Proses Pembuatan Tenun Ikat dan Pahikung

Yudi Umbu T. T. Rawambaku, SE

612
Proses Pembuatan Tenun Ikat dan Pahikung
Proses menenun kain Sumba. (Foto: dok. pribadi Yudi Umbu T. T. Rawambaku, SE)

1001indonesia.net – Melanjutkan artikel sebelumnya tentang tenun ikat dan songket Sumba Timur, pada tulisan ini saya akan membahas proses pembuatannya. Berikut tahap-tahap pembuatan tenun dan pahikung oleh masyarakat Sumba Timur, NTT.

I. Pembuatan/Pengadaan Benang

Dulu, benang tenun ikat diolah dari kapas. Buah kapas yang telah kering, dipetik, dan dijemur. Kulit buah kapas dibuang dan bijinya dikeluarkan. Untuk mengeluarkan biji kapas bisa dilakukan dengan tangan atau dengan alat.

Untuk mendapatkan bahan kapas, pengrajin bisa memperolehnya dari hasil budidaya sendiri maupun diambil dari tanaman kapas yang tumbuh bebas di alam. Kapas biasanya ditanam pada bulan Januari kemudian dipanen pada bulan Juni/Juli saat kapas sudah terbuka. Proses memanen kapas dilakukan dari pagi sampai siang hari.

Setelah dipanen, kapas lalu dipintal. Ini menjadi langkah awal dari keseluruhan proses membuat tenun ikat untuk mendapatkan benang. Namun, dewasa ini perajin sudah sangat jarang yang menggunakan benang yang dipintal sendiri. Umumnya mereka menggunakan benang yang dijual di toko.

Adapun langkah-langkah dalam proses pemintalan benang sebagai berikut:

  1. Jika kapas yang dikeluarkan bijinya berjumlah sedikit, pekerjaan dilakukan dengan tangan saja. Proses ini disebut lamihi atau memisahkan biji dari kapas.
  2. Jika jumlah kapas banyak, proses pengeluaran bijinya menggunakan alat yang disebut pangari atau pengurut. Jika jumlah kapasnya banyak sekali maka proses mengeluarkan bijinya menggunakan alat yang disebut nggihu atau kincir.
    • Pangari atau pengurut terdiri atas sepotong bambu dan sebilah papan. Kapas berbiji diletakkan di atas papan, kemudian bambu digulingkan di atas kapas hingga bijinya keluar.
    • Nggihu atau kincir terdiri atas beberapa potong kayu bulat dan licin yang diletakkan pada dua tiang kayu. Pada bagian pinggir diletakkan sepotong kayu untuk memutar. Ketika diputar, kedua kayu bulat dan licin berputar berlawanan untuk menggulung dan memisahkan biji kapas dengan serat kapas. Serat kapas keluar ke belakang dan diambil oleh seorang yang duduk berhadapan dengan si pemutar/penggiling.
  3. Serat kapas yang diperoleh melalui proses lamihi maupun pangari dan nggihu lalu dijemur, kemudian dipukul-pukul dengan alat yang terbuat dari rotan yang disebut palu kamba atau pemukul.
  4. Setelah dijemur kembali, serat kapas tersebut diurai dengan cara dibusur menggunakan alat yang disebut pandi atau busar. Pandi dibuat dari sebilah bambu yang dilengkungkan menyerupai busur. Kedua ujungnya dihubungkan dengan tali. Kapas yang dibusur diletakkan di dalam sebuah tempat yang disebut kaliku pandi atau bakul busar.
  5. Serat kapas yang telah dibusur, digulung dengan sepotong kayu bulat sehingga membentuk gulungan kapas (kanuhu) yang bulat panjang menyerupai kepompong. Kanuhu yang diperoleh dipintal menjadi benang.
  6. Untuk memperoleh benang, kanuhu diproses dengan dua cara. Cara pertama dengan mengunakan alat yang disebut kindi, yang dibuat dari teras kayu bulat sebesar jari kelingking. Pangkal kindi dimasukkan ke dalam sebuah gelondong benang. Pintalan benang pertama diletakkan pada gelondong. Kindi diputar di atas sebuah piring (kawinga). Sementara kindi diputar, kanuhu direntangkan sampai diperoleh benang yang halus sesuai yang dikehendaki.
  7. Cara yang kedua adalah dengan menggunakan alat pemintal benang yang disebut ndataru atau jentera. Alat ini dibuat dari kayu, menggunakan roda yang dihubungkan dengan tali pada anak ndataru. Saat roda diputar, kanuhu direntangkan hingga diperoleh benang sesuai dengan yang dibutuhkan. Pemintalan benang dengan cara ini lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan kindi.
  8. Benang yang dihasilkan dililitkan secara menyilang pada alat yang dibuat dari kayu yang menyerupai huruf I yang disebut kapala atau palang.
  9. Setelah dikanji, dijemur, kemudian dibuat gulungan benang (kabukulu) berbentuk bola atau oval menggunakan alat yang disebut pepangu atau pengumpar.

