Songket Pandai Sikek, Kemewahan Selembar Kain Bersulam Emas

68
Songket Pandai Sikek
Perajin songket Pandai Sikek dari Suamtra Barat hadir di Indonesia Pavilion, Nusa Dua, Bali. (Foto: Dinny Mutiah/Liputan6.com)

1001indonesia.net– Kerajinan tenun songket dapat ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Masing-masing daerah mengembangkan teknik pembuatan dan motifnya sendiri yang menjadi ciri khasnya, tak terkecuali Sumatra Barat. Salah satu jenis tenun songket di Minangkabau yang dikenal dengan kekhasan motifnya adalah songket Pandai Sikek.

Pandai Sikek merupakan nama dari salah satu nagari di Kecamatan Sepuluh Koto, Tanah Datar, Sumatra Barat. Letaknya di daerah lereng Gunung Singgalang. Sudah sejak lama nagari ini menjadi sentra kerajinan kain tenun songket. Karena kualitas dan keindahannya, songket Pandai Sikek menjadi simbol kemewahan dan status sosial.

Prosuksi kain tenun songket mulai berkembang di Pandai Sikek sejak tahun 1880-an. Ketika itu, para penenun yang semula memproduksi kain untuk pakaian sehari-hari beralih ke produksi kain mahal yang dibuat dari benang sutera dan benang emas.

Usaha pembuatan kain mahal dengan pemasaran yang terbatas tersebut dikembangkan oleh para saudagar dengan mempekerjakan gadis-gadis setempat sebagai penenun. Perlahan tapi pasti, Pandai Sikek kemudian tumbuh sebagai pusat kerajinan tenun songket di Minangkabau.

Di Pandai Sikek, tradisi menenun diwariskan secara turun-temurun. Di masa lalu, ada aturan khusus di Pandai Sikek: pewarisan hanya boleh dilakukan dalam satu garis keturunan. Perempuan dalam garis keturunan tersebut harus memiliki keahlian menenun. Dengan aturan itu, tradisi menenun tetap terjaga.

Namun, seiring perubahan zaman, aturan tersebut tidak lagi berlaku. Saat ini keahlian menenun bisa dipelajari oleh siapa saja di sanggar-sanggar di Pandai Sikek.

Kain tenun songket Pandai Sikek dibuat secara tradisional, baik dalam pemilihan bahan baku maupun jenis peralatan yang digunakan. Ada dua jenis kain tenun songket yang dihasilkan para perajin di Pandai Sikek, yakni kain songket balapak dan kain songket batabua (bertabur).

Pada kain songket balapak atau juga disebut kain tenun sarek, hiasan motif dari benang emas atau perak memenuhi seluruh bidang permukaan kain sehingga warna dasarnya tidak terlihat jelas.

Sementara pada kain songket batabua (bertabur) atau biasa disebut kain songket babintang (berbintang), hiasan motif terdapat pada bagian tertentu saja. Pada jenis songket ini, warna dasar kain terlihat jelas.

Ada aturan adat mengenai penggunaan ragam hias atau jenis motif dalam upacara-upacara adat, tetapi tidak ada aturan khusus penggunaan kain songket untuk membedakan masing-masing golongan.

Untuk menunjukkan status yang mereka miliki, orang kaya atau golongan bangsawan biasanya memilih bahan dan teknik pembuatan dengan kualitas tinggi, yaitu kain songket balapak dengan teknik (tuhuak) dua agar benang emas pada ragam hias terlihat padat dan rapat.

Sementara rakyat biasa memilih kain tenun songket balapak dengan teknik empat dan enam. Pada jenis songket ini, warna kuning keemasan pada ragam hias tak terlalu dominan.

Kain tenun songket Pandai Sikek memiliki banyak motif, yang terbagi menjadi dua jenis pola motif, yaitu cukie dan sungayang.

Cukie digunakan pada bagian-bagian kain, seperti tepi kain, kepala kain, badan kain, dan pembatas antara dua motif. Penamaan cukie didasari oleh nama kain tua yang hanya digunakan saat upacara adat.

Sedangkan Sungayang adalah pola motif yang menutupi seluruh kain songket.

Beberapa motif khas di antaranya saik kalamai, buah palo, barantai putiah, tampuak manggih, salapah, dan simasam. Dari beragam jenis motif tersebut, ada tiga jenis motif yang wajib ada dan menjadi ciri khas kain tenun songket Pandai Sikek, yaitu batang pinang (pohon pinang), bijo bayam (biji bayam), dan saluak laka.

Jika selembar kain tenun songket tidak memiliki ketiga motif tersebut maka dianggap bukan hasil karya para perajin Pandai Sikek.

Sementara warna dasar kain yang dipakai umumnya adalah kuning, merah, dan hitam. Warna kuning melambang keagungan, ketenaran, tutur kata yang benar dan menempuh jalan yang benar. Warna merah melambangkan keberanian dan kesanggupan menghadapi cobaan hidup. Sedangkan warna hitam melambangkan keabadian.

Ketiga warna tersebut juga melambangkan tiga penguasa dalam masyarakat Minangkabau, yaitu kaum adat (hitam), cendekiawan (merah), dan ulama (kuning).

Hasil kerajinan tenun songket Pandai Sikek tidak hanya terbatas pada beragam pakaian, seperti baju kurung dan destar, tapi juga untuk keperluan upacara-upacara adat, seperti upacara perkawinan.

Perlengkapan upacara adat yang menggunakan kain songket antara lain kodek songket, saruang balapak, saruang batabua, selendang songket atau selendang batabua tingkuluak tanduak (tutup kepala perempuan), dan sisampiang (salempang yang biasa digunakan penghulu).

Kain tenun songket Pandai Sikek mempunyai ciri khas, baik pada pemakaian benang emas dan perak, motif, maupun penggarapannya yang halus. Kekhasan ini mengantarkannya sebagai salah satu kain songket terbaik di Indonesia.

Bahkan karena keindahan dan kemewahannya, kain tenun khas Pandai Sikek ini dianggap sebagai “ratu kain songket”. Kekayaan wastra Nusantara dari Minangkabau ini diabadikan pada mata uang pecahan Rp5.000 keluaran tahun 2001.

Baca juga: Sarung Goyor, Sarung Asli Buatan Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.