Tenun Ikat dan Songket Sumba, Kekayaan Wastra dari Kabupaten Sumba Timur NTT

Yudi Umbu T. T. Rawambaku, SE

851
Tenun Ikat Sumba Timur
Foto: Yudi Umbu T. T. Rawambaku, SE

1001indonesia.net – Tenun ikat dibuat dengan sejumlah teknik ikat lungsin, ikat pakan, ikat ganda, dan ikat campur. Sejak zaman prasejarah, Indonesia telah mengenal tenunan dengan corak desain yang dibuat dengan cara ikat lungsin. Daerah penghasil tenunan ini antara lain Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Ikat Lungsin diduga lebih awal dikenal di Indonesia dibandingkan teknik-teknik ikat lainnya. Masyarakat Nusantara di masa silam memiliki kemampuan membuat alat-alat tenun dan menciptakan desain dengan mengikat bagian-bagian tertentu dari benang. Mereka pun telah mengenal teknik pencelupan warna. Keterampilan tersebut diperkirakan telah dikenal masyarakat Nusantara sejak Zaman Perunggu, sekitar abad ke-8 sampai ke-2 SM.

Keunikan desain yang diciptakan mencerminkan keterkaitannya dengan unsur-unsur kebudayaan setempat, seperti pemujaan pada leluhur dan alam.

Pada periode awal ini pula, juga telah dikenal desain lungsin tambahan, yang seiring waktu lebih dikenal dengan nama songket. Teknik songket berkembang di berbagai daerah di Nusantara, seperti di Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Bangka, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Tenun ikat ganda dibuat di Bali, Jawa Timur, sedangkan ikat campur diproduksi oleh sejumlah sentra tenun ikat di Jawa, Bali dan Sulawesi Selatan.

Seperti daerah lainnya di Nusantara, kain tradisional juga berkembang di Sumba Timur. Tenun ikat Sumba Timur atau kain sumba adalah kain bercorak yang dibuat dengan teknik tenun ikat lungsin. Kain khas Sumba Timur ini memiliki makna sosial dan dibuat berdasarkan pranata sosial yang berlaku dalam sistem kebudayaannya.

Di Sumba Timur, kain sejenis songket disebut Hinggi, yang digunakan sebagai busana adat lelaki. Bentuknya lembaran empat persegi panjang dengan ukuran sisi terpanjang kurang lebih 250 cm dan sisi terpendek antara 80–150 cm. Produksinya terpusat di sejumlah kawasan di pesisir utara dan timur laut Kabupaten Sumba Timur di bekas wilayah Landschap (Swapraja) Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili.

Mutu Hinggi mengacu pada kemahiran estetis teknis yang mencakup keahlian mengatur ikatan pada benang Lungsin, menyusun corak, meramu warna, serta ketrampilan mencelup. Semuanya memerlukan investasi besar dalam sumber daya manusia, sumber daya alam, dan waktu. Kain ini juga memiliki makna sosial dan mengandung makna simbolik yang dalam. Hinggi atau Inggi amat dihargai dalam konteks spiritual, adat, maupun komersial.

Penulis bersama Putri Kecantikan dengan produk design Levico. (Foto: Yudi Umbu T. T. Rawambaku, SE)

Corak kain Sumba Timur dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yakni (1) Kelompok Figuratif, yaitu representatif dari bentuk manusia dan binatang); (2) Kelompok Skematis, yaitu menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris; dan (3) Kelompok Bentuk Pengaruh Asing, yaitu salib, singa, mahkota, Wilhelmina, corak petola (kain India) dan naga (China).