II. Menyiapkan Lungsin (Hemba)

Langkah-langkah dalam proses menyiapkan lungsin (hemba) sebagai berikut:

  1. Benang yang berbentuk bola diurai pada alat yang disebut wanggi pameningu atau pembidangan dengan ukuran panjang dan lebar sesuai ukuran kain yang ingin dibuat. Proses ini biasanya dilakukan oleh 2 orang. Untaian benang yang telah diurai atau dibentangkan seukuran kain pada wanggi pameningu disebut hemba. Wanggi pameningu adalah alat yang dibuat dari bambu atau kayu. Pada umumnya wanggi pameningu berukuran panjang kurang lebih 2 meter dan lebar kurang lebih 1 meter.
  2. Setelah selesai benang dibentangkan membentuk hemba maka proses selanjutnya adalah karandi rumata, yaitu mengumpulkan 8–9 helai benang yang diikat menggunakan benang kasur maupun kalita (daun pucuk gewang yang telah dikeluarkan isinya, sehingga tinggal kulit tipis dan licin).
  3. Setelah itu karandi dikumpulkan menggunakan tali dari daun lontar atau sejenis kulit tumbuhan pada jaman dahulu, atau tali rafia (sekarang). Tiap 1 kumpul terdiri dari 20 karandi dan untuk 1 liran membutuhkan sekitar 14 kumpul karandi. Maka diperkirakan 1 liran kain tenun ikat membutuhkan sekitar 2.520 helai benang, sehingga untuk 1 lembar kain tenun ikat yang terdiri dari 2 liran membutuhkan sekitar 5.040 helai benang. Dalam proses ini sangat dibutuhkan ketelitian dari penenun karena dalam mengurai benang pada wanggi pamening terdapat hitungan yang tidak boleh keliru yang disesuaikan dengan ukuran dan jumlah kain yang ingin dibuat. Sehingga walaupun para pengrajin ada yang tidak menempuh pendidikan formal, tetapi dalam menghitung untuk membuat tenun ikat mereka sangat cermat.
  4. Setelah itu dilakukan proses pandapil, yaitu menumpuk dan menyatukan beberapa liran hemba. Langkah ini dibagi menjadi dua, yaitu utu (menggabungkan 2 liran atau lebih, bisa hingga 10 liran) dan upu (menyisipkan karuma/tali panduan di antara tiap gabungan karandi dari beberapa liran).
  5. Langkah selanjutnya adalah kawari, yaitu merapikan dan mengurai untaian benang.
  6. Selanjutnya patanggi (mengencangkan), yaitu memastikan bahwa benang yang direntangkan sudah kencang pada wanggi, sebelum digambar motif.
  7. Langkah terakhir dalam proses menyiapkan lungsin/ hemba untuk menggambar desain kain yang ingin diwujudkan adalah karandi. Dibuatlah kolom-kolom gambar, hemba dibagi ke dalam beberapa bagian dengan cara membuat ikat karandi pada sebilah bambu. Kolom-kolom ini nantinya menjadi ruang untuk menggambar motif bagi yang menggunakan proses menggambar dan juga ruang bagi yang langsung mengikat motif tanpa proses menggambar. Ikat karandi berfungsi agar benang tidak bergeser saat sedang atau sesudah digambar motif ataupun saat diikat. Karena hemba yang di-karandi terdiri dari beberapa liran, untuk satu kali gambar dan mengikat motif akan menghasilkan beberapa kain dengan motif yang sama.

