Tiga Hal yang Patut Diteladani Para Politisi Sekarang dari Bung Karno

oleh Husnul Amilin

433
Soekarno atau Bung Karno
Soekarno atau Bung Karno (Sumber: kompasiana.com)

1001indonesia.net – Beberapa tahun belakangan, atmosfer politik di negeri ini memang tengah memasuki batas-batas yang sangat mengkhawatirkan. Para elite politik hanya sibuk memikirkan kepentingan-kepentingan pribadi, dan mengabaikan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Padahal, kekuasaan dan jabatan yang tengah mereka miliki saat ini tidak akan pernah mereka dapatkan tanpa kehendak rakyat.

Akibat kerakusan para elite yang selalu haus akan jabatan itu, rakyat pun dibuat bingung. Benar bisa menjadi salah, dan salah bisa menjadi benar. Kritik bertubi-tubi yang berbau fitnah pun tak segan mereka semburkan kepada lawan politik yang dianggap menghambat ambisi pribadi mereka. Berbagai cara akan ditempuh, bahkan agama pun tak segan untuk dijadikan korbannya.

Politik di negara ini bukan lagi dijadikan wahana untuk mengatur negara, tetapi malah menjadi ajang berebut kuasa. Ya, beginilah realitas politik kita saat ini. Benar-benar sangat mengkhawatirkan. Padahal, etika berpolitik semacam ini sangat berseberangan dengan apa yang dicontohkan oleh para pemimpin terdahulu kita, seperti Bung Karno. Sebagai presiden RI pertama, sekaligus pemimpin revolusi yang telah membawa bangsa kita terlepas dari cengkeraman penjajah, banyak yang patut kita pelajari dari tokoh bangsa yang satu ini.

Tentu, Presiden Sukarno bukanlah sosok pemimpin yang sempurna. Namun demikian, setidaknya ada tiga hal patut kita contoh dari sosok Bung Karno sebagai seorang politisi sekaligus pemimpin pertama bangsa Indonesia.

1. Rasa Ingin Selalu Dekat dengan Rakyat.

Bung Karno adalah seorang presiden yang dikenal sangat dekat dengan rakyat dan suka mendengarkan ataupun menyaksikan pelbagai penderitaan rakyatnya secara langsung. Istilah Marhaenisme yang ia dengungkan, bahkan sebelum menjabat sebagai presiden RI, didapatkannya dari seorang petani bernama Marhaen yang ia temui saat ‘blusukan’ ke desa-desa melihat penderitaan yang dialami rakyatnya secara langsung.

Rakyat bagi Bung Karno adalah napas kehidupan yang tanpanya ia akan menjadi lemas dan sakit. Di dalam Penyambung Lidah Rakyat, Bung Karno sempat menuturkan kepada Cindy Adams bahwa dirinya merasa terpenjara jika jauh dari rakyatnya dan bahkan akan jatuh sakit karenanya. Tetapi, jika ia dibiarkan berpidato di tengah rakyatnya, bertegur sapa dan berpelukan dengan mereka, maka rasa sakit yang ia derita akan menjadi sembuh.

Sikap Sukarno ini tentu berseberangan dengan sikap yang ditunjukkan oleh para elite politik sekarang. Saat ini, para politisi hanya sibuk mendekati rakyatnya saat mereka sedang membutuhkan suara rakyat saja, dan pergi apabila sudah tidak membutuhkannya. Contohnya ketika pemilihan umum, para elit mulai ramai turun mendekati rakyat, memberikan perhatian yang semu, seolah mereka benar-benar akan menyambungkan aspirasi dan keluhan rakyatnya.

Tapi setelah menjabat sebagai pemimpin, dengan mudahnya mereka lupakan janji yang pernah mereka ucapkan, keluhan rakyat hanyalah angin lalu yang sering kali diabaikan. Jangankan itu, menengok rakyat pun mereka enggan. Maka dalam hal ini, rakyat di mata pemimpin semacam ini, tak lebih nilainya dibandingkan sebuah masker. Habis dipakai, langsung dibuang. Kejam sekali bukan?

2. Hidup Sederhana

Selain tak bisa jauh dari rakyat, Sukarno adalah tipe pemimpin yang selalu hidup dengan kesederhanaan. Bambang Widjanarko, seorang ajudan yang pernah dekat dan bersentuhan langsung dengan kehidupan Bung Karno, pernah menuturkan kesederhanaan hidup sang proklamator ini. Bayangkan saja, di saat kemewahan yang difasilitasi negara terhidang dihadapannya, Bung Karno justru lebih memilih hidup bertemankan kopi, teh, dan roti yang beroleskan mentega. Setiap pagi, Presiden pertama RI itu selalu mengajak ajudan dan pegawainya untuk makan bersama dan berbincang hangat membahas pelbagai persoalan yang sedang melanda Bangsa Indonesia.

“Dari pengalaman saya selama berada di dekat Bung Karno selama delapan tahun, saya dapat mengatakan bahwa semua orang yang pernah bekerja secara langsung di bawah Bung Karno atau di dekatnya, pasti mencintai Bung Karno setulus hati. Hal ini terutama karena sikap Bung Karno yang hidup sederhana dan merakyat,” ucap Bambang dalam Sewindu Dekat Bung Karno.

Kesederhanaan ini tentu bertolak belakang dengan para elite politik di negeri kita sekarang. Terlebih jika kita melihat gaya hidup mereka yang duduk di bangku Senayan dan menamakan diri sebagai wakil rakyat. Gedung di Senayan yang disebut sebagai rumah rakyat itu lebih mirip seperti showroom mobil mewah tempat memamerkan mobil-mobil mahal yang kontras dengan penderitaan rakyat.

3. Siap Menderita

Dalam salah satu pidatonya Bung Karno pernah berucap, “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan, di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Hingga saat ini, tidak ada yang bisa menyangsikan penderitaan Bung Karno dalam membela rakyatnya. Kita semua tahu, beliau pernah mendekam di ruang penjara yang pengap dan sempit di Banceuy-Bandung. Ditangkap, ditahan, dan dibuang oleh pemerintah saat itu karena membela rakyat. Berapa gaji, uang, ataupun imbalan yang didapatkan Bung Karno karena itu? Kemudian kita lihat realitas elite politik saat ini, berapa gaji yang didapatkan oleh mereka yang duduk di kursi-kursi kekuasaan?

Para pejabat saat ini, nyaris tidak mengalami penderitaan yang dialami Bung Karno di masa itu. Tapi para pejabat saat ini justru mendapatkan fasilitas yang luar biasa dari rakyat. Rumah dinas, mobil dinas, gaji, dan pelbagai tunjangan-tunjangan lainnya. Belum lagi jatah jalan-jalan yang katanya “kunjungan” ke negara A dan B tanpa adanya feedback bagi kehidupan rakyat itu sendiri. Dengan pola hidup hedonis semacam ini, pantas saja jika mereka berebut untuk duduk di tampuk kekuasaan. Coba saja, jika pelbagai fasilitas mewah itu dicabut dan diganti dengan fasilitas seadanya, apakah mereka masih mau menjadi pejabat atau tidak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − six =