Vunja Ada Mpae, Ungkap Syukur atas Hasil Panen yang Melimpah

38
Vunja Ada Mpae
Masyarakat Desa Toro bersama dengan tina ngata meletakkan hasil panen di lobo saat pelaksanan upacara adat vunja ada mpae. (Foto: Indonesiakaya.com)

1001indonesia.net Vunja ada mpae merupakan upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah. Upacara yang dilaksanakan menjelang panen raya ini merupakan perwujudan dari filosofi hidup yang dipegang masyarakat Desa Toro, yaitu pentingnya menjaga keselarasan dan keharmonisan, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam.

Dilansir dari Indonesiakaya.com, Ngata Toro atau Desa Toro merupakan sebuah desa adat yang berada di dekat Taman Nasional Lore Lindu, tepatnya di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa ini terkenal dengan varietas padi unggulan, seperti padi Kamba dan padi Kanari.

Selain itu, masyarakat Desa Toro juga dikenal dengan keteguhannya dalam merawat adat dan tradisi warisan leluhur. Sejak dulu, masyarakat Desa Toro memiliki dua nilai moral yang menjadi pedoman hidup mereka, yaitu hintuvua dan katuvua.

Hintuvua menjadi pedoman dalam membangun hubungan antara sesama manusia yang harmonis, berlandaskan saling cinta, penghargaan, solidaritas, dan musyawarah. Adapun katuvua menjadi pedoman dalam menciptakan hubungan yang selaeas antara manusia dan lingkungannya.

Dua nilai ini pula yang mendasari laku dan tata hidup mereka sebagai masyarakat agraris. Nilai ini terbukti ampuh, tak hanya menjadi sikap hidup bersama untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan harmonis, tetapi juga dalam menunjang kesejahteraan warga.

Dengan kearifan lokal yang dimilikinya, Desa Toro mempunyai hasil panen yang baik sehingga dapat menjadi lumbung padi bagi Kabupaten Sigi. Apalagi, padi dari desa ini terkenal memiliki kualitas yang baik.

Adat tradisi warisan leluhur masih kuat mewarnai masyarakat desa ini, termasuk dalam kehidupan mereka sebagai petani. Upacara adat masih mengiringi dari proses tanam hingga panen. Salah satunya adalah ritual adat vunja ada mpae yang digelar menjelang panen raya.

Ritual adat vunja ada mpae diawali dengan proses perencanaan. Pembicaraan dilakukan oleh para tetua desa bersama orang-orang yang berwenang merancang segala kegiatan seputar pertanian, dikenal dengan nama tina ngata.

Tina ngata terdiri atas orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu perbintangan sebagai patokan dalam memutuskan berbagai hal yang berkaitan dengan pertanian, pengolahan ladang, dan sawah.

Hasil perbincangan para tetua adat dengan tina ngata kemudian diumumkan ke warga desa. Setelah berita akan dilaksanakannya perayaan vunja ada mpae diketahui para warga masyarakat, tetua adat dan tina ngata bertemu kembali untuk menentukan hari pelaksanaan perayaan tersebut.

Setelah waktu pelaksanaan ritual sudah ditentukan, dilaksanakanlah maeko, yaitu acara mengundang warga desa tetangga untuk turut serta dalam ritual adat vunja ada mpae. Maeko merupakan salah satu implementasi dari nilai hintuvu yang diajarkan oleh para leluhur Desa Toro dalam kehidupan bermasyarakat.

Ritual adat vunja ada mpae biasanya dilaksanakan di tanah lapang. Di bagian tengah tanah lapang tersebut, terdapat susunan bambu yang dibuat sedemikian rupa untuk meletakkan berbagai hasil panen desa.

Pada pelaksanaan upacara adat ini, masyarakat desa bergembira menikmati hidangan yang telah tersedia, berupa kue-kue dan hasil kebun. Uoacara adat vunja ada mpae juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk berbaur dengan para tetua adat yang mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu yang disebut mbesa.

Tetua adat akan memimpin doa sebagai perwujudan rasa syukur atas panen yang melimpah. Disusul dengan tabuhan giam (gendang) yang dilanjutkan dengan kemunculan para penari raego.

Tari raego merupakan tari sakral yang hanya dipentaskan saat upacara adat vunja ada mpae. Tari ini diiringi tabuhan gendang dan petikan gitar. Di sela-sela musik, terdapat syair-syair yang isinya mengandung ucapan syukur dan kegembiraan.

Seperti upacara panen di daerah lainnya, ritual adat vunja ada mpae menjadi ciri masyarakat agraris di Nusantara. Ritual adat ini menjadi perwujudan dari nilai keselarasan, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam.

Baca juga: Lom Plai, Ritual Pesta Panen Suku Dayak Wehea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.