III. Pembuatan Corak/ Motif

Benang lungsin (hemba) yang telah diatur kemudian diikat untuk membuat corak yang dikehendaki. Pengikatan benang lungsin menggunakan kalita, yaitu daun pucuk gewang yang telah dikeluarkan isinya sehingga tinggal kulit tipis yang licin dan halus.

Kelebihan benang yang diikat dengan kalita adalah tidak dapat ditembusi cairan. Namun, kekurangannya menyebabkan menipisnya kulit ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang harus dibasahi dengan air dan terus bersentuhan dengan kalita. Dewasa ini, benang lungsin diikat dengan tali rafia yang mudah diperoleh di toko, tetapi kekurangannya benang lungsin yang telah dicelup zat pewarna tidak mudah kering dan benang rapuh serta mudah putus.

Pengerjaan pembuatan tenun ikat yang semula merupakan monopoli wanita dan penuangan corak berdasarkan imajinasi pengrajin, dewasa ini dikerjakan pula oleh laki-laki. Corak yang dikehendaki pun digambar terlebih dahulu dengan sketsa pensil berwarna.

Secara umum langkah-langkah pembuatan corak/motif adalah sebagai berikut:

  1. Langkah pertama adalah menggambar. Proses ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ahli menggambar motif di atas untaian benang (hemba). Perlengkapan yang diperlukan adalah pensil merah-biru, mistar, dan wadah kecil berisi air. Motif gambar bisa hasil imajinasi seniman atau berdasarkan gambar dari pemesan. Tetapi, ada pula pengrajin yang tidak melakukan proses menggambar, tetapi langsung mengikatkan kalita pada hemba untuk membentuk motif. Hal ini dikerjakan oleh pengrajin yang memang sudah ahli, sehingga meski tidak digambar terlebih dahulu, corak yang dihasilkan tetap rapi dan bagus.
  2. Langkah selanjutnya adalah mengikat hemba untuk motif yang nantinya berwarna putih. Ada yang menyebut proses ini dengan sebutan hondung, ada pula yang menyebutnya paingu. Tujuannya agar saat dicelup warna biru, motif yang ditutup tali tidak terkena pewarna biru. Untuk mengikat hemba bisa menggunakan kalita (tali dari daun gewang) atau tali rafia. Kalita harus diikat dengan kuat agar tidak ada rembesan warna yang lain pada motif yang berwarna putih tersebut. Pada proses pewrnaan kain Sumba selalu diawali dengan memberi warna biru, kecuali untuk kain yang tidak menggunakan warna biru. Proses mengikat hemba dilakukan pada alat yang disebut wanggi paingu.
  3. Langkah selanjutnya adalah mengikat hemba untuk motif yang akan diberi warna merah, sehingga saat dicelup warna biru, bagian yang telah diikat tidak akan terkena pewarna biru. Proses ini disebut topu rara. Saat melakukan hondung dan topu rara, harus dibedakan simpul ikatannya agar saat pengrajin yang bertugas mewarnai kain tidak melakukan kesalahan dalam urutan membuka ikatan, dan mengikatkan kalita yang baru dalam proses pewarnaan selanjutnya. Sedangkan untuk corak yang berwarna hitam dihasilkan dengan cara terlebih dahulu dicelupkan ke dalam ramuan pewarna biru kemudian dicelupkan lagi ke dalam ramuan pewarna merah. Jadi warna hitam merupakan hasil dari corak warna biru yang ditimpa dengan warna merah. Untuk menghasilkan warna hitam terbaik, proses pencelupan pada ramuan pewarna biru harus menghasilkan warna biru yang pekat. Proses mengikat motif yang berwarna biru dan hitam disebut hondung mau.

