Usmar Ismail, Kiprah Pelopor Perfilman Indonesia

212
Usmar Ismail
Usmar Ismail (Foto: Kenangan.com)

1001indonesia.net – Usmar Ismail merupakan sutradara pertama yang memproduksi film Indonesia dengan semua kru orang Indonesia lewat film Darah dan Doa di tahun 1950 melalui perusahaan film yang didirikannya, Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia).

Karena itu, tahun 1950 menjadi tonggak penting sejarah perfilman Indonesia. Sebab, sebelumnya pembuatan film lebih banyak di dominasi oleh warga negara asing yang ada di Indonesia. Karena itu juga, tanggal mulai shooting Darah dan Doa dipakai sebagai peringatan Hari Film Nasional setiap 30 Maret.

Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Ismail dengan gelar Datuk Tumenggung, bekerja sebagai guru Sekolah Kedokteran di Padang. Ibunya bernama Siti Fatimah. Ia mempunyai seorang kakak yang juga terjun ke dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah, yang menggunakan nama pena El Hakim.

Pendidikan formal Usmar bermula di HIS (sekolah dasar) di Batusangkar, lalu melanjutkan ke MULO (SMP) di Simpang Haru, Padang, dan kemudian ke AMS (SMA) di Yogyakarta. Setamat dari AMS, ia melanjutkan lagi pendidikannya ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat. Usmar memperoleh gelar BA di bidang sinematografi pada 1952-1953.

Usmar Ismail di lokasi syuting. (Foto: usmar.perfilman.pnri.go.id)

Usmar sudah menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang. Usmar ingin menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan. Ia bersama teman-temannya hadir di perayaan itu dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut.

Sayang, acara yang direncanakan itu gagal. Mereka baru sampai saat matahari tenggelam. Itu pun dalam keadaan hampir pingsan karena kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara. Akan tetapi, acara yang gagal itu dicatat Rosihan Anwar sebagai tanda bahwa Usmar memang berbakat menjadi sutradara. Usmar dinilai mempunyai daya khayal untuk menyajikan tontonan yang  menarik dan mengesankan. 

Saat duduk di bangku SMA, Usmar mulai berkecimpung di dunia sastra. Ia aktif mengikuti kegiatan drama di sekolah dan mengirimkan karangan ke beberapa majalah.

Pada 1943, Usmar bersama El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, dan H.B. Jassin, mendirikan kelompok sandiwara bernama Maya. Maya mementaskan  sandiwara berdasarkan teknik teater Barat.  Peristiwa itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Sandiwara yang dipentaskan Maya, antara lain, “Taufan di Atas Asia (El Hakim)”, “Mutiara dari Nusa Laut (Usmar Ismail)”, “Mekar Melati (Usmar Ismail)”, dan “Liburan Seniman (Usmar Ismail)”. 

Usmar Ismail di Festival Film Asia. (Foto: usmar.perfilman.pnri.go.id)

Usai kemerdekaan Indonesia, Usmar Ismail menjalani dinas militer dan berkarier di dunia jurnalistik Jakarta. Ia dan dua rekannya mendirikan surat kabar Rakyat. Selang beberapa waktu, Usmar juga mendirikan harian Patriot dan bulanan Arine di Yogyakarta. Ia juga pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).

Di bidang teater dan film, Usmar Ismail pernah menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN). BMPN mendorong pemerintah melahirkan “Pola Pembinaan Perfilman Nasional” pada 1967.

Usmar Ismail dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.

Ketika bekerja sebagai jurnalis, Usmar Ismail sempat ditangkap Belanda. Selama ditahan, ia dipekerjakan di studio film Belanda untuk membantu Andjar Asmara membuat film. Harta Karun, Si Bachil, dan Tjitra menjadi dua judul film yang dia buat.

Sejak saat itu, Usmar mulai terlibat dalam dunia perfilman. Dirinya menggarap sejumlah judul film, seperti Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Yogya (1951), Dosa Tak Berampun (1951), Krisis (1953), Kafedo (1953), Tiga Dara (1957), hingga Pejuang (1961). Semasa hidupnya, Usmar telah menyutradarai 28 film cerita panjang.

Film Tiga Dara karya Usmar Ismail. (Foto: Kompas.com)

Usmar Ismail dikenal secara Internasional setelah menyutradarai film berjudul Pedjuang pada 1961. Film itu antara lain dimainkan oleh Rendra Karno, Chitra Dewi, Bambang Hermanto, dan Bambang Hermawan, serta beberapa pemeran lain. Karya Usmar tersebut ditayangkan di Festival Film Internasional Moskwa ke-2 dan menjadi karya anak negeri pertama yang diputar di festival internasional.

Pada 2 Januari 1971, Usmar Ismail meninggal secara mendadak pada usia 49 tahun karena stroke yang dideritanya. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Baca juga: Loetoeng Kasaroeng, Film Cerita Pertama yang Dibuat di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.