Tarian Maggiri, Pertunjukan Kesaktian Kaum Bissu di Segeri Pangkep

191
Tari Maggiri
Foto: Rudy Rustam/rudyrustam.wordpress.com

1001indonesia.net – Tari maggiri atau tari mabissu merupakan tarian adat masyarakat Bugis yang dipertunjukkan oleh seorang atau beberapa orang bissu. Dalam tarian ini, penari bissu menunjukkan kekebalan mereka terhadap senjata tajam.

Bissu adalah kaum “meta-gender” yang mengabdi sebagai imam besar pada populasi Bugis setempat. Mereka bukan pria, bukan pula wanita. Dalam kepercayaan Bugis, kaum bissu  berperan sebagai penghubung antara dewa di langit dengan manusia biasa.

Bissu memegang peranan yang besar dalam upacara-upacara adat di daerah Bugis. Selain itu, golongan ini juga memiliki sebuah pertunjukan tari tradisional, yaitu tari maggiri. Hingga saat ini, meski jumlah bissu sudah sangat sedikit, tarian ini masih dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Baca juga: Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

Tari maggiri diperkirakan telah ada sejak zaman pemerintahan Raja Bone pertama. Raja bergelar To Manurung Ri Matajang itu memerintah sekitar tahun 1326-1358. Tarian ini menjadi salah satu tarian yang berkembang di dalam istana kerajaan Bone.

Dalam tarian maggiri, penari bissu menusuk-nusukkan keris ke tubuhnya, terutama ke bagian-bagian tubuh yang vital, seperti leher, perut, dan pergelangan tangan. Para bissu yang melakukan pertunjukan tarian ini mendapatkan kekuatan dari para roh sehingga kebal terhadap senjata tajam.

Tari yang sarat dengan kekuatan mistis ini biasanya dipentaskan pada acara perayaan, untuk menyambut tamu, atau menjadi pelengkap upacara adat tertentu. Tarian ini dapat dilakukan sendirian dan bisa pula dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang bissu.

Sebelum menari, seorang bissu membaca mantra khusus. Bunyi gendang pertama yang dipukulkan oleh pa’ganrang (penabuh gendang) menjadi tanda dimulainya tarian.

Dalam balutan pakaian adat, bissu melangkah masuk ke arena pertunjukan dengan membawa alusu sebagai perlengkapan tarian. Ia menginjak kain putih (kain talattu) yang terbentang dan melangkah secara perlahan-lahan diiringi diiringi alunan gendang yang makin lama semakin kuat terdengar.

Alusu yang dibawanya digoyangkan perlahan-lahan sehingga menimbulkan suara-suara kecil. Suara alusu tersebut nyaris tidak terdengar karena tenggelam dalam suara gendang yang ditabuh cukup keras. Bunyi alusu menjadi pengantar jalannya doa.

Penari bissu tersebut akan terus bergerak dan berputar-putar secara perlahan di tengah tempat pertunjukan tarian. Setelah beberapa menit, ia meletakkan alusu yang dibawanya ke lantai. Penari kemudian mengambil alameng. Semua gerakan dilakukan dengan sangat pelan dan penuh penghayatan.

Alameng adalah sejenis pedang khusus. Ukurannya sedikit lebih panjang daripada keris yang juga digunakan bissu dalam pertunjukan tari maggiri. Alameng ini diidentikkan dengan naga. Gagang dan sarungnya terbuat dari kayu, dihias dengan balutan emas atau perak.

Penari memegang alameng yang masih bersarung dengan kedua tangannya. Alameng lalu diangkat-angkat ke atas kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia menurunkan badannya seperti posisi orang yang hendak berlutut. Ia mengeluarkan alameng dari sarungnya. Penari kemudian mulai menari dengan alameng di tangan kiri dan sarungnya di tangan kanan.

Setelah beberapa saat, alameng dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dan diletakkan di tempat semula. Penari bissu kemudian mengambil alusu dan kembali menari. Setelah itu, alusu kemudian diletakkan di lantai.

Bissu kembali menari mengikuti irama gendang. Gerakan-gerakan tari yang dibawakannya memang terlihat feminin, sangat lembut dengan gerakan yang agak lamban, menggoyang-goyangkan badannya sedemikian rupa, dengan sedikit mengangkat kain sarung yang dipakainya dia terus bergerak, hingga akhirnya kembali ke posisi seperti sedang berlutut.

Keadaan berlutut seperti itu dianggap sebagai posisi menghormat, dan setelah dalam posisi tersebut, irama bunyi gendang yang ditabuh pun berhenti. Bissu menghentikan tariannya, lalu kedua tangannya dihadapkan ke arah atas, bawah, ke samping kiri, dan kanan. Hal itu dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada empat inti alam, yaitu air, angin, api, dan tanah.

Bissu kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah atas seperti orang yang sedang berdoa. Terdengar suara yang cukup lantang dari bissu yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tak lama setelah itu, bissu mulai mengalami keadaan trans dan berada di bawah pengaruh alam bawah sadarnya. Keris (sapukalayang terselip di balik ikat pinggangnya diambil dan dikeluarkan dari sarungnya.

Keris mula-mula dipandanginya dengan penuh konsentrasi, lalu secara tiba-tiba keris itu mulai diiris-iriskan ke tangannya namun anehnya keris itu seperti tidak berfungsi sama sekali, tidak ada luka gores dan tangan bissu tidak mengeluarkan darah sedikit pun.

Gendang pengiring terdengar semakin kencang. Sambil terus menari, penari bissu mulai menusuk-nusukkan keris yang dibawanya ke tubuhnya. Semua tusukan dilakukan dengan sangat kuat dan berlangsung cukup lama. Namun, senjata tajam itu tak melukai sedikit pun tubuh sang penari.

Setelah beberapa saat melakukan atraksi ekstrem tersebut, penari bissu memperlambat gerakannya dan bergerak mundur ke tempat dia mulai melangkah masuk sebelum menari. Ia menghadap ke arah baskom yang telah berisi air dan beberapa helai daun-daunan yang dipetik sesaat sebelum menari. Bissu kembali dalam posisi berlutut dan mengacungkan kerisnya ke atas sebagai penghormatan yang terakhir kalinya.

Pada akhir prosesi tarian, penari bissu memasukkan keris ke dalam sarungnya lalu mengambil alameng dan beberapa helai daun yang sudah basah dari dalam baskom. Penari bissu lalu memercikkan airnya ke berbagai arah, sambil tetap menari. Prosesi tari maggiri pun selesai.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + fifteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.