IV. Pewarnaan

Setelah corak selesai diikat, benang-benang lungsin/hemba tersebut dicelup dalam zat pewarna yang dihasilkan dari ramuan bahan alami. Tidak hanya benang lungsin yang dicelup kedalam zat pewarna alami tetapi juga benang pakan atau benang pamawang, yaitu benang yang akan dimasukkan/disisipkan melintang pada benang lungsin/hemba memerlukan bahan pewarna sesuai warna yang diinginkan. Biasanya digunakan warna biru, hitam dan merah. Prosesnya pun sama dengan proses pewarnaan pada benang lungsin/ hemba. Masing-masing bahan pewarna direndam dalam wadah tersendiri, pada zaman dahulu menggunakan wadah periuk tanah. Adapun langkah-langkah dalam proses pewarnaan adalah sebagai berikut:

  1. Proses mewarnai tenun ikat selalu didahului dengan memberi warna biru. Untuk memperoleh warna biru, bahan pewarna alami yang digunakan adalah tanaman wora atau tarum atau nila (Indigo tinctoria). Bagian yang diambil dari tanaman ini adalah daunnya. Rendaman daun dicampur wai awu atau abu dapur dan kapur sirih, untuk memperoleh warna biru muda, biru tua, dan hitam. Khusus untuk memberi warna hitam ada yang melakukannya dengan cara mencelupkan motif yang berwarna biru tua/pekat ke dalam ramuan pewarna merah. Pekerjaan mewarnai dengan rendaman daun wora atau tarum atau nila disebut nggilingu. Pelakunya disebut manggilingu. Untuk menghasilkan warna biru yang pekat sebaiknya proses pewarnaan dilakukan dilakukan pada bulan Januari hingga April saat curah hujan tinggi karena saat musim hujan tanaman wora tumbuh dengan subur dan kualitasnya sangat baik. Secara umum proses pencelupan kedalam ramuan daun wora dilakukan sebanyak 4 kali. Tetapi pada sentra tenun ikat Kanatang yang merupakan daerah yang terkenal dengan tenun ikat berwarna biru (Kawuru) yang paling berkualitas karena warnanya sangat pekat/ tua, proses pencelupan warna biru bisa dilakukan hingga 12 kali. Dalam proses pencelupan warna biru, hemba yang sudah diikat direndam selama kurang lebih 1 jam, setelah itu diperas dan dijemur seharian sampai benar-benar kering dan proses ini dilakukan selama kurang lebih 12 kali. Ketika diperas harus sesuai dengan arah ikatan kalita agar tidak merusak ikatan yang menyebabkan merembesnya warna biru pada motif warna merah dan putih. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk proses nggiling sendiri kurang lebih 12 hari jika dalam cuaca panas tetapi jika mendung bisa mencapai 2 minggu. Dan tidak boleh terkena embun dimalam hari karena akan timbul bintik-bintik. Dulu proses nggilingu hanya dilakukan oleh perempuan saja. Ada pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar agar menghasilkan warna biru yang baik, dimulai dari proses memotong tanaman wora sampai pada proses pencelupan. Jika dilanggar, warna biru yang dihasilkan tidak akan berkualitas. Pantangan itu antara lain perempuan yang melakukan proses nggilingu harus dalam suasana hati yang gembira, tidak dalam masa menstruasi, dan tidak menyentuh mayat. Dan ada tempat khusus yang hanya boleh dimasuki oleh orang yang melakukan proses nggilingu. Tetapi saat ini proses nggilingu tidak lagi hanya dilakukan oleh kaum perempuan saja, tetapi juga sudah dilakukan oleh kaum pria.
  2. Katahu mahu, yaitu proses setelah pencelupan warna biru. Pada proses ini ikatan untuk motif yang direncanakan berwarna tua dibuka. Biasanya setelah mencelup ke dalam ramuan daun nila/wora sebanyak 1 kali pencelupan untuk memperoleh warna biru muda, ikatan untuk motif yang direncanakan berwarna biru tua dibuka, sedangkan untuk motif yang berwarna biru muda diikat.
  3. Puha mahu. Hemba kembali dicelupkan ke dalam pewarna biru pada umumnya 4 kali, sehingga mendapatkan warna biru yang jauh lebih tua/pekat.
