pertengahan abad ke-20 dan menjadi sangat populer pada 1950-an hingga 1970-an. Di Jakarta, oplet menjadi salah satu moda angkutan umum yang paling banyak digunakan sebelum hadirnya angkutan kota yang lebih modern.

Asal-usul istilah “oplet” tidak diketahui secara pasti. Salah satu pendapat yang populer mengaitkannya dengan merek mobil Opel yang banyak digunakan sebagai kendaraan angkutan penumpang pada masa awal perkembangannya di Indonesia.

Pada akhir 1970-an, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah Gubernur Tjokropranolo menjalankan program peremajaan angkutan umum yang secara bertahap menggantikan oplet dengan kendaraan yang lebih modern, termasuk mikrolet.

Nama oplet kembali dikenal luas pada 1990-an melalui sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang ditayangkan oleh RCTI. Dalam sinetron tersebut, oplet menjadi salah satu ikon yang lekat dengan kehidupan keluarga Doel yang diperankan oleh Rano Karno.

Bemo

Foto: Gadis.co.id

Bemo merupakan kendaraan roda tiga bermotor yang mulai diperkenalkan di Jakarta pada awal 1960-an. Kehadirannya berkaitan dengan upaya penyediaan sarana transportasi perkotaan pada periode awal 1960-an, termasuk menjelang penyelenggaraan GANEFO di Jakarta.

Bemo, yang secara populer sering disebut sebagai singkatan dari “becak motor”, merupakan kendaraan roda tiga bermotor, terutama buatan Jepang seperti Daihatsu Midget, yang digunakan sebagai angkutan umum jarak pendek di kawasan perkotaan dengan jalan sempit. Meskipun istilah tersebut tidak memiliki asal-usul resmi yang dapat dipastikan, sebutan “becak motor” telah lama digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kendaraan ini sempat menjadi salah satu moda angkutan umum yang cukup populer di Jakarta pada 1960–1970-an. Namun, sejak dekade 1970-an, perannya mulai berkurang seiring berkembangnya angkutan kota yang lebih modern dan berkapasitas lebih besar.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian melakukan pengurangan armada bemo secara bertahap sebagai bagian dari kebijakan penataan dan modernisasi transportasi perkotaan. Meski demikian, bemo masih dapat dijumpai secara terbatas di beberapa wilayah Jakarta hingga awal 2000-an sebelum akhirnya menghilang dari lalu lintas ibu kota.

Helicak

Foto: awansan.com

Pada awal 1970-an, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah Gubernur Ali Sadikin memperkenalkan helicak sebagai salah satu upaya alternatif angkutan umum pengganti becak, yang saat itu dinilai kurang sesuai dengan arah modernisasi transportasi perkotaan.

Nama “helicak” merupakan gabungan dari kata “helikopter” dan “becak”, meskipun istilah ini bersifat populer dan tidak memiliki etimologi resmi yang terdokumentasi secara pasti. Kendaraan ini berbasis skuter Lambretta yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda tiga dengan kabin penumpang.

Dalam operasionalnya, pengemudi berada di bagian belakang, sementara penumpang duduk di bagian depan dalam kabin tertutup. Desain ini memberikan perlindungan dari panas, hujan, dan debu, meskipun sebagian pihak menilai aspek keselamatannya kurang ideal.

Helicak tidak berkembang luas dan hanya bertahan dalam waktu singkat di Jakarta. Kendaraan ini kemudian tidak lagi digunakan dan menghilang secara bertahap pada era 1970-an hingga 1980-an.

Taksi

Foto: Bluebird

Blue Bird mulai mengembangkan layanan taksi argo modern di Indonesia pada awal 1970-an. Layanan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan transportasi mobil penumpang di Jakarta dengan sistem tarif berbasis argo yang lebih terukur dan transparan.

Istilah “taksi” sendiri berasal dari kata taximeter, yaitu alat yang digunakan untuk menghitung tarif berdasarkan jarak dan/atau waktu perjalanan, sehingga biaya yang harus dibayar penumpang dapat ditentukan secara lebih objektif.

Bajaj

Foto: Wikipedia

Bajaj mulai dikenal dan berkembang di Jakarta pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an sebagai salah satu moda angkutan umum beroda tiga. Kendaraan ini memiliki satu roda di depan dan dua roda di belakang, serta menggunakan kemudi berupa setang seperti sepeda motor.

Di Jakarta, bajaj dikenal dalam beberapa warna, dengan oranye sebagai warna klasik dan biru pada generasi yang lebih modern, terutama pada era bajaj berbahan bakar gas (CNG). Kendaraan ini biasanya beroperasi dalam batas wilayah tertentu (trayek/zona) di dalam kota.

