Alat Penghalus Tradisional: Cobek, Lesung, dan Lumpang

oleh Siti Muniroh

111
Cobek merupakan salah satu alat penghalus tradisional Indonesia. Keberadaannya sudah ada sejak Zaman Batu. (Foto: bersihpedia.com)

1001indonesia.net – Alat penghalus tradisional yang umumnya dikenal di Indonesia ada tiga, yaitu cobek, lesung, dan lumpang. Cobek dikenal sebagai wadah untuk membuat aneka sambal. Cobek juga berfungsi untuk menghancur-lumatkan rempah-rempah (baik rempah bumbu masakan maupun rempah jamu). Sementara lesung dan lumpang lebih banyak digunakan untuk bahan-bahan yang keras dan dalam jumlah yang lebih banyak, seperti padi, kopi, dan gaplek (ketela yang dikeringkan).

Cobek memiliki nama lain, yaitu layah atau lemper. Dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan coét atau cowét, dan dalam bahasa Jawa disebut cowek atau coek. Alat penghalus tradisional ini dilengkapi dengan alat penghancur yang disebut ulekan. Dalam bahasa Sunda, ulekan disebut mutu, sementara dalam bahasa Jawa disebut munthuuleg-uleg, atau ulegan.

Cobek terbuat dari macam-macam bahan, di antaranya batu, semen, kayu keras, tanah liat, keramik, atau logam (kuningan atau baja antikarat). Biasanya bahan yang lazim digunakan adalah batu alam, batu kali, atau batu andesit (batu vulkanik gunung berapi).

Bentuknya ada yang menyerupai mangkuk besar, ada pula yang berbentuk piring.

Alat semacam ini ternyata sudah digunakan oleh manusia sejak zaman batu (sekitar 35.000 tahun SM). Cobek merupakan salah satu alat tertua yang digunakan manusia sejak Zaman Batu.

Di Yunani, ditemukan artefak dari sekitar kurun waktu 3.200 sampai 2.800 SM yang menunjukkan bahwa alat yang digunakan untuk mengekstraksi atau menumbuk zat pigmen pewarna diambil dari batu-batuan.

Di Amerika, penumbuk aneka bahan disebut guacamole, sementara di Spanyol disebut gazpacho. Dalam Bahasa Inggris cobek disebut mortar, dan ulekan disebut pestle.

Macam-Macam Cobek

Cobek Batu

Karena terbuat dari batu, cobek jenis ini biasanya berat. Ada bermacam-macam batu yang bisa dipakai sebagai bahan, yaitu batu kali, batu gunung, maupun batu candi. Ukurannya bervariasi, tetapi biasanya berdiameter sekitar 17-60 cm.

Bentuknya agak cekung dengan ulekan dari batu sebagai pasangannya. Jenis ini banyak disukai masyarakat karena bahan-bahan segera halus bila ditumbuk di wadah ini lantaran permukaan cobek yang kasar dan keras serta ulekannya yang kuat dan berat.

Cobek yang baru ada baiknya digunakan untuk menghaluskan garam. Dengan cara ini kita dapat mengetahui apakah cobek tersebut dari batu asli atau hanya lapisan. Dengan menghaluskan garam akan terkikis lapisan warnanya. Jika cobek batu asli maka warnanya tidak berubah.

Cara kedua, kucurkan air keran ke cobek untuk beberapa saat. Dengan cara ini, lapisan batu pada cobek yang kualitasnya kurang baik akan terlepas dan tidak akan tercampur dalam bumbu yang akan dihaluskan.

Salah saru daerah di Indonesia yang menjadi sentra perajin cobek dan ulekan batu adalah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, lokasinya dekat Candi Borobudur.

Cobek Kayu

Cobek kayu jelas lebih ringan dari cobek batu. Ukuran diameternya mulai dari 12 cm, biasanya terbuat dari kayu jati, sonokeling, dan palem.

