Sarung Goyor, Sarung Asli Buatan Indonesia

oleh Siti Muniroh

1580
Sarung Goyor
Seorang perajin sedang menenun sarung goyor. Sarung buatan tangan ini memiliki keistimewaan untuk menyesuaikan dengan cuaca. Saat dingin sarung akan terasa hangat, sebaliknya saat panas sarung akan terasa sejuk di tubuh. (Foto: semanggisolo.besaba.com)

1001indonesia.net – Sarung (sarong) adalah kain yang berukuran kira-kira 0,91 m (lebar) dan 2,3 m (panjang) dengan dijahit di kedua ujungnya. Kain ini dipakai dengan cara dibebatkan di pinggang untuk menutupi tubuh seseorang bagian tengah ke bawah (pinggang hingga ujung betis). Di Indonesia, ada satu jenis sarung yang memiliki keistimewaan karena ditenun secara manual dan mampu beradaptasi terhadap cuaca, yaitu sarung goyor.

Pada mulanya, sarung goyor berasal dari suku Badui di Yaman, Semenanjung Arab. Mereka mencelupkan kain berwarna putih ke bahan pewarna yang berwarna hitam dan dipakai sehari-hari di dalam rumah mau pun saat hendak pergi tidur. Lama-kelamaan, tradisi ini meluas hingga ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa.

Pada abad ke-14, saudagar-saudagar Arab dan Gujarat berdagang ke Indonesia dan mulai mengenalkan sarung. Pada perkembangannya, sarung di Indonesia menjadi identik dengan kebudayaan Islam. Penggunaannya pun lantas tidak sebatas keseharian seseorang—baik laki-laki maupun perempuan—di dalam rumahnya melainkan juga di acara-acara resmi dan tempat-tempat ibadah.

Sarung terbuat dari macam-macam bahan kain; ada yang dari katun, poliester, mau pun sutera. Jenis sarung pun bermacam-macam; ada sarung tenun ikat, sarung songket, dan sarung tapis.

Sarung goyor adalah jenis sarung tenun ikat. Sarung ini dapat beradaptasi pada cuaca sekitar; jika musim hujan, pemakai sarung ini akan merasa hangat. Sebaliknya jika saat panas, kain sarung ini akan merasa sejuk di badan kita. Inilah keistimewaannya.

Sarung yang juga disebut sarung toldem ini awalnya berasal dari pemalang, tepatnya  di Desa Wanarejan Utara, Kecamatan Taman. Namun, dilihat dari keuntungan yang cukup lumayan dari produksi ini, pembuatannya pun meluas ke pelbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kemampuan beradaptasi sarung ini, dihasilkan dari proses pembuatannya yang lumayan panjang dan membutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan pembuatannya dilakukan secara manual (handmade).

Proses pembuatan satu lembar kain saja membutuhkan setidaknya 13 tahapan selama kurang lebih 15 hari. Dimulai dari menggambar pola (pada benang), pengikatan/talen (dengan tali rafia), pewarnaan dan pemintalan benang.

Bahan yang digunakan untuk pembuatannya pun menjadi faktor pembeda dari sarung lainnya. Terbuat dari bahan katun dengan rajutan benang rayon dan dikombinasikan dengan sutra. Bahan bakunya biasa diimpor dari Tiongkok dan India.

Volume benang dalam selembar kain dibuat lebih banyak sehingga sarung menjadi lebih tebal. Pengikatan dengan tali rafia dilakukan secara manual (dengan tangan). Adapun untuk pewarnaan, dipilih warna-warna yang cerah saja seperti hijau, merah, dan ungu.

Kalaupun ada selingan warna lain (putih dan kuning), jumlah produksinya tak seberapa. Hal ini dikarenakan untuk warna putih dan kuning, proses warna tidak bisa timbul dengan maksimal.

Sarung tradisional ini dikerjakan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang tentu saja dioperasikan oleh tenaga manusia. Bila terlalu kuat saat menghentakkan ATBM maka sarung yang dihasilkan menjadi lebih kecil ukurannya. Juga apabila terjadi salah tumpal (salah merek; merek untuk sarung kualitas bagus terpasang di sarung yang berkualitas sedang).

