Suku Polahi, Masyarakat Terasing di Pedalaman Gorontalo

126
Suku Polahi
Ilustrasi (Foto: boombastis.com)

1001indonesia.net – Suku Polahi merupakan salah satu suku yang tinggal di pedalaman Gorontalo, di sekitar Gunung Boliyohuto. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di belantara hutan dengan cara-cara tradisional.

Satu hal yang unik bagi suku Polahi adalah kebiasaan mereka untuk menikah dengan saudara kandung. Bagi kita, ini adalah hal yang tabu, tapi tidak bagi suku Polahi. Nikah sesama saudara kandung merupakan cara mereka untuk mempertahankan keturunan Polahi.

Suku Polahi hidup di hutan pegunungan dengan cara nomadik, meski tidak melakukan perjalanan panjang di setiap perpindahan tempat tinggal. Mereka tinggal di gubug kecil beratap dedaunan tanpa dinding. Tempat peristirahatan itu akan ditinggal sewaktu mereka berpindah tempat.

Sumber makanan diperoleh dari hasil berburu babi hutan, rusa, dan ular, dan hasil hutan lainnya, seperti dedaunan, umbi-umbian, dan akar rotan.

Konon, suku Polahi sebenarnya merupakan warga Gorontalo yang melarikan diri ke dalam hutan pada waktu penjajahan Belanda dulu. Pemimpin mereka waktu itu tidak mau ditindas oleh penjajah. Sebab itu, orang Gorontalo menyebut mereka Polahi, yang artinya “pelarian.”

Orang Polahi kemudian beradaptasi dengan kehidupan rimba. Setelah Indonesia merdeka dan tidak ada lagi penjajah, masyarakat Polahi masih tetap memilih untuk bertahan tinggal di hutan.

Keterisolasian mereka dari dunia luar membuat mereka hanya berkutat dengan kelompok mereka sendiri yang jumlahnya kecil. Inilah yang kemudian melahirkan kebiasaan nikah sedarah.

Namun, meski mereka nikah sedarah, tidak ada dari turunan mereka yang cacat. Ini mengherankan karena biasanya perkawinan satu darah akan membuat keturunannya menderita cacat. Memang belum ada penelitian mengenai akibat dari perkawinan sedarah yang terjadi selama ini di Suku Polahi.

Sampai saat ini, kebiasaan nikah sedarah ini masih dipraktikkan, meski secara perlahan sudah mulai ditinggalkan. Suku Polahi sendiri tampaknya sudah membuka diri dengan dunia luar.

Mereka memang masih memilih untuk hidup di hutan pegunungan dan bertahan dengan tradisi yang mereka miliki. Namun, mereka juga sudah mulai mau turun ke pemukiman masyarakat untuk membeli keperluan. Dulu, mereka hanya mengenakan cawat yang terbuat dari kulit kayu atau daun woka, tapi kini mereka berpakaian seperti umumnya.

Masyarakat yang tinggal di pedalaman tentu harus mendapat perhatian dari pemerintah. Namun, orang Polahi tentunya juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih tinggal di hutan pegunungan, yaitu untuk mempertahankan kepercayaan dan tradisi yang mereka miliki.

Perhatian pemerintah untuk membantu suku ini harus disertai riset yang mendalam sehingga bisa membuat mereka lebih berdaya. Tanpa pemahaman yang tepat atas apa yang sebenarnya mereka butuhkan, alih-alih memperbaiki kehidupan mereka, bantuan yang diberikan malah membuat mereka terasing dari alam dan tradisi yang selama ini mereka hidupi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 10 =