Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri (Foto: ilbaindo.blogspot.com)

1001indonesia.net – Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu penyair kontemporer Indonesia. Ia mulai menulis puisi sejak sekitar tahun 60-an. Namanya menjadi sangat terkenal dalam dunia sastra modern Indonesia karena kekhasan puisi yang ia ciptakan dalam upayanya untuk “mengembalikan kata pada mantera”.

Sutardji dilahirkan di Rengat, Indragiri Hulu, pada 24 Juni 1941. Setelah menyelesaikan SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran Bandung.

Sajak-sajak ciptaan Sutardji berbeda dengan sajak para penyair lain seangkatannya. Dilihat sepintas lalu, puisinya seakan-akan hanya merupakan permainan kata saja. Ciri yang menonjol adalah pengulangan kata dan struktur secara terus-menerus, serta permainan tipografi.

Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri, “Kredo Puisi”

Kekhasannya tersebut mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Sutardji menegaskan sikapnya dalam “Kredo Puisi” yang ia tulis pada 30 Maret 1973. Ia ingin membebaskan “kata dari makna.” Kata dibebaskan dari bebannya sebagai pembawa pengertian. Ia mencoba mengembalikan kata pada fungsinya seperti dalam mantra.

Tampaknya, Sutardji ingin melepaskan pandangan yang umumnya dipegang oleh para penyair. Para penyair umumnya melihat kata-kata tidak semata sebagai sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair, melainkan juga sebagai objek yang mendukung imaji. Sutardji mencoba bereksperimen. Kata-kata bukan lagi sebagai pendukung imaji. Ia ingin menggunakan kata-kata seperti dalam mantra.

Bagi Sutardji, sajak-sajaknya adalah mantra, dan dengan demikian memiliki ciri-ciri mantra. Mantra pada dasarnya sukar dipahami, dan memang bukan untuk dipahami. Mantra sendiri adalah permainan bahasa atau kata. Yang terpenting dari mantra adalah kehadirannya yang membawa efek tertentu, seperti kemanjurannya, dan bukan mengenai pemahaman.

Menurut Sapardi Djoko Damono, “Mantra adalah salah satu jenis tradisi lisan yang maksud penyampaiannya lebih penting dari maknanya. Kata, dalam mantra, adalah bunyi —dan dengan demikian segenap aspek bunyi … menjadi utama. Dalam tradisi lisan, mantra sama sekali tidak membayangkan susunan bait, larik, dan aspek-aspek tipografis lain” (Sapardi Djoko Damono, 1999).

Lebih lanjut, Sapardi mengungkapkan bahwa puisi yang dikembangkan Sutardji tergolong unik. Di satu pihak, puisi-puisinya, seperti “Ah”, “Tragedi Winka dan Sihka,” dan “Q” sepenuhnya menyandarkan keberadaannya pada tata letak kata dalam tradisi cetak. Di pihak lain, oleh penyairnya tata letak itu ditawarkannya sebagai mantra, yang secara konvensional menyandarkan keberadaannya pada anasir bunyi kelisanan.

Sutardji secara konsisten mengembangkan kedua anasir tersebut, seperti yang tampak dalam kumpulan puisinya O Amuk Kapak (1981).

LEAVE A REPLY

four × five =