Kesalahan lainnya yakni bila para penenun terlambat mengetahui benang yang putus. Konsekuensinya adalah mereka harus mengganti kerugian sebesar harga sarung dengan cara dicicil setiap minggunya.

Inilah duka dari para pekerja sarung tenun ini. Tentu saja terdapat sukanya, yakni saat mereka mendapatkan upah yang sesuai dari jerih payah dan kehati-hatian mereka dalam mengerjakan tenunan ini.

Biasanya para penenun ini akan mendapatkan imbalan antara Rp18.000,- hingga Rp40.000,- per sarung. Sedangkan dalam seminggu rata-rata mereka bisa memproduksi 4 sampai 8 buah sarung per orang. Upah tersebut belum termasuk upah untuk pemintalan benang dan “sisir” (memasukkan benang pada sisir di ATBM)

Sisir Produk sarung goyor sendiri memiliki harga jual yang bervariasi. Dari Rp150.000,- hingga Rp350.000,- per sarung.

Terbilang mahal memang, karena seperti telah dikatakan tadi, sarung goyor ini memiliki proses yang tidak semudah pembuatan sarung celup dan sarung sablon.

Harga sarung goyor berkualitas bagus berkisar antara:

  • Rp200.000 – Rp300.000 (Wilayah: Indonesia)
  • Rp300.000 – Rp500.000 (Wilayah: Luar Indonesia),

Sedangkan untuk kualitas yang mempunyai kecacatan (ukuran lebih pendek, salah tumpal, dan lain sebagainya) berkisar antara:

  • Rp120.000 – Rp200.000 (Wilayah: Indonesia)
  • Rp200.000 – Rp350.000 (Wilayah: Luar Indonesia)

Harga-harga ini tentu saja dengan catatan yakni motif yang rumit tentu memengaruhi harga jual.

Relatif mahal bukan? Pangsa pasar sarung goyor hingga saat ini adalah negara-negara di Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Selandia Baru. Sarung jenis ini memang tergolong sarung yang memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Tidak heran jika sarung goyor memiliki penggemar khusus, terutama kalangan menengah ke atas, seperti kyai dan pengusaha.

“Goyor itu memiliki karakter yang berbeda dengan kain sarung pada umumnya, terasa lebih adem, halus, motif serta corak yang ekslusif karena dibuat secara manual (handmade), tidak diproduksi massal,“ menurut salah satu pengrajin sarung goyor asal Magelang, Umar Saleh Al Katiri.

Ia sendiri mendapatkan permintaan barang yang banyak datang dari luar Kota Magelang dan mancanegara, seperti Yaman dan Jeddah. Dalam tiga bulan, dia bisa mengirim ke Yaman dua kali; sekali kirim, jumlahnya 30 kodi. Sementara jumlah produksinya sebanyak 70 lembar dalam sepekan.

“Rutin setiap dua bulan kirim ke Jeddah dan Yaman seharga Rp 10 juta per kodi atau sekitar Rp 500 ribu per lembar. Orang-orang sana menyukai tekstur sarung goyor yang lembut” tambahnya.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Mungkin karena harganya terbilang mahal, maka hanya sedikit masyarakat Indonesia yang memakai produk asli negerinya sendiri.

Pemasaran kain sarung ini untuk wilayah Indonesia antara lain; Bali, Surabaya, Tegal, Pekalongan, Brebes, Cirebon.

Sebenarnya, ada trik khusus bagi kita yang ingin membeli sarung goyor dengan harga lebih murah, yaitu dengan datang langsung ke produsennya. Di sana akan ada beberapa produk cacat (BS istilahnya) yang bisa kita beli dengan harga miring. Kita bisa mendapatkan sarung goyor yang aslinya seharga Rp. 350.000 dengan harga Rp. 200.000. Ukuran yang didapat adalah ukuran normal, hanya saja salah tumpal (salah tulisan merek).

Sumber:

  • http://www.kompasiana.com/gneoga/sarung-goyor-pembantu-ekonomi-rakyat-yang-mendunia_550d3ebc813311c925b1e12f
  • http://kaintenunpemalang.blogspot.co.id/
  • http://regional.kompas.com/read/2015/06/26/09135011/Goyor.Sarung.Tenun.yang. Tersohor.Sampai.Timur.Tengah
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sarung

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + 7 =