Pulau Nias, Rumah Tradisional dan Tradisi Lompat Batu

707
Rumah Tradisional Pulau Nias
Rumah tradisional Pulau Nias bagian selatan. Rumah megah ini dimiliki oleh kepala suku, disebut sebagai omo sebual. (Foto: wikipedia.org)

1001indonesia.net – Pulau Nias yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatra dikenal dengan rumahnya yang megah, jalan-jalannya yang berlapis batu, dan warisan kebudayaan megalitiknya yang elok. Salah satu tradisinya yang mengundang banyak perhatian wisatawan adalah tradisi lompat batu (fahombo).

Orang Nias menyebut pulau mereka Tano Niha atau tanah umat manusia. Zaman dulu, masyarakat Nias dicirikan dengan upacara mengayau (upacara pemenggalan kepala manusia), penyembahan terhadap arwah leluhur, pesta keberhasilan, serta masyarakat dengan pembedaan kelas sosial yang terdiri atas ketua, bangsawan, orang biasa, dan budak. Sebagian besar tradisi ini sudah banyak ditinggalkan sejak seabad lalu, terutama sejak masuknya agama Kristen yang saat ini menjadi agama mayoritas di Pulau Nias.

Arsitektur Tradisional Pulau Nias

Bangunan besar dengan atap menjulang dan memiliki bukaan merupakan ciri arsitektur khas rumah tradisional Pulau Nias yang tidak dimiliki rumah tradisional Nusantara lainnya.

Rumah tradisional Nias juga terkenal dengan fondasinya yang terdiri atas pengaturan rumit tiang tegak dan miring. Bangunan ini dirancang untuk menahan gempa bumi. Keseluruhan bangunan memiliki kelenturan yang tinggi karena tiangnya tidak dipancangkan langsung ke tanah, melainkan bersandar pada fondasi batu.

Ciri lain adalah atap yang curam dengan bukaan atap yang dapat dibuka untuk memasukkan sinar matahari ke dalam ruangan serta memberi perputaran udara yang baik. Bukaan atap ini khas arsitektur Pulau Nias, tidak ditemukan di tempat lain di Pulau Nusantara.

Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias Selatan

Di Nias selatan terdapat tradisi lompat batu. Dulu, latihan melompati dinding batu merupakan latihan bagi para pemuda untuk menyiapkan diri mereka menghadapi perang. Olahraga tradisional ini juga berfungsi sebagai ritual untuk memperoleh status kedewasaan. Namun saat ini, ketika perang sudah tidak terjadi lagi, tradisi lompat batu digelar untuk hiburan bagi para wisatawan.

Tiang batu yang menjadi tempat para pemuda latihan melompat ini setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm. Tiang yang disebut hambo batu ini masih ditemukan di banyak desa di Pulau Nias.

Lompat Batu Nias (Foto: Wikipedia.org)
Lompat Batu Nias (Foto: Wikipedia.org)

LEAVE A REPLY

eleven − 10 =