Angklung Buncis dan Tradisi Penghormatan Padi

62
Angklung Buncis
Kesenian angklung buncis digelar dalam rangkaian upacara seren taun di kaki Gunung Salak, Bogor, tahun 2009. (Foto: Onotrapokenifla/Wikipedia)

1001indonesia.net – Angklung buncis adalah salah satu jenis variasi kesenian dari alat musik angklung. Kesenian tradisional ini menjadi ciri khas Jawa Barat, terutama daerah agraris. Di masa silam, angklung buncis bersifat sakral karena menjadi bagian dari ritual penghormatan padi.

Nama kesenian buncis berasal dari satu teks lagu yang dimainkan dalam kesenian ini. Lagu tersebut memiliki lirik “cis kacang buncis nyengcle….” Berdasarkan lirik lagu itu, masyarakat setempat menyebut kesenian ini angklung buncis. Konon, kesenian ini termasuk kesenian buhun atau sudah sangat tua keberadaannya.

Di masa silam, selain sebagai bagian dari ritual, angklung buncis juga dimainkan para orang tua sambil menjaga padi di sawah yang mulai menguning. Alat musik ini juga banyak dimainkan anak-anak saat bermain di tanah lapang.

Baca juga: Karinding, Alat Musik Tradisional Khas Jawa Barat

Ritual penghormatan padi

Aslinya, pertunjukan angklung buncis merupakan bagian dari upacara penghormatan padi (Nyi Pohaci Sanghyang Sri atau Dewi Sri) saat panen tiba. Hal ini masih bisa kita temukan pada masyarakat adat Cigugur, Kuningan dan Cireundeu, Cimahi Selatan.

Pada kedua tempat tersebut, angklung buncis dipahami sebagai bagian dari Pikukuh Tilu yang merupakan inti dari ajaran Sunda Wiwitan. Masyarakat Cigugur menggelar kesenian ini dalam upacara ritual seren taun. Pada masyarakat adat Cireundeu, buncis menjadi bagian dalam upacara tutup taun. 

Baca juga: Upacara Adat Seren Taun Cigugur Kuningan

Menjadi pertunjukan hiburan

Di luar kampung adat yang masih memegang ajaran leluhur Sunda, peran angklung buncis sudah bergeser. Kesenian ini tidak lagi memiliki fungsi ritual, melainkan sebagai seni pertunjukan. Seiring perkembangan waktu, ritual penghormatan padi memang semakin jarang dilaksanakan oleh masyarakat.

Lumbung-lumbung padi (leuit) juga mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, digantikan dengan karung sebagai tempat padi yang lebih praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian, kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Sebagai hiburan pertunjukan, kesenian ini mengalami beberapa perkembangan. Saat ini, lagu-lagu buncis bisa berasal dari lagu-lagu yang biasanya diiringi gamelan. Penyanyinya pun mengalami perkembangan. Jika dulu yang menyanyi adalah laki-laki pemain angklung, kini lagu dibawakan oleh penyanyi wanita.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian angklung buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian juga dilengkapi dengan instrumen 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag.

Dalam perkembangannya, instrumen ditambah dengan tarompet, kecrek, dan gong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda ataupun degung.

Lagu-lagu yang sering dimainkan dalam pertunjukan buncis, di antaranya Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, dan Mega Beureum.

Baca juga: Angklung dan Calung, Alat Musik Bambu Khas Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.