Terdapat variasi corak tenun ikat Sumba Timur pada wilayah-wilayah sentra produksi sebagai berikut:

  1. Kambera, memiliki 18 corak, yaitu Patuala Ratu (kain petola), Habaku (cicak terbang), Karihu (kupu-kupu purba), Andung (tugu tengkorak), Mahang (singa), Kurang (udang), Manu (ayam), Liakat (tangga turun-tangga naik), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Lodu (matahari), dan Wulang (bulan).
  2. Kanatang, memiliki tiga corak, yaitu Ruha (rusa), Mahang (singa), dan Kaka (kakatua).
  3. Rindi, memiliki 11 corak, yaitu Andung (tugu tengkorak), Mahang (singa), Kurang (udang), Habaku (cicak terbang), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Karihu (kupu-kupu purba), Ularu/Mandu (ular), Kaka (kakatua), Ngganda (sejenis bunga), dan Tanga Wahil (tempat sirih)
  4. Umalulu, memiliki delapan corak, yaitu Andung (tugu tengkorak), Patuala Ratu (kain petola), Habaku (cicak terbang), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Karihu (kupu-kupu), Kurang (udang), dan Ruha (rusa).
  5. Kaliuda, memiliki tiga corak, yaitu Njara (kuda), Manu (ayam), dan Kahuhu (burung pesisir pantai).

Corak Kain Tenun Ikat Sumba Timur memuat ide, gagasan, cita-cita, keinginan luhur, dan kehidupan religius leluhur masyarakat Sumba. Keinginan untuk memelihara hubungan baik dengan arwah leluhur merupakan bagian dari kepercayaan tradisional masyarakat Nusantara. Masyarakat tradisional mempercayai bahwa orang yang sudah meninggal tetap berpengaruh pada anggota keluarga yang ditinggalkannya.

Keinginan untuk mengenang nenek moyang, membuka daya cipta leluhur masyarakat Sumba masa silam untuk mengungkapkannya dalam bentuk nyata, seperti corak wajah manusia, juga kepala atau badan secara keseluruhan, baik dalam keadaan berdiri ataupun duduk. Alam pikiran gaib dan keramat dijelmakan menjadi wujud berupa “simbol” atau “lambang”.

Kultus nenek moyang suku Sumba dengan kepercayaan Marapu yang terkandung di dalamnya melahirkan karya seni prasejarah dan merupakan dasar bagi perkembangan perwujudan seni masa berikutnya. Pikiran-pikiran lama ini masih terus hidup di tengah masyarakat Sumba melalui bentuk rupa yang relatif sama dalam kurun waktu tertentu. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan perkembangan masyarakat Sumba, bentuk-bentuk penyataan visual tersebut juga mengalami perubahan.

Anggapan umum menyatakan bahwa gaya ornamental mewakili seni Indonesia. Namun kenyataannya, justru gaya monumental yang tetap bertahan dan menyebar luas. Gaya monumental merupakan warisan dari kebudayaan Neolitikum, berkaitan dengan kebiasaan dalam mendirikan monumen Megalit.

Corak-corak yang dominan di Asia dan ditemukan dalam seni dekorasi kebudayaan Dong Son adalah spiral dan bergaris lengkung yang ditatahkan pada bentuk dasar benda-benda tradisional.

Gaya ornamental dari Dong Son, baik pada bentuk desain secara keseluruhan maupun hiasan pada sebagian bidang benda saja, menggambarkan komposisi yang simetris. Terlihat ada keragaman dan perbedaan yang terdapat dalam seni ragan hias di antara suku-suku di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya perbedaan budaya dan pengaruh berbagai macam unsur budaya yang datang dari luar.

Suku Sumba memiliki ciri tersendiri. Banyak di antaranya yang karakteristiknya tidak berubah hingga kini. Corak-corak tertentu yang dipilih senantiasa mempertimbangkan cara pembuatannya, yang sangat dipengaruhi oleh teknik dan alat yang dipakai.

ARTI DAN PENGERTIAN MOTIF ATAU GAMBAR PADA TENUN IKAT SUMBA TIMUR

1. Corak Patuala Ratu

Corak Patuala Ratu bentuknya geometris, sambung-menyambung, kait-mengait, simetris, serasi, dan indah. Ditempatkan pada bagian tengah panjang kain tenunan (Kundu Duku).

Kain bercorak Patuala Ratu hanya boleh dipakai oleh para imam yang mengemban tugas pada upacara kematian kaum bangsawan dan raja. Kain Patuala Ratu menempati posisi yang paling tinggi dalam kematian jika dibandingkan dengan kain corak lainnya.

Kain ini melambangkan hubungan sesama manusia dan antara manusia dan lingkungan serta menuntun masyarakat adat untuk berperilaku sesuai tatanan nilai dan keyakinan yang dianut.

