Wetu Telu, Tradisi Islam Khas Masyarakat Sasak Lombok

208
Wetu Telu, Tradisi Islam Khas Masyarakat Sasak Lombok
Masjid Bayan merupakan masjid tertua di Lombok, dianggap sebagai tempat suci bagi orang Islam Wetu Telu di Lombok utara. (Foto: Wikipedia)

1001indonesia.net – Pulau Lombok merupakan tempat tinggal suku Sasak. Mayoritas masyarakat di sana menganut agama Islam. Namun, ada sebagian orang Islam Sasak yang memiliki praktik keagamaan Islam tersendiri yang disebut Wetu Telu.

Banyak orang mengartikan istilah wetu telu atau waktu tiga merujuk pada praktik yang dilakukan komunitas di sana untuk meringkas shalat yang lima waktu menjadi tiga waktu. Namun, istilah wetu telu sendiri merujuk pada filosofi yang bermakna bahwa terdapat tiga hal penting yang mewarnai setiap kehidupan di alam semesta.

Misalnya, ada tiga jalan kemunculan makhluk hidup, yaitu melahirkan (manganak), bertelur (menteluk), dan berbiji (mentiuk). Filosofi ini berarti bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dan hubungan yang harmonis dengan alam.

Alam sangat penting artinya bagi komunitas ini. Sebab itu, ada berbagai macam aturan adat yang melarang tindakan merusak alam. Kelestarian alam sangat dijaga oleh komunitas adat ini.

Lalu ada tiga siklus keberadaan manusia, yaitu alam rahim atau kandungan, alam dunia, dan alam akhirat. Komunitas Wetu Telu percaya bahwa hidup pada dasarnya memiliki siklus dan tingkatan yang dimulai dari kelahiran, beranak pinak, hingga kematian.

Mereka meyakini bahwa saat memasuki status atau tingkatan yang lebih tinggi, haruslah dilaksanakan ritual tertentu yang dapat menghindarkan mereka dari gangguan-gangguan hidup.

Stigma

Pandangan umum mengatakan adanya Islam Wetu Telu sebagai akibat dari para penyebar Islam terdahulu yang ingin mengenalkan keislaman secara bertahap. Namun, mereka meninggalkan Lombok sebelum mereka mengajarkan Islam dengan lengkap. Akibatnya terjadi sinkretisme antara agama Islam dengan Hindu dan Buddha.

Pemahaman tersebut berkembang luas sehingga Wetu Telu mendapat stigma negatif. Digambarkan bahwa mereka hanya shalat tiga waktu, bukan lima waktu seperti yang seharusnya.

Namun, seperti yang dilansir VICE, tudingan itu tidak berdasar. Orang Wetu Telu tetap melaksanakan Rukun Islam dan Rukun Iman. Yang menjadi sumber pandangan negatif adalah karena di samping melaksanakan tradisi Islam, mereka juga menjalankan adat istiadat asli masyarakat Sasak.

Jadi, istilah “Wetu Telu” bukan merujuk pada nama agama atau kepercayaan tersendiri. Istilah ini merujuk pada filosofi masyarakat di sana yang percaya bahwa hidup mencakup tiga hal penting, seperti masa lalu-sekarang-masa depan atau kelahiran-kehidupan di dunia-kematian.

Dengan demikian, istilah tiga waktu tidak merujuk pada berapa kali mereka shalat dalam satu hari seperti yang banyak dimengerti oleh kebanyakan orang.

Leluhur

Islam Wetu Telu mempertahankan salah satu ciri utama dari kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara, yaitu menonjolnya peran leluhur dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Wetu Telu, kematian tidak berarti pemisahan.

Arwah-arwah para leluhur yang telah berpindah ke alam lain tetap memiliki hubungan dengan anak-cucunya. Mereka berperan sebagai pelindung dan pengayom, menjaga keturunannya dari marabahaya yang tidak diinginkan.

Untuk itu, mereka sangat menghormati leluhur. Salah satunya dengan menjaga warisan leluhur, seperti rumah, tanah, maupun benda pusaka lain, juga dengan berbagai upacara adat.

Sampai saat ini, kaum Muslim Wetu Telu masih mendokumentasikan garis silsilah keluarga pada lembaran daun lontar dengan huruf Jawa Kuno yang hanya boleh dibaca oleh tokoh adat pada saat-saat tertentu.

Masjid Bayan

Masjid Bayan merupakan masjid tertua di Lombok. Masjid kuno tersebut dianggap sebagai tempat suci bagi orang Islam Wetu Telu di Lombok Utara. Ada sejumlah masjid lain di daerah itu yang bangunan dan penggunaannya sama dengan Masjid Bayan. Semuanya merupakan sistem tunggal.

Selain beduk yang besar, Masjid Bayan juga memiliki sejumlah ciri yang luar biasa, berupa patung Naga Bayan, makhluk mitos yang dianggap sebagai pelindung desa, dan patung burung dari kayu yang berada di atas mimbar induk tatkala kiai berkhotbah.

Ada legenda di balik patung Naga Bayan. Konon, saat Raja Bayan sedang berwisata, perahu raja bocor. Raja takut dan khawatir semua orang yang bersamanya akan tenggelam. Ia berteriak, “Kalau saja ada kuasa di atas atau di bawah air dapat menyelamatkan, ia akan mengawinkan dengan salah satu putrinya.”

Naga mendengar janji raja lalu menyelamatkan dengan membawa perahu itu tiba di Teluk Anyar. Sesampainya di darat, raja ingkar janji sehingga naga ingin membinasakan semua orang yang ada di dalam perahu.

Raja kemudian berjanji membuat patung naga dan menempatkannya di masjid. Janji raja membuat kemarahan naga mereda. Raja memenuhi janjinya ketika ia tiba di Bayan. Sejak itu, patung naga selalu ada di Masjid Bayan.

Masjid Bayan lebih banyak digunakan untuk kegiatan adat. Masjid ini tidak pernah digunakan untuk sembahyang hari Jumat. Jemaah hanya mengunjungi masjid ini jika mereka ingin membawa persembahan kepada kiai pada perayaan tertentu. Pelaksanaan tugas adat hanya dilaksanakan oleh para kiai. Para kiai Wetu Telu ini tidak memberi khotbah pada hari Jumat dan tidak memimpin shalat wajib lima waktu.

Salah satu pengecualian adalah saat masjid Wetu Telu dipakai untuk perayaan Maulud Nabi. Pada saat itu, masjid dihiasi umbul-umbul dan kain. Ketika malam, para kiai bertemu untuk makan bersama. Pada bulan Ramadhan, semua kiai bertemu setiap malam untuk membaca doa. Pada akhir bulan puasa dilakukan buka puasa bersama dan memberi khotbah khusus yang disiapkan untuk kesempatan itu.

Kesempatan lain ketika para kiai Wetu Telu di Lombok Utara bertemu di Masjid Bayan ialah ketika terjadi bencana alam. Pada saat itu, para kiai akan menggelar upacara lohor jariang jumat untuk menciptakan kembali keseimbangan alamUpacara ini dilaksanakan pada dua hari Jumat, diakhiri dengan khotbah khas Bayan yang diberikan dalam bahasa daerah, dan bukan bahasa Arab.

Islam Wetu Telu merupakan menunjukkan ciri masyarakat Nusantara dalam menjalankan dan memahami agamanya. Nilai-nilai agama dibumikan, disesuaikan dengan budaya dan alam di mana agama tersebut berkembang. Agama dan adat tradisi tidak saling menghilangkan, tetapi saling memperkuat. Dengan demikian, kita mendapati betapa kayanya praktik keagamaan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

11 − four =