  4. Katahu parara, yaitu tahapan setelah selesai proses pencelupan warna biru dan hemba dijemur selama beberapa hari sampai benar-benar kering. Semua ikatan pada motif yang nantinya berwarna merah dibuka, sedangkan motif/ corak yang berwarna putih tidak dibuka.
  5. Hondung mau. Terdapat 2 jenis hondung mau, yaitu hondung mau kangurak dan hondung mau matua. Ini adalah proses pengikatan kembali benang-benang yang kelak menjadi motif yang dikehendaki menjadi berwarna biru muda (mau kangurak) dan biru tua (mau matua) agar ketika dicelup pewarna merah nanti warnanya tetap biru. Kecuali untuk corak/motif yang berwarna hitam tidak diikat kembali. Motif yang akan diberi warna hitam dimana telah terlebih dahulu diberi warna biru tidak perlu diikat karena saat dicelup ke ramuan kombu motif tersebut akan menjadi warna hitam. Dan untuk mendapat warna hitam dengan kualitas baik maka warna biru yang diperoleh pun harus warna biru yang pekat/ tua.
  6. Pra-peminyakan. Hemba dicuci hingga benar-benar bersih untuk menghilangkan sisa warna biru, lalu dijemur hingga kering.
  7. Kawilu atau dikenal dengan nama perminyakan. Sebelum dicelup ke dalam ramuan kombu, hemba dicelup ke dalam ramuan kemiri dan daun/kulit dedap yang ditumbuk halus hingga menghasilkan minyak. Lama pencelupan kurang lebih selama 1 hingga 2 malam dan selanjutnya dijemur sampai kering selama beberapa hari. Lama penjemuran kurang lebih selama 1 hingga 2 minggu, tergantung cuaca. Tujuan hemba dicelup ke dalam ramuan kemiri dan daun/kulit dedap adalah untuk mengikat atau memudahkan lekatnya warna merah pada benang dan menghasilkan warna merah yang terbaik menyerupai merah bata.
  8. Penjemuran. Setelah dicelup dan terkena ramuan kemiri secara merata, hemba dijemur dan diangin-angin kurang lebih selama 1 hingga 2 minggu, tergantung cuaca. Setelah cukup lemas dan tidak kaku, berarti hemba siap dicelup ke dalam pewarna merah.
  9. Kombu. Untuk memperoleh warna merah digunakan akar kombu atau mengkudu (Morinda citrifolia). Akarnya yang berukuran kecil menghasilkan warna merah yang lebih baik. Mengkudu yang digunakan adalah mengkudu berdaun kecil dan buah kecil. Akar mengkudu dicampur kulit dan daun loba (soka) yang ditumbuk untuk memperoleh warna merah. Proses penghancuran sendiri menggunakan lesung. Akar kombu setelah dipotong/dicincang kecil – kecil lalu dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk menggunakan alu, kemudian dicampur kulit dan daun loba, lalu airnya diperas. Proses mewarnai untuk warna merah dilakukan dengan cara mencelupkan hemba ke dalam ramuan kombu, proses ini dapat dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan, tetapi secara umum dilakukan 2–3 kali pencelupan/ perendaman. Satu kali pencelupan/perendaman memakan waktu 1–2 malam. Setelah itu dijemur hingga benar-benar kering. Berbeda dengan proses nggiling, proses kombu sendiri sebaiknya dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober pada saat musim kemarau. Pekerjaan mewarnai dengan rendaman akar mengkudu disebut kombu, pelakunya disebut makombu.
    Di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, setelah benang kering masih dilakukan pamburungu, yaitu pengembunan sampai pagi hari dan keesokan harinya dijemur sampai kering lagi. Pengembunan dilakukan sampai dua kali. Setelah kering, diperam (pabudu) selama kurang lebih dua minggu. Proses pengembunan dan pemeraman inilah yang membedakan produk kain Kaliuda yang menghasilkan warna merah yang sangat menyolok bila dibandingkan dengan produk kain di wilayah lain.
  10. Membuka ikatan motif. Setelah hemba dijemur hingga benar-benar kering, semua ikatan motif dibuka (katahu) dan diatur pada alat yang disebut wanggi yalah untuk selanjutnya masuk dalam proses tinung/ menenun.