Kapasitas bajaj umumnya adalah dua penumpang, dengan posisi penumpang berada di belakang pengemudi. Karena ukurannya yang kecil, bajaj efektif digunakan untuk perjalanan jarak pendek dan mampu menerobos kemacetan.

Saat ini, banyak bajaj di Jakarta telah menggunakan bahan bakar gas (CNG) yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar sebelumnya.

Angkutan Kota atau Mikrolet

Foto: Antaranews.com

Mikrolet mulai berkembang di Jakarta pada awal 1970-an sebagai bagian dari modernisasi angkutan umum perkotaan, terutama sebagai pengganti oplet secara bertahap dan pelengkap moda transportasi yang sudah ada.

Istilah “mikrolet” berasal dari konsep microbus atau minibus kecil yang digunakan sebagai angkutan penumpang dalam skala kota.

Mikrolet berkapasitas lebih besar dibandingkan oplet dan menjadi salah satu moda transportasi utama di Jakarta selama beberapa dekade.

Hingga saat ini, mikrolet masih beroperasi, meskipun sebagian layanannya telah terintegrasi ke dalam sistem transportasi publik Jakarta seperti JakLingko, yang menghubungkan berbagai moda transportasi umum.

Bus dan Minibus

Foto: Merdeka.com

Bus dan minibus mulai berkembang di Jakarta pada pertengahan abad ke-20 seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas di kota yang terus tumbuh pesat. Moda ini kemudian menjadi salah satu tulang punggung transportasi perkotaan karena mampu menjangkau berbagai wilayah, mulai dari jalan utama hingga kawasan permukiman.

Salah satu operator penting adalah Perum PPD. Berawal dari sistem transportasi era kolonial yang kemudian dinasionalisasi, PPD mengoperasikan berbagai jenis bus, termasuk bus besar dan pada periode tertentu juga bus tingkat yang digunakan secara terbatas di beberapa rute utama dalam kota. Pada masa 1960–1980-an, PPD menjadi salah satu operator utama angkutan bus resmi di Jakarta.

Seiring pertumbuhan kota, muncul angkutan bus berukuran lebih kecil dan lebih lincah seperti Metromini dan Kopaja. Keduanya berkembang sejak era 1960–1970-an dan menjadi bagian penting dari mobilitas warga Jakarta selama beberapa dekade berikutnya.

Metromini dioperasikan oleh perusahaan swasta, sementara Kopaja berbasis koperasi. Keduanya melayani rute-rute dalam kota dengan jangkauan yang lebih fleksibel, menjangkau kawasan permukiman serta jalan-jalan yang tidak selalu dilalui bus besar.

Foto: Kabarpenumpang.com

Dalam periode 1970–1990-an, PPD, Metromini, Kopaja, dan bus tingkat hidup berdampingan dalam sistem transportasi Jakarta yang belum terintegrasi secara menyeluruh, dengan masing-masing memiliki peran berbeda dalam melayani kebutuhan mobilitas warga.

Memasuki awal abad ke-21, sistem transportasi Jakarta mulai mengalami perubahan besar dengan hadirnya TransJakarta pada tahun 2004, yang secara bertahap mengubah pola layanan angkutan bus konvensional.

Bus Transjakarta

Foto: Indonesia.go.id

Diperkenalkan pada 2004 dan masih beroperasional hingga saat ini, bus Transjakarta hadir untuk memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, dan terjangkau bagi warga Jakarta.

TransJakarta diperkenalkan sebagai sistem bus rapid transit (BRT) pertama di Indonesia dan menjadi salah satu pelopor sistem BRT modern di Asia. Sistem ini mulai diujicobakan untuk publik pada 15 Januari 2004, dengan operasi komersial dimulai pada 1 Februari 2004.

Ciri khas utamanya adalah penggunaan jalur khusus (busway), halte yang distandarisasi, serta layanan berjadwal yang dirancang untuk meningkatkan kecepatan dan kapasitas angkutan umum di tengah kemacetan Jakarta.

Kehadiran TransJakarta menjadi tonggak penting dalam modernisasi transportasi perkotaan karena memperkenalkan sistem angkutan massal berbasis koridor yang lebih tertib dan terstruktur. Dalam perkembangannya, jaringan TransJakarta terus diperluas dan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi lain di Jakarta.

Transportasi Online

Foto: Warta Ekonomi

Sekitar tahun 2014–2015, muncul gelombang baru dalam mobilitas perkotaan yang berasal dari sektor swasta, yaitu layanan transportasi berbasis aplikasi digital. Layanan ini mencakup ojek online, taksi online, serta pengantaran barang dan makanan, dengan pelaku utama seperti Gojek dan Grab.

Kehadiran transportasi online memberikan fleksibilitas tinggi, kemudahan akses melalui telepon pintar, serta efisiensi perjalanan yang sering kali mampu mengatasi keterbatasan moda transportasi konvensional.

