Pura Taman Ayun, Keindahan Pura yang Dibangun oleh Raja Mengwi

92
Pura Taman Ayun Bali
Keindahan Pura Taman Ayun di Mengwi menjadi daya tarik bagi para wisatawan. (Foto: rentalmobilbali.net)

1001indonesia.net – Pura Taman Ayun terletak di Desa Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 18 km ke arah barat dari Denpasar. Pura ini terkenal akan keindahannya, sesuai dengan namanya yang berarti pura di taman yang indah. Kompleks bangunan bersejarah ini juga melambangkan filosofi Tri Hita Karana, yakni hubungan yang selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan.

Pura Taman Ayun merupakan Pura lbu (Paibon) bagi Kerajaan Mengwi. Kompleks bangunan suci ini dibangun oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu. Awalnya, I Gusti Agung Putu membangun sebuah pura di utara Desa Mengwi untuk tempat pemujaan leluhurnya. Pura tersebut bernama Taman Genter.

Setelah Mengwi telah berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, I Gusti Agung Putu memindahkan Taman Genter ke arah timur. Ia memperluas bangunan tersebut dan memercayakan pembangunannya kepada arsitek asal China, Kang Choew.

Pura yang telah diperluas tersebut diresmikanpada hari Selasa Kliwon wuku Medangsia bulan keempat tahun 1556 Saka (1634 M). Sampai sekarang, setiap hari Selasa Kliwon wuku Medangsia, di Pura Taman Ayun diselenggarakan piodalan (upacara) untuk merayakan ulang tahun berdirinya pura ini.

Kolam yang mengelilingi Pura Taman Ayun
Kompleks Pura Taman Ayun dikelilingi kolam selebar 10 meter di sisi selatan dan 50-70 meter di sisi barat serta timur. (Foto: Indonesiakaya.com)

Pura Taman Ayun telah mengalami beberapa kali perbaikan. Bangunan suci ini pernah mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi pada 21 Januari 1917. Pada tahun 1937, pura ini mengalami pemugaran total. Perbaikan kecil kemudian dilakukan tahun 1949 pada candi bentar serta kori agung.

Kompleks Pura Taman Ayun menempati area seluas 100 x 250 meter persegi, yang dikelilingi kolam selebar kurang lebih 10 meter di sisi selatan dan 50-70 meter di sisi barat dan timur. Kompleks bangunan suci umat Hindu ini tersusun atas pelataran luar dan tiga pelataran dalam, yang makin ke dalam makin tinggi letaknya.

Pelataran luar yang disebut Jaba, terletak di sisi luar kolam. Dari pelataran luar terdapat sebuah jembatan melintasi kolam, menuju ke sebuah pintu gerbang berupa gapura bentar. Gapura tersebut merupakan jalan masuk ke pelataran dalam yang dikelilingi oleh pagar batu. Di jalan masuk menuju jembatan dan di depan gapura terdapat sepasang arca raksasa.

Di halaman pertama terdapat sebuah wantilan (semacam pendapa) yang digunakan untuk pelaksanaan upacara dan juga sebagai tempat penyabungan ayam yang dilaksanakan dalam kaitan dengan penyelenggaraan upacara di pura.

Wantilan Pura Taman Ayu
Wantilan atau semacam pendapa di halaman depan Pura Taman Ayun. (Foto: kiutour.com)

Pelataran dalam pertama seolah dibelah oleh jalan menuju gapura yang merupakan pintu masuk ke pelataran dalam kedua. Di sisi barat daya terdapat bale bundar, tempat beristirahat sambil menikmati keindahan pura.

Di sebelah bale bundar terdapat sebuah kolam yang dipenuhi dengan teratai dan di tengahnya berdiri sebuah tugu yang memancarkan air ke sembilan arah mata angin. Di timur terdapat sekumpulan pura kecil yang disebut Pura Luhuring Purnama.

Bale Kulkul di Pura Taman Ayu
Bale Kulkul di Pura Taman Ayu (Foto: Wikipedia)

Di ujung jalan yang membelah pelataran pertama terdapat gerbang ke pelataran kedua. Pelataran ini posisinya lebih tinggi dari pelataran pertama. Tepat berseberangan dengan gerbang terdapat sebuah bangunan pembatas, yang dihiasi dengan relief menggambarkan 9 dewa penjaga arah mata angin. Di sebelah timur terdapat sebuah pura kecil yang disebut Pura Dalem Bekak. Di sudut barat terdapat Bale Kulkul yang atapnya menjulang tinggi.

Pelataran dalam ketiga atau yang terdalam merupakan pelataran yang paling tinggi letaknya dan dianggap paling suci. Pintu utama yang disebut pintu gelung terletak di tengah dan hanya dibuka pada saat diselenggarakannya upacara.

Di kiri dan kanan pintu utama terdapat gerbang yang digunakan untuk keluar masuk dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari di pura tersebut. Di pelataran ini terdapat sejumlah candi, gedong, padmasana, padma rong telu, dan bangunan-bangunan keagamaan lainnya.

Juga terdapat sejumlah Meru beratap tumpang yang menjadi ciri pura ini. Meru adalah bangunan dari kayu yang beratap limas dari ijuk, serabut pohon enau. Adapun tumpang adalah atap limas yang bertumpuk dari paling besar dan mengecil ke atas seperti pohon cemara.

Meru di Pura Taman Ayun dijadikan perwakilan pura-pura utama di Bali. Ini upaya Raja Mengwi saat itu meringankan warganya jika ingin sembahyang, tak perlu jauh-jauh ke Pura Besakih. Saat itu, sarana transportasi belum sebaik sekarang.

Sejumlah bangnan dengan meru bertingkat di Pura Taman Ayun
Sejumlah bangnan dengan meru bertingkat di Pura Taman Ayun. (Foto: kintamani.id)

Keindahan Pura Taman Ayun telah menjadi perhatian wisatawan, bail kolal maupun mancanegara. Pada 2002, karena nilai sejarahnya, Pemda Bali mengusulkan kepada UNESCO agar pura ini dimasukkan dalam World Heritage List.

Tak hanya indah, arsitektur Kompleks Pura Taman Ayun ini juga memiliki makna filosofis. Tiga pelataran di Pura Taman Ayun melambangkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang selaras antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain itu, seluruh kompleks Pura Taman Ayun menggambarkan Gunung Mahameru yang mengapung di tengah lautan susu, seperti yang tertera dalam Adhiparwa.

Baca juga: Pura Ulun Danu Beratan, Seperti Mengambang di Atas Danau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.