V. Menenun

Bila proses pewarnaan benang lungsin (hemba) telah selesai, pekerjaan selanjutnya adalah menenun (tinung). Proses menenun dikerjakan oleh wanita yang pandai menenun. Umumnya pekerjaan menenun diserahkan pada wanita lain dengan imbalan jasa atau pajaungu. Sebelum menenun, semua peralatan menenun dipasang pada tempatnya masing-masing.

Peralatan tradisonal yang dibutuhkan dalam menenun kain Sumba sebagai berikut:

  1. Wunangu atau kakap atau sisir, yakni sebatang kayu bulat sebesar ibu jari tempat benang-benang tenun ikat dengan benang yang lebih besar dan kuat. Alat inilah yang digerakkan naik atau turun untuk memasukkan hawuluru (tempat benang pakan) dan kalira (belira) untuk menekan pakan agar hasil tenunan rapat.
  2. Nguada atau pesa, yakni alat yang terbuat dari sebatang kayu bulat, letaknya dekat dengan sisir. Pada saat sisir diangkat, ngoda ditekan untuk memperlancar masuknya hawuluru dan kalira pada benang tenunan.
  3. Rada (penindih), yakni sebilah bambu dengan panjang 1 meter, lebar 2 cm. Fungsinya untuk menindih benang tenunan yang telah diangkat dengan sisir agar benang-benang tenunan tetap rata.
  4. Kalira (belira), yakni alat yang terbuat dari teras kayu keras (kayu asam atau cemara), dibuat sedemikian rupa agar tetap licin permukaannya dengan digosokkan lilin. Bentuknya menyerupai parang, panjang 140 cm, lebar 7–9 cm. Cara penggunaannya dihentakkan dari muka ke belakang agar benang pakan merapat.
  5. Hawuluru (pelingkar), yakni alat yang terbuat dari sepotong kayu bulat berdiameter sebesar jari tengah, panjang 60 cm. Berfungsi sebagai tempat menggulung/melingkarkan benang pakan supaya memudahkan waktu menenun.
  6. Lawadi (pengikat), yakni sebilah bambu yang panjangnya sesuai lebar kain dan berfungsi sebagai tempat mengikat benang lungsin, sebagai tempat mengawali proses kegiatan menenun.
  7. Tuka (pengencang), yakni sebilah bambu yang kedua ujungnya diruncingkan dan disangkutkan pada pinggir kiri dan kanan kain dengan tujuan untuk mengencangkan tenunan.
  8. Tandai ndingi, yakni tiang dari kayu yang ditanam, tempat menggantung wanggi yang ada benang lungsinnya
  9. Ndingi, yakni bambu tempat tambatan benang-benang lungsin. Kedua ujung bambu itu dibelah-belah sehingga menimbulkan bunyi berirama waktu menenun;
  10. Kawihu ndingi, yakni pengikat ndingi dan tandai ndingi, berupa tali yang kuat;
  11. Kanoru, yakni alat yang terbuat dari pelepah enau atau bambu atau kayu bulat yang dimasukkan pada bagian atas benang lungsin untuk memperlebar pemisahan sehingga lungsin atas dan lungsin bawah tidak berdempetan satu sama lain;
  12. Polu, yakni bambu tempat menyangkutkan lungsin bawah yang diletakkan di atas pangkuan penenun dan juga berguna untuk memisahkan kedua bagian lungsin tersebut;
  13. Liu, yakni alat yang terbuat dari kayu. Bagian tengahnya dilebarkan sebagai tempat sandaran pinggang penenun;
  14. Kawihu liu, yakni tali penahan belakang, disangkutkan pada polu dan liu yang berguna untuk mengencangkan benang-benang lungsin;
  15. Handayangu, yakni kayu bulat sebesar ibu jari kaki yang diletakkan di atas tandai ndingi kiri kanan;
  16. Kaduduhu, yakni alat tempat menyorong kalira turun naik pada waktu menenun;
  17. Tarini, yakni kayu bulat yang ditahan dengan tiang, tempat penenun menekankan kaki ketika menenun kain, juga berguna untuk mengencangkan atau mengendurkan kain.

