Jipeng, Kesenian Kolaboratif Tanjidor dan Topeng

oleh Siti Muniroh

392
Jipeng, Kesenian Kolaboratif Tanjidor dan Topeng
Pertunjukan jipeng (tanji dan topeng) merupakan kesenian kolaboratif tanjidor dan topeng. (Foto: indonesiakaya.com)

1001indonesia.net – Masyarakat Nusantara mengenal tanjidor sebagai kesenian orkes Betawi. Orkes ini diyakini sudah ada sejak abad ke-19 dengan nama tangsi atau tanji, berasal dari nama kelompok sisa-sisa musik Tangsi (asrama militer Jepang).

Awalnya, masyarakat Betawi memainkan musik ini hanya untuk kepuasan batin saja. Jadi, bukan untuk pertunjukan seperti permainan orkes pada umumnya.

Kesenian ini sendiri hanyalah mengandalkan alat musik tiup. Namun lama-kelamaan, terjadi beberapa penambahan alat musik, seperti gendang, gong, dan alat musik gesek. Lantaran penambahan ini, nama tanji pun berubah menjadi tanjidor.

Sumber lain mengatakan bahwa kesenian ini juga merupakan musik baris sebagai sisa dari kesenian musik zaman Belanda di Indonesia. Musik baris biasanya memakai drumband sebagai alat musik utama, selain alat musik tiup.

Kesenian tanjidor ini dirintis oleh Augustijn Michiels atau lebih dikenal dengan nama Mayor Jantje bermain di daerah Citrap atau Citeureup. Kesenian ini juga ternyata ada di Kalimantan Barat, sedangkan di Kalimantan Selatan sudah punah.

Kesenian Tanjidor umumnya dipakai dalam acara musik jalanan tradisional atau pesta Cap Go Meh di kalangan Tionghoa Betawi. Selain itu, biasanya kesenian ini juga digunakan untuk mengantar pengantin dan acara pawai daerah. Pada perkembagannya, kesenian ini juga dimainkan ketika terdapat acara khitanan dan menyambut tamu agung.

Perkembangan Kesenian Tanjidor

Mewarisi kesenian Tanjidor ke kalangan anak-anak muda saat ini cukup sulit. Hal ini lantaran tidak mudahnya menguasai permainannya. Minan, salah satu dari tujuh anak kandung seniman tanjidor kawakan (Sait Neleng) mengatakan bahwa ia sudah berlatih tujuh tahun dan sampai sekarang belum sanggup meniup tuba (trompet bas).

”Mulut saya sampe monyong begini niup tuba, tapi suaranya kagak keluar. Akhirnya saya niup trombon sampe sekarang,” ujarnya dengan logat Betawi yang khas.

Dalam sebuah seminar mengenai perkembangan musik Tanjidor , budayawan Betawi JJ Rizal mengatakan, “Seperti kesenian Betawi lain, yaitu lenong dan gambang keromong, tanjidor juga terus terpinggirkan. Upaya yang dilakukan agar tanjidor terus bertahan hidup, salah satunya ditandai dengan kemunculan banyaknya variasi dalam tanjidor. Misalnya seperti tanjikres (tanjidor orkes), tanjinong (tanjidor lenong), tanjidor yang memainkan lagu-lagu Betawi seperti ‘Jali-Jali’ dan ‘Cente Manis’, tanjidor dengan jaipongan atau tanjidor yang memainkan lagu-lagu Melayu hingga dangdut.”

Hal lain yang membuat kesenian musik tanjidor makin hilang adalah karena tidak ada upaya pendokumentasian. Salah satunya terhadap lagu-lagu yang dimainkan. Selama ini, para pemain tanjidor memainkan lagu tanpa catatan, hanya berdasarkan ingatan. Hal ini dikarenakan generasi yang memainkan alat musik ini dahulunya belum mengenal not, jadi hanya bermain dengan perasaan.

Kepedulian pemerintah pernah ditunjukkan di era Gurbernur Ali Sadikin dengan upaya pendokumentasian. Namun, sangat disayangkan hasil dokumentasi tersebut lenyap.

Elaborasi kesenian Tanjidor dengan Pertunjukan Dramatis Topeng

Ada suatu masa di mana masyarakat mulai bosan dengan pertunjukan yang hanya mementaskan instrumen musik. Oleh karenanya, menurut Bang Jaip yang merupakan pimpinan grup Jipeng Al Jabar dari generasi ketiga, pertunjukan tanjidor dikolaborasikan dengan topeng. Jadilah kesenian ini bernama jipeng. Kolaborasi ini membawakan pertunjukan sebagaimana pementasan-pementasan topeng pada umumnya, yakni ada nyanyian, tarian, serta lawakan dalam satu alur cerita atau drama.

