Tenun Masalili, Kain Tradisional Khas Kabupaten Muna Sultra

785

1001indonesia.net – Menenun sudah menjadi kegiatan turun-temurun di Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sampai saat ini, Desa Masalili menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna. Hampir setiap rumah di Desa Masalili memproduksi kain tenun.

Desa Masalili terletak sekitar 8 kilometer dari Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna. Untuk sampai ke desa itu tidak mudah. Kita harus menembus jalur yang berkelok-kelok, berbatu, dan berlubang. Pemandangan rumah-rumah kayu warga mengiringi perjalanan. Tampak anak-anak berlarian tanpa alas kaki.

Selain terkenal dengan kegiatan tenunnya, desa di pedalaman ini mandapat banyak perhatian sebab di perbatasan dengan Desa Bolo terdapat goa alam Liang dan Metanduno. Goa Liang terkenal dengan lukisan dinding zaman prasejarah.

Di Masalili, menenun menjadi pekerjaan harian warganya yang terampil menenun. Kegiatan menenun berlangsung hampir di setiap rumah warga. Desa ini menjadi sentra perajin tenun tradisional khas Muna

Secara tradisional, menenun selembar kain bisa makan waktu satu tahun. Prosesnya dimulai dengan menanam kapas. Dengan alat bernama kangia, perajin memintal serat-serat kapas.

Helaian serat itu ditata membentuk benang yang berjejer rapat. Helaian dibuat sepanjang 65-70 cm. Proses ini disebut menghani (de-soro). Perajin lantas merancang motif dan membuat komposisi warna (kabekasi) dengan limbah kayu. Jika semua siap barulah proses menenun dimulai.

Menenun butuh kehati-hatian, kesabaran, dan ketekunan. Sebab, jika dilakukan secara terburu-buru, benang bisa terputus. Begitu panjangnya proses menenun yang dilalui sehingga kain tenunan menjadi gambaran ketulusan dan keteguhan hati pembuatnya.

Namun, tanaman kapas saat ini sulit ditemui. Sebab itu, perajin tenun di Desa Masalili beralih menggunakan benang biasa. Kini proses pembuatannya pun semakin cepat karena menggunakan peralatan modern.

Melihat potensi yang dimiliki kerajinan tenun tradisional ini, pemerintah daerah setempat gencar melakukan promosi melalui berbagai pameran. Kabarnya, akibat gencarnya promosi ini, kain tenun tradisional Masalili tembus pasar Eropa.

Ini tentu berita baik. Selain membantu perekonomian warga desa, diterimanya kain tenun tradisional ini di pasar internasional akan mendorong berbagai pihak untuk tetap menjaga kelestarian dan keasliannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + 18 =