Pesanggrahan Rejowinangun, Objek Bersejarah di Kota Yogyakarta

189
Situs Warungboto atau Pesanggrahan Rejowinangun sebelum direnovasi.

1001indonesia.net – Nama Pesanggrahan Rejowinangun atau Situs Warungboto menjadi banyak dikenal orang sejak dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta pada pertengahan tahun 2016 lalu. Bangunan yang terletak di tengah kota ini dahulu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan menyepi Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono II.

Seperti yang dilansir Kompas (21/10/2017), Sultan Hamengkubuwono II dikenal menyukai pesanggrahan. Sejak menjadi putra mahkota sampai masa pemerintahannya, ia banyak membangun pesanggrahan. Oleh karena itu, ia juga dikenal sebagai raja pembangunan pesanggrahan. Konon, ia membangun 13 pesanggrahan, tapi tak semua bangunan diketahui tempatnya sekarang.

Selama periode sebagai putra mahkota (1765-1792), ia membangun beberapa pesanggrahan, yaitu Pesanggrahan Rejowinangun, Purwareja, Pelem Sewu, dan Reja Kusuma. Putra Mahkota KGPAA Hamengkunegara, yang kelak pada 1792 naik tahta bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II, mulai membangun Pesanggrahan Rejowinangun  pada 1711 Jawa (1785 M).

Pesanggrahan yang dibangun dengan struktur bata tanpa kayu ini terletak di perbatasan antara Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Kotagede dan Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Letaknya berbatasan langsung dengan Jalan Veteran Yogyakarta, membuat bangunan bersejarah ini mudah untuk dikunjungi.

Situs yang masuk dalam kategori Bangunan Cagar Budaya (BCG) ini mengundang perhatian warga. Bentuk bangunannya unik dan menarik sebagai lokasi berfoto. Sebab itu, Pesanggrahan Rejowinangun banyak digunakan sebagai lokasi foto prewedding. Apalagi letaknya yang di tengah Kota Yogyakarta. Untuk masuk, pengunjung tidak dipungut biaya, hanya diminta mengisi identitas buku tamu dan membayar jasa parkir.

Sebagaimana fungsinya pada masa lalu sebagai tempat beristirahat, pesanggrahan ini dilengkapi dua kolam yang letaknya di tengah bangunan. Kedua kolam tersebut saling terhubung. Satu kolam berbentuk lingkaran dengan diameter 4,5 m, sementara yang lain berbentuk persegi berukuran 10 x 4 m. Di tengah kolam yang berbentuk lingkaran terdapat lingkaran kecil yang disebut-sebut sebagai sumber air.

Pesanggrahan Rejowinangun setelah dipugar.

Di situs ini juga bisa ditemui sejumlah lorong yang saling terhubung serta jendela atau pintu lengkung yang membuat bangunan semakin menarik. Sementara itu, di sisi selatan ada bangunan dua lantai. Dari bangunan ini, sebagian besar Pesanggrahan Rejowinangun bisa terlihat, dan sangat menarik sebagai tempat mengambil foto.

Mungkin karena masih baru, situs yang terletak tak jauh dari Kebun Binatang Gembira Loka tersebut tidak begitu ramai. Pesangrahan ini memang tidak sepopuler Pesangrahan Taman Sari yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Kondisi ini ada baiknya juga. Pengunjung bisa bebas mengambil foto atau menikmati suasana di bangunan kuno sambil mengenang sejarah masa silam.

LEAVE A REPLY

fourteen − one =