Konon, Kain Patuala Ratu adalah Kain Sutera Dewangga yang berasal dari India, dianugerahkan oleh Maharaja Jawa kepada raja-raja wilayah di Sumba. Sejarah kain ini menunjukkan bahwa pengaruh Kerajaan Majapahit dirasakan sampai di Sumba. Dalam perkembangannya, kain ini menjadi simbol kepemimpinan dan status sosial kaum bangsawan.

Di Sumatera dan Jawa, Kain Patuala dikenal dengan nama Cindai atau Cinde.

2. Corak Liakat

Corak Liakat menggambarkan tangga naik (panongu hei) dan tangga turun (panongu puru) dalam pemahaman Marapu. Keberadaan corak ini merupakan hasil dari pengaruh budaya dan agama India.

Konsep ketuhanan Hindu dan Budha mengenal jalan dua arah, yaitu Tuhan turun kepada manusia dan manusia naik kepada Tuhan. Ajaran “naik” dan “turun” dalam hubungan penyatuan manusia dengan Tuhan terdapat dalam ajaran Tantrayana, yang telah dikenal di Indonesia telah dikenal sejak abad VIII. Tangga adalah jalan atau metode pencapaian kesatuan dengan Yang Maha Ada, bersifat rasional falsafi.

Makna naik dan turun ini sama dengan kanan dan kiri. Naik dan turun merupakan kategori waktu, sedang kanan dan kiri merupakan kategori ruang.

Simbol Liakat juga ditemukan pada Batu Kubur atau Batu Nisan Kuburan Megalitik.

3. Corak Gurita (Wita)

Corak ini melambangkan kebesaran seorang pemimpin yang bijaksana serta mampu merangkul dan melindungi rakyatnya (pa opangu madangu)
Corak ini biasa terdapat pada tenun Pahikung/Pahudu. Dihasilkan oleh Kecamatan Umalulu dan merupakan hak paten bekas swapraja Umalu di Sumba Timur.

4. Corak Kuda (Njara)

Kuda adalah ternak serbaguna, berfungsi sebagai sarana angkutan, dipakai dalam peperangan, penentu status sosial, dan bahkan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kuda juga merupakan simbol yang penting dalam adat perkawinan, juga menjadi simbol kendaraan untuk orang mati dalam adat kematian. Selain itu, kuda melambangkan kejantanan, keberanian, ketangkasan, dan kepahlawanan.

5. Corak Ayam (Manu)

Ayam jantan dipelihara secara khusus untuk digunakan sebagai hewan kurban dalam pelaksanaan ritual kepercayaan Marapu. Ada sebuah nasihat bagi perempuan Sumba yang hendak menikah: “Ambu ma rombanya na kurunggu panni manu, na uta uhu wei.” Artinya, jangan melupakan menir makanan ayam, dedak makanan babi. Bagi orang Sumba, ayam dan babi untuk kemerupakan hewan peliharaan penting.

Ayam, yang selalu berkokok menjelang matahari terbit dan membangunkan manusia di pagi hari, melambangkan “Kesadaran”. Selain itu, ayam juga menjadi simbol kejantanan, tanda kehidupan, dan pemimpin yang bersifat melindungi.

6. Corak Kakatua (Kaka)

Ada ungkapan: “Kaka Ma Kanguhuru, Pirihu Pa Uli.” Artinya, kakatua yang berkelompok, nuri yang berkawan. Kakatua melambangkan “Persatuan dan Kesatuan”, mencerminkan jiwa orang Sumba yang mengambil keputusan dalam berbagai urusan melalui jalan musyawarah untuk mufakat.

Ungkapan lain, “Ambu kaka ngandi undi, ambu manginu ngandi rota.” Artinya, jangan menjadi kakatua pembawa jelatang, jangan menjadi burung pipit pembawa penyebab gatal. Ungkapan ini mengandung nasihat dan peringatan bagi setiap orang agar selalu waspada terhadap orang-orang yang membawa dan menyebarkan hal-hal yang menyebabkan perpecahan dan kerusuhan dalam kehidupan masyarakat.

