Trisutji Kamal, Legenda Musik Lintas Zaman

570
Trisutji Kamal
Trisutji Kamal

1001indonesia.net – Trisutji Kamal merupakan pianis sekaligus komponis Indonesia yang karyanya telah mendunia. Opera pertamanya yang berjudul “Lara Jonggrang” dipentaskan perdana di Castel Sant’ Angelo, Roma, Italia pada 1957.

Gelar legenda musik lintas generasi pantas disematkan pada pianis kelahiran Jakarta, 28 November 1936 ini. Seniwati yang pernah belajar di Belanda, Prancis, dan Roma ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik. Kiprahnya lintas generasi, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, hingga pasca-reformasi.

Lahir dari pasangan Djulham Surjowidjojo dan B.R.A. Nedima Kusmarkiay, Trisutji Kamal merupakan cucu dari Pakubuwono X (1886-1939), raja Kasunanan Surakarta. Meski hidup dalam keluarga berdarah Jawa kental, ia tinggal dalam lingkungan Melayu di Binjai, Sumatra Utara. Ayahnya yang merupakan teman dekat Pakubuwono X adalah seorang pelukis yang bekerja sebagai dokter untuk Sultan Langkat di Binjai. Budaya Jawa, Batak, dan Melayu di kemudian hari memengaruhi karya-karyanya.

Sejak usia dini, Trisutji sudah menunjukkan ketertarikan yang besar pada dunia Musik. Bakatnya sebagai komponis sudah tampak sejak ia berusia 7 tahun. Ia belajar piano klasik di Binjai dan mulai menciptakan karya musik yang lebih serius untuk piano sejak berusia 14 tahun. Pada 1951, Trisutji menggelar konser pertama.

Trisutji KamalPada usia yang masih sangat muda, Trisutji pergi ke luar negeri untuk belajar musik. Pada mulanya ia pergi ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar komposisi pada komponis termasyhur Henk Badings (1907-1987). Badings merupakan komponis berkebangsaan Belanda kelahiran Bandung, Jawa Barat.

Trisutji kemudian mengambil studi di Ecole Normale de Musique, Paris, sebelum masuk ke Conservatorium Santa Cecilia di Roma. Di Roma, Trisutji dipercaya membuat komposisi paduan suara dan organ “Jubilate Deo” untuk gereja Episcopal Roma.

Saat belajar di Roma, ia memiliki guru komposisi berkebangsaan Rusia yang mendorongnya untuk menciptakan sebuah opera berdasarkan legenda negerinya sendiri. Trisutji kemudian menciptakan opera berjudul “Loro Jonggrang” sewaktu ia sedang memperdalam musik serial. Karya opera tersebut merupakan perpaduan dari konsep tangga nada pentatonik, dodecaphonic (12 nada), dan gaya musik vokal Bel Canto Italia.

Pada 1967, Trisutji kembali ke Indonesia.  Di Jakarta, ia bergabung dengan beberapa tokoh musik muda Indonesia yang sama-sama baru kembali dari luar negeri. Di antaranya adalah Frans Haryadi dan Iravati Soediarso. Ketiga orang ini kemudian berperan sangat penting dalam pendirian Taman Ismail Marzuki pada 1968 dan diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin.

Selain itu, Trisutji aktif mengajar di Institut Kesenian Jakarta, Yayasan Musik Internasional Jakarta, dan menjadi juri musik di berbagai kejuaraan musik nasional. Pada 1974, Trisutji membuat kiblat baru komposisi piano bernuansa Islam. Baginya, ayat suci Al-Qur’an menjadi inspirasi yang tiada habisnya.

Trisutji Kamal merupakan wanita Indonesia pertama yang terjun menjadi komponis profesional. Selama lebih dari 50 tahun berkarya dalam bidang musik, seniman bernama lengkap Kanjeng Raden Ayu (K.R.A.) Trisutji Djuliati Kamal ini telah menghasilkan sekitar 200 karya musikal.

Sumber:

  • Kompas, Rabu, 30 November 2016.
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Trisutji_Kamal
  • http://musicalprom.com/2015/08/07/persilangan-falsafah-lewat-trisutji-kamal/
  • http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3378/Trisutji-Djuliati-Kamal

LEAVE A REPLY

seventeen + nine =