Tari Yapong, Pertemuan Antarkebudayaan

770
Tari Yapong, Pertemuan Antarkebudayaan
Tari Yapong (Foto: senitari.com)

1001indonesia.net – Tari yapong yang berkembang dalam masyarakat Betawi adalah bentuk olah antarperadaban, dari seni tari Sunda (jaipong), Cina/Tionghoa (dengan pakaian dan gerak panjang dari kaki), tari Jawa (dengan ekspresi melalui lentik tangan), serta tari Melayu (dengan gerak pencak).

Kesan pertama yang muncul dari tari yapong adalah pakaian. Pakaian penari amat dekat dengan pakaian dari peradaban China dan Champa (Vietnam). Dengan kain panjang jatuh ke bawah, kita mendapat kesan kuat adanya interaksi peradaban dari pakaian seperti ini. Kesan “Opera Peking” atau pakaian “ao dai” muncul dalam pakaian ini. Dalam perkembangannya, jenis pakaian lain juga dikembangkan, termasuk yang diserap dari Jawa Tengah dan Pasundan.

Tari ini diserap dari perkembangan masyarakat Betawi yang amat terbuka dan secara dinamis mengolah beragam peradaban yang berkembang di Jakarta. Pertama kali menjadi upaya pemerintah daerah Jakarta pada 1975, Bagong Kussudiarjo menjadi orang yang membidani lahirnya tari ini. Disebut demikian karena upayanya untuk menangkap dengan baik dinamika masyarakat Betawi terlahir dalam tari yang dinamis ini.

Musik pengiring tari yapong merupakan paduan dari rebana Betawi, gambang kromong, gamelan Jawa Tengah dan Jawa Barat—seturut racikan yang sedang dipentaskan. Musik ini juga mewakili keterbukaan dan kreativitas masyarakat Betawi dalam mengelola unsur-unsur dari berbagai penjuru Nusantara.

LEAVE A REPLY

two × 3 =