7. Corak Manusia (Tau)

Bagi masyarakat Sumba Timur, motif manusia bersifat sakral, mengandung makna kesaktian, dan berfungsi sebagai penolak kejahatan. Jika motifnya berupa manusia telanjang, melambangkan kepolosan, kesendirian, ketakutan, dan kemiskinan.

Penggunaan corak manusia (Tau) menggambarkan citra manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tiap manusia membutuhkan pengakuan, perhatian, penghargaan dan pengasihan dari sesamanya.

Corak dalam bentuk “manusia telanjang” menggambarkan wujud manusia yang berada dalam suasana kesendirian, kepolosan, ketakutan, dan kemiskinan. Juga menggambarkan manusia yang bertarung dengan kehidupan di dunia dan memohon pengasihan Tuhan YME untuk kebahagiaan hidupnya. Humba Karai Panamungu La Mawulu Tau Maji Tau (memohon pengasihan kepada pembuat manusia pencipta manusia).

Corak manusia telanjang juga menyatakan bahwa bagi Tuhan, tidak ada yang tersembunyi pada diri manusia karena Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Ungkapan bahasa adatnya: “Ninya na mabokulu wua matana, na ma mbalaru kahiluna.”

8. Corak Tugu Tengkorak Manusia (Andungu Katiku Tau)

Motif ini merupakan simbol keberanian, kepahlawanan, dan kemenangan.

9. Corak Ular (Ularu/Mandu)

Motif ular merupakan simbol kesombongan, keangkuhan, watak yang melambangkan sifat manusia yang suka berbelit-belit, penuh amarah, pendendam, dan selalu mencari kesempatan untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Motif ular ini selalu digunakan bersamaan dengan motif udang (kurang). Dikaitkan dengan kepercayaan asli suku Sumba bahwa “di balik kematian ada kehidupan baru, dilambangkan dengan pergantian kulit.”

10. Corak Rusa (Ruha)

Kemegahan tanduk rusa melambangkan kebijaksanaan pemimpin yang memperhatikan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya serta mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Motif ini juga melambangkan keberanian dan keagungan.

11. Corak Udang (Kurangu)

Udang adalah binatang yang hidup di air dan memiliki kebiasaan berjalan beriring-iringan. Sifat ini menarik perhatian orang Sumba, seperti terungkap dalam sastra adat Kura Angu Kudu, Karongu Angu Londa, yang artinya udang kawan berpundak, kepiting teman bergandeng. Ungkapan ini menggambarkan rasa persaudaraan, persatuan, dan kekuatan.

Corak udang juga melambangkan kepercayaan leluhur orang Sumba bahwa di balik kematian ada kehidupan baru, sebuah pengharapan akan hidup kekal, serta adanya perubahan kehidupan yang berbeda dari kehidupan sekarang. Hal ini terungkap dalam bahasa sastra adat Njulu La Kura Luku, Halubu La Mandu Mara, yang artinya menjelma seperti udang, mengelupas seperti ular darat.

Dalam bahasa Adat, kata “udang” selalu digandeng dengan kata “kepiting” karena jalannya yang mirip, selalu beriring-iringan. Corak udang dan kepiting juga melambangkan pemimpin yang sikap dan perilakunya matang atau dewasa, terungkap dalam bahasa sastra adat Kura Miti Ndolu, Karungu Rara Kaba, yang artinya udang hitam jepitan, kepiting merah kulit/tempurung.

Corak udang yang digandeng dengan ikan melambangkan sifat manusia yang kata dan perbuatannya tidak sesuai, seperti ungkapan bahasa Adat Kura Laku Dalungu, Kambuku Lindi Pinungu, yang artinya udang berjalan di bagian dasar, ikan berenang di permukaan.

12. Corak Buaya (Wuya)

Motif ini menjadi simbol kesaktian, kebesaran, dan pengaruh.

13. Corak Kura-kura (Karawulangu)

Motif ini sama dengan motif buaya, melambangkan kebesaran.

14. Corak Naga

Ungkapan naga tidak ditemukan dalam bahasa sastra Sumba. Corak naga merupakan pengaruh dari budaya China. Masayarakat Sumba mengenalnya melalui guci-guci.