Setelah seluruh alat menenun dipasang pada tempatnya masing-masing, dilanjutkan dengan proses menenun yang biasanya hanya dikerjakan oleh perempuan.

Adapun langkah-langkah dalam proses menenun adalah sebagai berikut:

  1. Biara. Memisahkan tiap liran yang sebelumnya (saat pewarnaan) digabung menjadi satu.
  2. Walah. Membentangkan hemba pada wanggi (struktur bambu) yang sebelumnya telah dipisahkan lewat proses biara dan merapikan posisi motif seperti ketika awal menggambar desain.
  3. Tidihu. Merapikan motif, hemba yang telah dibentangkan di wanggi dirapikan posisi tiap karandi agar membentuk motif yang sudah didesain sebelumnya.
  4. Mengkarandi kembali. Mengikat karandi pada sebilah bambu agar benang tidak bergeser saat sebelum dan saat sedang ditenun.
  5. Kanji atau kawu. Pengolesan ramuan kanji pada hemba agar kaku saat ditenun. Setelah itu hemba dijemur hingga kering.
  6. Kawari. Memisahkan tiap karandi yang menempel dengan menggunakan tangan karena untaian benang setelah diolesi ramuan kanji saling melekat satu sama lain.
  7. Hira. Memisahkan untaian benang yang masih melekat di bagian atas dan bawah.
  8. Hura. Memisahkan tiap helaian benang yang masih melekat dengan menyelipkan sebilah bambu tipis yang berujung runcing di antara helaian benang. Kemudian diakhiri dengan diselipkannya sebilah bambu panjang sebagai alat bantu untuk membuat pawunang.
  9. Pawunang. Membuat benang panduan yang digunakan untuk memasukkan kayu wunang saat proses menenun.
  10. Hawulur pamawang. Benang pakan untuk tenun disiapkan dengan digulung pada sebilah tongkat yang dinamakan pamawang. Benang tersebut telah terlebih dahulu melalui proses pewarnaan dengan cara direndam pada ramuan tumbuhan sesuai dengan warna yang diinginkan. Proses pewarnaannya sama persis dengan proses pewarnaan benang lungsin/hemba.
  11. Parabat. Proses dimasukkannya sebilah bambu tipis (kambilla patu) disela-sela benang sebagai pertanda dimulainya proses tenun.
  12. Tinung/tenun. Proses menenun hanya dilakukan oleh perempuan. Untuk menenun 1 liran biasanya butuh waktu sekitar 2 hari ( jika dikerjakan intensif ) atau 4–5 hari ( jika dikerjakan sambil mengurus keluarga). Umumnya pekerjaan menenun diserahkan pada wanita lain dengan imbalan jasa atau pajaungu. Untuk kain kombu imbalan jasa menenun sekitar Rp200.000/liran, sedangkan untuk kain kawuru sekitar Rp150.000/liran.
  13. Katahu wunang. Yakni tahap akhir dari proses menenun yang ditandai dengan dipotongnya benang/tali wunang.
  14. Menjahit. Menjahit dua liran kain dengan motif yang sama untuk disatukan menjadi selembar hinggi, yaitu kain tenun ikat yang digunakan sebagai pakaian tradisonal bagi laki-laki. Begitu pun untuk menjahit lawu, yang merupakan kain sarung yang digunakan sebagai pakaian tradisonal perempuan, dengan cara menjahit menyatukan tepian lau (kain sarung). Umumnya ada 3 teknik menjahit, yaitu tulang ikan, uttu tepu, dan uttu hiru.
  15. Kabakil. Ujung kain bagian atas dan bawah yang berupa untaian benang ditutup dengan teknik tenun horizontal ( diametrik terhadap arah tenun seluruh kain sebelumnya ). Benang yang dipakai untuk menenun kabakil biasanya melalui proses pewarnaan tersendiri dengan menggunakan bahan pewarna alami dengan desain dan kombinasi warna tersendiri yang disenadakan dengan warna dan motif kain yang hendak diproses kabakil.
  16. Pelintir/puti. Biasa dilakukan oleh laki-laki, untaian benang pada ujung kain dirapikan dengan cara dipelintir menggunakan tangan.
  17. Wari rumata. Langkah terakhir dalam proses pembuatan tenun ikat. Menggunakan kayu yang bernama wari, rumbai yang telah dipelintir kemudian dihaluskan.