Meskipun bukan bagian dari sistem transportasi publik massal yang dikelola pemerintah, layanan ini kemudian menjadi pelengkap penting dalam ekosistem transportasi Jakarta, terutama untuk perjalanan jarak pendek dan sebagai penghubung menuju halte atau stasiun transportasi massal (first-mile dan last-mile).

JakLingko

Foto: Warta Kota

Seiring berkembangnya berbagai layanan transportasi di Jakarta, muncul kebutuhan untuk mengintegrasikan moda yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Upaya ini dimulai melalui program OK OTrip pada tahun 2017, yang kemudian berkembang menjadi JakLingko pada tahun 2018.

Pada tahap awal, JakLingko berfokus pada integrasi layanan angkutan kota dengan jaringan TransJakarta melalui penataan rute, peningkatan standar pelayanan, dan sistem tiket yang lebih terkoordinasi. Dalam perkembangannya, JakLingko diperluas untuk mengintegrasikan MRT Jakarta, LRT Jakarta, KRL Commuter Line, serta berbagai layanan transportasi publik lainnya.

Pengembangan JakLingko mencakup integrasi jaringan layanan, sistem pembayaran non-tunai, informasi perjalanan, serta integrasi tarif antarmoda yang diterapkan secara bertahap. Program ini menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem transportasi publik yang lebih terpadu di Jakarta.

MRT

Foto: Idntimes.com

Untuk mengatasi kebutuhan transportasi massal berkapasitas besar, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan Moda Raya Terpadu (MRT). Konstruksi MRT Jakarta dimulai pada Oktober 2013, dan layanan resmi dibuka untuk publik pada 24 Maret 2019.

MRT merupakan sistem angkutan cepat berbasis rel yang melayani koridor utama Jakarta dengan kapasitas besar dan waktu tempuh yang stabil karena tidak terpengaruh kemacetan lalu lintas. Sebagai sistem metro modern pertama di Indonesia yang menggabungkan jalur layang dan bawah tanah, MRT Jakarta menjadi tonggak penting dalam pengembangan transportasi massal perkotaan. Kehadirannya mendorong peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum sekaligus memperkuat integrasi jaringan transportasi di Jakarta.

MRT atau Moda Raya Terpadu mulai dibangun pada 10 Oktober 2014 dan diresmikan pada 24 Maret 2019. Saat ini, MRT merupakan angkutan umum termodern di Jakarta. Sejak diresmikan dan beroperasi, MRT menjadi primadona warga Jakarta.

LRT Jakarta

Foto: Jakarta.go.id

Pada tahun yang sama, Jakarta juga menghadirkan moda transportasi rel ringan melalui LRT Jakarta. Sistem ini mulai beroperasi secara komersial pada 1 Desember 2019 dan menjadi layanan light rail transit (LRT) pertama yang beroperasi di Jakarta.

LRT Jakarta menggunakan jalur rel layang dan pada tahap awal melayani rute Velodrome–Pegangsaan Dua. Moda ini dirancang untuk meningkatkan konektivitas pada koridor yang belum dilayani MRT sekaligus memperkuat jaringan transportasi berbasis rel di Jakarta. Kehadirannya melengkapi peran MRT, KRL Commuter Line, dan TransJakarta dalam menyediakan pilihan transportasi publik yang lebih beragam dan terintegrasi.

Menuju Sistem Transportasi Terintegrasi

Perkembangan TransJakarta, transportasi online, JakLingko, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta mencerminkan transformasi besar sistem transportasi Jakarta dalam dua dekade terakhir. Dari kondisi awal 2000-an yang masih didominasi layanan terpisah dan berbasis moda individual, Jakarta bergerak menuju sistem transportasi publik yang semakin terhubung melalui integrasi jaringan, pembayaran, dan konektivitas antarmoda.

Melalui pengembangan JakLingko, integrasi difokuskan pada TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dalam satu ekosistem layanan. Integrasi ini mencakup konektivitas perjalanan dan skema tarif bersubsidi untuk perjalanan lanjutan antarmoda dalam periode dan ketentuan tertentu sesuai kebijakan yang berlaku.

Sementara itu, KRL Commuter Line telah terhubung dalam sistem pembayaran transportasi Jabodetabek berbasis kartu elektronik, namun belum termasuk dalam skema tarif integrasi JakLingko seperti moda perkotaan lainnya.

Secara bertahap, Jakarta membangun ekosistem transportasi publik yang lebih efisien, terjangkau, dan saling terhubung. Tujuannya adalah memastikan perpindahan antarmoda dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui integrasi layanan, sistem pembayaran, dan simpul transportasi yang semakin terkoordinasi.

*Artikel diperbarui pada 24 Juni 2026.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + fifteen =