Sastra Angkatan 45

75
Grafiti Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45
Grafiti Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. (Foto: Suara.com)

1001indonesia.net – Sastra angkatan 45 adalah sastra yang berkembang sekitar masa penjajahan Jepang, zaman proklamasi, dan beberapa tahun setelahnya. Menurut HB Jassin, angkatan yang disebut juga sebagai Angkatan Kemerdekaan ini dipelopori oleh Chairil Anwar.

Menurut Ulrich Kratz (2000), istilah Angkatan 45 pertama kali disebutkan oleh Rosihan Anwar, dalam karyanya yang terbit pada 1948 di bawah judul “Angkatan 45 Buat Martabat Kemanusiaan”.

Istilah Angkatan 45 dalam tulisan Rosihan Anwar itu bukan istilah kesusastraan yang menunjukkan adanya sifat, gaya, dan tema khas bahasa dan sastra pengarang Indonesia pada masa Revolusi yang berlainan dengan sastra periode sebelumnya. Istilah ini awalnya bersifat politik, dan baru belakangan dimengerti sebagai angkatan kesusastraan (Kratz, 2000).

Dalam esai berjudul “Angkatan 45” yang terbit di majalah Siasat pada 22 Oktober 1950, Sitor Situmorang menyebut bahwa Chairil Anwar sendirilah yang memilih nama Angkatan 45 untuk menyebut sastrawan dan seniman sesudah masa perang. Sitor pun menempatkan Chairil sebagai simbol Angkatan 45.

Umumnya orang menyebut Angkatan 45 memang memiliki ciri yang berbeda dengan angkatan sebelumnya. Chairil Anwar, yang dinobatkan sebagai pelopor angkatan ini oleh HB Jassin, misalnya, dinilai mampu membebaskan diri dari tradisi dan konvensi penulisan pantun (dengan rima ab ab) ataupun dalam konvensi syair (dengan rima aa aa).

Kekhasan Angkatan 45 juga berkaitan dengan situasi sosial politik saat itu. Masa pendudukan Jepang hingga Indonesia merdeka dan beberapa tahun setelahnya merupakan masa paling begolak di Indonesia. Keadaan ini memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan sastra. Hal ini membuat sastra yang berkembang saat itu memiliki corak tersendiri yang berbeda dengan sastra periode sebelumnya.

Menurut Agus Maryoto dalam Sastrawan Angkatan 45 (2019), seniman dan pengarang pada sekitar tahun 1945 memiliki pandangan yang luas tentang sastra. Mereka menilai perkembangan kebudayaan Indonesia dari kacamata yang lebih luas. Kemerdekaan telah memberikan kebebasan pada sastrawan untuk menyerap perkembangan sastra dunia, baik Barat maupun Timur.

Ini tampak pada saja-sajak Chairil Anwar. Pembaruan yang dilakukan Chairil merupakan buah pengaruh dan interaksinya dengan karya-karya asing (terutama puisi-puisi karya penyair Belanda), seperti karya-karya penyair Marsman dan Slauherhof.

Angkatan ini dipelopori oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin, melalui karya yang mereka hasilkan. Selain ketiga sastrawan tersebut, sastrawan yang menandai periode ini antara lain Usmar Ismail, Idrus, Ida Nasution, Utuy Thtang Sontani, Balfas, J.E. Tatengkeng, dan Pramoedya Ananta Toer.

Baca juga: Amir Hamzah, Mengenang Raja Penyair Pujangga Baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.