Martha Christina Tiahahu, Perjuangan Seorang Gadis Melawan Penjajah

1552
Monumen Martha C Tiahahu di Desa Abubu, Pulau Nusalaut, Maluku. (Foto: kecamatannusalaut.blogspot.co.id)

1001indonesia.net – Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Maluku Tengah, tepatnya di Desa Abubu, Pulau Nusalaut, Anda akan melihat sebuah tugu perjuangan berupa patung seorang gadis memegang tombak. Monumen tersebut dibangun untuk mengingat perjuangan seorang gadis belia berusia 17 tahun bernama Martha Christina Tiahahu melawan penjajah Belanda.

Selain di Pulau Nusalaut, patung serupa juga terdapat di bukit Karang Panjang, Ambon. Bedanya, di Nusa Laut, Martha Christina Tiahahu tangan kirinya sedang menunjuk ke arah Benteng Beverwijk sementara tangan kanannya memegang tombak.

Sementara yang di Karang Panjang, tangan kanan sama memegang tombak, tapi tangan kiri berada pinggang.

Kedua monumen itu menjadi simbol keberanian kaum perempuan Maluku membela negerinya melawan penindasan yang dilakukan penjajah Belanda.

Nama Martha Christina Tiahahu begitu harum di Kepulauan Maluku. Wanita yang dilahirkan pada 4 Januari 1800 di Desa Abubu dalam keluarga Tiahahu dari kelompok Soa Uluputi ini dikenal akan ketegasan dan keberaniannya.

Salah satu cerita yang menggambarkan keberaniannya adalah saat ia kehabisan amunisi dalam pertempuran menghadapi Belanda, ia pantang menyerah. Sebagai ganti senapan, ia melawan musuh dengan melempari batu.

Prangko bergambar Martha Christina Tiahahu. (Foto: wikipedia)
Prangko bergambar Martha Christina Tiahahu. (Foto: wikipedia)

Sedari kecil, Martha sudah mengikuti ayahnya melawan penjajah. Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, adalah salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku.

Dengan rambut panjang terurai serta ikat kepala merah, gadis belia ini angkat senjata mendampingi ayahnya melawan penjajah di Pulau Nusalaut dan Pulau Saparua.

Pada saat yang sama, Kapitan Pattimura juga sedang mengangkat senjata melawan kekuasaan Belanda di Pulau Saparua. Perlawanan di Saparua menjalar ke Nusalaut dan daerah sekitarnya.

Setelah ayah dan teman-temannya tertangkap dan dihukum mati, ia melanjutkan gerilya bersama masyarakat Maluku. Kobaran semangatnya turut membakar para perempuan Maluku lainnya untuk turut dalam perjuangan. Baru di sini, tentara Belanda berhadapan dengan kaum perempuan yang dengan gigih berani turut bertempur.

Martha Christina Tiahahu akhirnya ditangkap pada Desember 1817. Rencananya, dia akan diasingkan ke Pulau Jawa. Di sana ia akan dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Dalam perjalanan menuju pengasingan, kesehatannya memburuk. Ia menolak pengobatan dan mogok makan. Pada 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, ia menghembuskan napas terakhir. Pemakamannya dilakukan di Laut Banda dengan penghormatan militer.

Untuk mengenang keberanian dan jasa-jasanya, Pemerintah RI menetapkan Martha Christina Tiahahu sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, dan tanggal 2 Januari sebagai Hari Martha Tiahahu.

Sumber:

  • http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/11/kisah-perjuangan-martha-christina-tiahahu-srikandi-dari-tanah-maluku/3
  • http://nasional.kompas.com/read/2010/08/18/06024133/martha.christina.si.pemberani.dari.timur

LEAVE A REPLY

nine + 19 =