Corak naga merupakan bukti bahwa pada masa lampau telah ada interaksi dagang dengan masyarakat China yang membawa keramik porselin berupa piring, guci, mangkok, dan lain-lain untuk ditukarkan dengan kayu cendana.

15. Corak/Motif Gajah

Gajah tidak terdapat di Sumba, juga tidak ada istilah gajah dalam ungkapan sastra adat Sumba. Adanya corak gajah menjadi bukti bahwa pada masa lampau telah ada interaksi dagang dengan dunia luar yang mengekspor gading ke Sumba.

Sampai sekarang raja-raja atau bangsawan tertentu di Sumba Timur masih memiliki gading batangan. Gelang gading masih merupakan bagian dari isi “mbola ngandi” (wadah terbuat dari daun siwalan yang berisi kain, sarung, gelang gading, muti salak atau manik-manik, dan pisau) yang harus dibawa oleh pengantin perempuan dari rumah orangtuanya.

16. Corak Singa (Mahang)

Ungkapan singa (mahang) tidak ditemukan dalam bahasa sastra adat Sumba. Ini menunjukkan tidak terdapat Singa di Sumba Timur. Corak Singa merupakan pengaruh gaya Renaissance di Eropa dari masa Raja Hendry III pada pertengahan abad XVI, masuk ke Indonesia melalui kebudayaan Hindu.

Adanya corak singa dalam tenun ikat Sumba Timur menunjukkan adanya hubungan dengan dunia luar. Corak atau bentuk ini ditiru dari gambar pada mata uang Belanda (mahang appa uki).

17. Corak Wilhelmina atau Ratu Belanda.

Corak ini menunjukkan adanya hubungan kebudayaan antara masyarakat Sumba dan Kerajaan Belanda. Corak Wilhelmina diambil dari gambar pada sapu tangan yang diberikan oleh ratu Kerajaan Belanda kepada salah satu kerajaan yang ada di sepanjang pesisir Sumba Timur. Corak ini melambangkan budaya dan kebesaran.

18. Corak Burung Kecil Pesisir (Kahuhu)

Corak ini memegang peranan penting dalam kebudayaan masyarakat tradisional sebagai simbol dunia atas. Kahuhu adalah sejenis burung yang hidup di pesisir pantai, terbang yang sangat cepat dan lincah.

Corak kahuhu melambangkan kelincahan dan ketangkasan dalam mencari nafkah, bersikap, dan bertingkah laku. Dalam bahasa sastra adat Sumba Timur: pa ka nyunyulu kahuhungu – kahuhu libu muru, pa karajaku karatangu na karata hingi wara. Artinya, beriringan seperti kahuhu yang mencari ikan di laut dalam berlari sambil lompat kecil, burung laut mencari ikan atau udang kecil di tepi pantaj berpasir.

Kahuhu juga menjadi lambang waktu yang memberikan tanda semakin dekatnya musim hujan.

19. Corak Cicak Terbang (Habaku atau Kumbulai Hawurung)

Merupakan simbol nasihat bahwa manusia memerlukan persiapan materi atau modal untuk kesehatan jasmani di dunia. Na mataka, habaku, artinya datangnya tiba-tiba, tidak direncanakan.

20. Corak Bunga Dedap (Karihu)

Karihu diambil dari kata Wala Karihu atau bunga dedap berwarna merah. Karihu juga adalah nama sejenis ular berwarna merah yang hidup dalam air dan jarang dilihat karena akan selalu menghindar jika bertemu dengan binatang lain.

Warna merah mengandung makna simbol perempuan. Karihu merupakan stilasi penampang alat reproduksi wanita yang digambarkan secara berpasangan.

Corak ini selalu ditempatkan pada jalur tengah panjang kain, yaitu jalur kehormatan, yang dijunjung, disembah. Karihu merupakan simbol ungkapan keibuan dari yang Ilahi.

21. Corak Perahu (Tiana)

Corak ini merupakan simbol penghayatan dari kerja sama dan kesatuan para leluhur dalam sebuah perahu sejak perjalanan panjang mereka dari semenanjung Malaka melintasi pulau-pulau kecil dan besar hingga sampai ke Tana Humba.

Sumber: yudiumburawambaku.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.