Jenis cobek ini dapat menghasilkan sambal yang sedap. Namun, ada kekurangannya juga. Jika sudah dipakai lama, kayu akan terkikis dan serpihannya bisa saja bercampur dengan sambal. Selain itu, bila terlalu lama terkena cairan, cobek kayu ini dapat lembap mengembang dan bahkan berjamur.

Cobek Semen

Cobek jenis ini adalah cobek yang sebisa mungkin dihindari oleh banyak orang. Sebab, permukaannya sering kali ikut terkikis bersama bahan-bahan yang tengah dihancurkan. Oleh karena itu, para penjual menaruhnya berjajar dengan cobek batu guna memperoleh dampak yang samar-samar dalam pandangan para pembeli.

Para pembeli dapat berhati-hati dan mencoba memeriksanya dengan cara memberi sedikit air dan lihat apakah semen tersebut luntur atau tidak. Jika luntur, sudah jelas bahwa cobek itu terbuat dari semen.

Cobek Tanah Liat

Sejak dulu, kerajinan gerabah ini memang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Negara-negara lain juga mempunyai kerajinan dari tanah liat ini. Cobek yang terbuat dari bahan ini tentu lebih ringan dari batu, dan permukaannya tidak terkikis dan bercampur dengan bahan-bahan yang diulek.

Namun, jenis ini mudah pecah. Kualitasnya berbeda-beda, tergantung dari berapa lama dan seberapa panas tanah liat tersebut dibakar. Harganya mulai dari sekitar Rp10.000, dengan diameter mulai sekitar 14 cm.

Ulekan yang menjadi pasangan cobek tanah liat ini berbahan dari akar kelapa yang besar. Akar kelapa dikenal dengan seratnya yang besar-besar dan kasar. Sangat cocok untuk menggerus bahan-bahan sambal.

Umumnya, cobek jenis ini dipakai untuk mengolah sambal, bumbu-bumbu pecel, maupun penyetan.

Cobek Keramik

Bersama dengan ulekan yang juga terbuat dari keramik, jenis ini lazim digunakan oleh apoteker untuk melumat dan mencampur bahan obat-obatan dalam kegiatan farmasi.

Lesung dan Lumpang

Selain cobek, alat penghalus tradisional di Indonesia adalah lesung dan lumpang. Kedua alat ini juga sudah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Nusantara sejak dulu.

Lesung

Lesung dibuat untuk menumbuk padi agar kulit gabah atau sekam (dalam bahasa Jawa disebut merang) terlepas dari beras. Lesung adalah alat tradisional berbentuk cekung, terbuat dari kayu besar yang dibentuk seperti perahu berukuran kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 cm.

Gabah-gabah yang telah dijemur, ditaruh di dalam cekungan lesung lantas ditumbuk dengan alu atau antan (tongkat tebal yang terbuat dari kayu). Alu digunakan untuk menumbuk gabah maupun kopi pada lumpang. Bentuk alu seperti tabung dengan diameter sekitar 7 cm (tergantung besarnya lesung).

Lumpang

Lumpang merupakan wadah yang berbentuk bejana dan terbuat dari kayu atau batu untuk menumbuk padi, kopi, maupun bahan olahan lainnya. Pesatnya mekanisasi pertanian membuat lumpang tidak lagi banyak digunakan. Meski begitu, sesekali masih digunakan untuk menumbuk singkong kala seseorang hendak membuat getuk.

Dahulu, banyak sekali ditemui lumpang batu karena melimpahnya batu andesit yang merupakan bahan baku alat ini. Batu andesit yang juga merupakan bahan pembuatan candi, banyak sekali terdapat di sungai-sungai Pulau Jawa. Sementara masyarakat di pulau lain biasa menggunakan lesung kayu karena kayu lebih mudah didapatkan ketimbang batu andesit.

Dari beberapa penggalian purbakala, diperoleh kesimpulan bahwa lumpang batu telah ada sejak zaman prasejarah. Lumpang batu purba ditemukan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, serta Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Di kecamatan Gunung Megang, Muara Enim, Sumatera Selatan, ditemukan lumpang batu megalitik.

LEAVE A REPLY

three × five =