Cerita yang dipentaskan di sini juga tidak banyak berbeda dengan cerita yang biasa dibawakan oleh rombongan Topeng.  Lawakan-lawakan yang dipertontonkan biasanya mengenai keseharian masyarakat Betawi. Petuah-petuah keagamaan juga diberikan dalam bentuk komedi yang segar.  Hal ini biasanya dimainkan pada saat ritual adat Betawi yang bersifat keagamaan digelar. Namun begitu, dilakonkan pula kisah-kisah para kesatria yang berani melawan perilaku sewenang-wenang terhadap para tuan tanah. Beberapa kisah yang pernah dipentaskan antara lain cerita tentang Sultan Majapahit, “Prabu Siliwangi”, “Babat Bogor”, “Sinden Siluman”, “Rindon Jago Kerawang,” dan lain-lain.

Mengenai awal mula kesenian jipeng ini, selain bahwa ia merupakan bentuk kesenian kolaboratif dengan pertunjukan topeng, ada sumber lain yang mengatakan bahwa jipeng terbentuk dari perpaduan kesenian dua bangsa, yakni lenong Betawi dan tanjidor yang merupakan kesenian yang berasal dari Timur Tengah.

Namun, ada pula yang mengatakan bahwa Jipeng dipengaruhi oleh kesenian Sunda. Pada 2012, di Gedung Kesenian Ciptagelar, Sukamulya, Cisolok Sukabumi, pernah dipentaskan kesenian ini setelah pertunjukkan terakhir kalinya di tahun 1940-an. Adapun lakon yang dibawakan di masyarakat Sunda adalah “Barisan Tatabeuhan.”

Pada masyarakat Sunda, kesenian ini dimainkan di banyak acara, antara lain pada upacara tradisi Ngaseuk, Turun Nyambut, Mipit, Mocong, Ngunjal, Nganyaran, Ponggokan, Seren Taun, hajatan Agustusan, tahun baru, Maulud, dan lain-lain.   Lagu-Iagu yang dibawakan di sini adalah lagu-lagu buhun seperti “Jiro”, “Kipas”, “Kirey”, “Adem Ayem”, “Peuyeum Gaplek”, “Mapay Rokok”, dan lainnya.

Sedangkan di daerah Betawi adalah lagu yang bercorak mars dan was (mungkin berasal dari kata Wals) seperti “Kramton”, “Bataliyon”, “Was Taktak”, dan lain sebagainya.

Musik Pengiring Pertunjukan Jipeng

Jenis alat musik pengiring jipeng sendiri, meski sudah merupakan kesenian kolaboratif, tidaklah berbeda dengan yang biasa dipakai dalam permainan tanjidor, seperti klarinet, trombone, tuba, simbal, biola dan, drum (bedug), snare, coronet, dan baritone. Alat-alat ini biasa dimainkan oleh pemain jipeng Sunda.  Ada pun dalam jipeng Betawi, ada beberapa tambahan seperti  trompet, tenor, bass tambur dengan tambahan gendang, gong, dan alat musik gesek seperti tehyan ataupun rebab.

Namun terkadang, untuk mengiringi tarian yang bentuknya tidak begitu berbeda dengan tarian pada pertunjukan topeng, kadang-kadang orkes tanjidor diganti dengan kromong tiga pencon, gendang, kecrek, kempul, suling, kempul, dan gong buyung.

Perkembangan Kesenian Jipeng

Kesenian jipeng pernah mengalami zaman kejayaan dan keemasan di era 1970-an hingga 1980-an. Tumbuhnya begitu pesat di Betawi pusat, seperti daerah Tanahabang dan Kampung Arab. Namun semakin lama kian bergeser ke wilayah pinggiran seperti di Cilodong, Kampung Setu, Tambun, Ciseeng, Cileduk, dan sebagian Kebon Jeruk. Kadang-kadang, pertunjukannya pun tak murni sebagai kesenian jipeng, melainkan grup kesenian lenong atau tanjidor yang memainkan sedikit unsur jipeng.

Sumber:

  • www.pikiranrakyat.com
  • https://theperspectiveofanthropology.wordpress.com/2011/04/29/jipeng-kesenian-rakyat-betawi-yang-terancam-punah/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Tanjidor
  • http://travel.kompas.com/read/2014/03/21/1149370/Tanjidor.Makin.Terancam
  • http://travel.kompas.com/read/2014/03/23/1411023/Tanjidor.Melintas.Zaman
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/jipeng-seni-kolaborasi-tanji-dan-topeng

LEAVE A REPLY

eight − one =