Sedangkan proses pembuatan Sarung atau Lawu dan Sarung Songket atau Lawu Pahikung/ Lawu Pahudu melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Penyiapan Benang
    Benang yang digunakan hasil pintal dari kapas atau pahuduru atau menggunakan benang buatan pabrik. Dibuat gulungan benang bentuk bulat sebesar tinju atau bola kasti yang disebut kabukulu. Jumlah kabukulu disesuaikan dengan kebutuhan.
  2. Pameningu (mengatur lungsin)
    Benang lungsin diatur atau pameningu pada alat yang disebut wanggi (pembidangan). Panjang dan lebar sesuai yang dikehendaki.
  3. Pababatungu (tenun awal)
    Saat pengaturan benang lungsin dengan memasang alat-alat yang diperlukan untuk mempermudah proses songket atau hikung. Setelah alat-alat yang diperlukan terpasang pada tempatnya masing-masing, proses pababatungu selesai.
  4. Hikungu (songket)
    Sarung tenunan direntangkan lagi pada wanggi patangngi yang ditahan dengan tali. Lidi yang telah disiapkan dipasang untuk membentuk gambar yang dikehendaki. Sarung tenun dikembalikan pada alat tenun seperti pada proses pababatungu dengan menyiapkan alat tambahan, yaitu kayu palambang pahudu kurang lebih 20 batang, wunang bakul untuk songket atau pahudu.
  5. Menenun
    Proses menenun sarung songket berbeda dengan menenun kain (hinggi). Pada proses menenun sarung songket, sambil menenun, lidi penentu corak diatur sesuai letak lidi penentu corak. Sambil menenun, lidi penentu corak dikeluarkan dari bawah ke atas. Artinya, satu lidi dan satu kayu palambang dikeluarkan secara beraturan. Setelah semua kayu palambang pahudu dan lidi penentu corak habis dikeluarkan, berarti selesailah proses membuat corak pada bagian pertama. Selanjutnya mulai lagi menyusun lidi penentu corak dan memasang kayu palambang pahudu dan sambil menenun lidi penentu corak dan kayu palambang dikeluarkan satu demi satu sampai selesai sehingga dengan demikian bagian yang kedua selesai. Demikian seterusnya sampai proses menenun selembar sarung songket (lawu pahudu) selesai.

Sumber: pemasarandisparbud.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.